Showing posts with label Cho Kyuhyun. Show all posts
Showing posts with label Cho Kyuhyun. Show all posts

Wednesday, February 22, 2012

Actually That's You (10)

Menunggumu dan selalu menunggumu itu yang kulakukan alunan musik yang mengisi kekosongan hatiku terdengar seperti mendeskripsikan kesempurnaanmu. Seulas senyuman mampu membuatku ikut mengembangkan senyuman pula, gairah yang seperti itu tak mungkin bisa dihentikan jika bersamamu. Kalimat yang selalu memenuhi bibirku tak mungkin kuungkapkan ketika kau jauh dari sini. Senyuman setan yang sangat manis.

~ SNSD (Girls Generation) - Baby Baby ~

Hyejin's pov

Perasaanku menjadi super gelisah jika ingat bahwa nanti aku akan dikelilingi 12 namja plus 1 namja berotak setan yang sejak tadi fokus menatap jalanan, mata ini hanya mampu meliriknya dan mulutku semakin terkunci rapat walau hanya untuk berbasa-basi sedikit. dia duduk di belakang sementara aku duduk di depan bersama Donghae-oppa, helaan nafas Donghae-oppa membuat mataku berputar mengarah padanya
“Gwenchana?” Tanyaku
“anniyo, kenapa kalian saling diam? Bukankah kalian saling merindu?” Godanya, Kyu mencibirku di belakang sana, segurat senyuman sinis mampir di bibirku
“Sedikit rindu hanya 1 milimeter kadarnya” kataku singkat, sepasang mata melirikku tajam dan aku tau darimana asalnya dan itu alasanku untuk menoleh ke belakang dan mejulurkan lidahku membalas cibirannya tadi
“Mwoya?” Katanya ketus, pandanganku kembali ke depan sebenarnya mata ini masih betah memantulkan raganya namun jantungku tak bisa diajak kerja sama.
“Kibum-oppa tak ikut ke Yang Pyung?” Tanyaku, Donghae-oppa tersenyum tipis dia menoleh kearahku dengan tatapan aneh
“mollasseo.. Mungkin ikut”
“Kenapa kau tanyakan dia?” Sebuah pertanyaan yang penuh dengan emosi menuju kearahku
“Memangnya kenapa? itu hakku lagipula aku akrab dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama” penekanan pada kalimat terakhir itu membuatku yakin emosi Kyu sedikit memuncak walau hanya 1 tingkat, dulu kau yang sering membuatku kesal. Kini giliranku.

Kyuhyun's pov

Pemandangan berbagai jenis gedung bertingkat serta musik yang mengalun memasuki telingaku dari radio belum berhasil membuat perhatianku teralihkan sepenuhnya, suara yeoja itu terus memenuhi otakku serta isi e-mail dan keputusan semua hyung gilaku untuk mengajaknya ikut ke Yang Pyung semakin membuatku stres sendiri
“Kibum-oppa tak ikut ke Yang Pyung?” Pertanyaan itu sukses membuat tanganku mengepalkan sebuah tinju, hening sejenak si master akting itu entah ikut atau tidak, semoga saja tidak. Melihat wajahnya membuatku malas melakukan segala hal
“mollasseo.. Mungkin ikut”
Mungkin?? Ikan? Kau bilang mungkin?? akan kupastikan orang itu ketinggalan bis dan tak bisa ikut besok.
“Kenapa kau tanyakan dia?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja melalui lidahku, ada apa ini? aku menggali lubang kuburanku sendiri?!
“Memangnya kenapa? itu hakku lagipula aku akrab dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama”oke, jadi ini maksudmu Jinnie?? Kau benar, itu hakmu untuk menanyakan oppamu itu ikut atau tidak benar itu hakmu. Silahkan tanyakan sepuasnya mengenai Kibum pada ikan sarden itu aku akan segera menutup kedua telingaku agar pertanyaan aneh yang tak ingin kuungkapkan meluncur melalui lidahku lagi.

Pagi yang cerah dimana bis besar yang mengantarkan rombongan kelebihan hormone serta memiliki gangguan kesehatan jiwa ini ke Yang Pyung, mereka semua memiliki ciri-ciri seperti itu kecuali aku tentunya. Lihat saja namja berkepala besar itu membawa poster besar SNSD dan mengibaskannya ke depan bis. Si monyet datang, merebutnya lalu membawanya masuk ke bis, mungkin dia mau berbagi inspirasi Yadong bersama si sarden yang tanpa diperintah sudah masuk ke dalam bis. Bis berangkat tanpa 2 orang yang seharusnya ikut, oh tidak.. Hanya seorang yang seharusnya ikut naik di bis ini, kemana dia??

“Hyung, mana si bodoh?” Tanyaku pada siapa saja yang akan menyahutiku nantinya
“Dia meyusul nanti, waeyo? Kau mau menyusulnya ke ruang siaran?” Ejek si sarden diakhiri tawa yang lumayan keras lirikan tajam mungkin cukup untuk membungkam mulutnya itu.
Sungmin-hyung kini duduk disebelahku, menemani bermain game walau sebenarnya dia sangat payah ini sudah ke 6 kalinya dia kalah. Tunggu dulu, tak ada yang bisa mengalahkan GameKyu.


Hyejin's pov

Bis yang mengangkut 12 namja aneh itu mungkin sudah berangkat sejak tadi mereka meninggalkan aku, cih~ mereka itu mengajakku atau tidak? Sudah capek-capek datang kemari namun tak satupun dari mereka berkeliaran disekitar sini. Jika berniat duluan seharusnya beritau aku jadi tak perlu repot-repot bangun pagi, dan mengemas barang hingga larut malam.

15 menit duduk disini pasti berhasil membuatku terlihat seperti orang bodoh, megemut es krim di cuaca sedingin ini. Mobil biru keperakan berhenti di depanku, walau langit kelabu hari ini namun setitik cahaya matahari yang terpantul diatas mobil itu sukses membuatku harus menyipitkan mataku mengurangi silaunya.

“Kenapa kau masih disini?”
“Oppa?”

Author's pov

Dengan malu-malu Hyejin masuk ke dalam mobil Kibum, pertanyaan yang tadi Kibum tanyakan belum dijawabnya namun tak dibahas lagi, niat jelek si Setan meleset. Seharusnya meninggalkan Kibum, namun malah meninggalkan Hyejin.
Kepala Hyejin tertunduk sibuk beradu mulut via e-mail dengan si Setan. Katanya akan membuat terpesona Setan itu namun akhirnya adu argumen tak pernah bisa dihindari. Hyejin menekan keras tombol merah yang ada di ponselnya hingga home screen muncul, seulas senyuman terkembang sempurna di bibirnya.
“Foto siapa itu?” Tanya Kibum
“Setan sombong itu ketika ia dikerjai” jawab Hyejin sembari menunjukkan sebuah foto yang ia jadikan wallpaper tampak seorang namja dengan wajah masam duduk di depan laptop dengan memangku dagunya dengan sebelah tangan, symbol laptop terlihat begitu besar karena foto diambil dari belakang laptop.
“Haha, magnae itu dikerjai? apa tidak salah?” Tanya Kibum
“Kau tak tau itu karna jarang di dorm” sahut Hyejin, tangan kiri Kibum mendarat di puncak kepala Hyejin dan mengacak rambutnya pelan
“Ne, itu benar.. Mungkin karna aku jarang di dorm, oh ya.. Kau model CF kami kan? Haha syuting nanti pasti akan berjalan seru”
“Mwo? Bagaimana bisa? aku tak bisa akrobat. Tak mungkin seru”
“Dasar kau ini”

******

Satu-satunya pasangan yang tidak akur hanyalah Hyejin dan Kyu. Mereka saling memunggungi dan sibuk dengan aktifitas masing-masing. Kyu dengan game komputernya serta Hyejin dengan PSPnya. Siapapun yang melihatnya hanya mampu geleng kepala melihat betapa anehnya mereka berdua, Kyu memiliki alasan untuk kelakuannya namun dia tak mau mengungkapkannya itu hanya akan membuatnya harus memakai topeng seumur hidup. Cemburu melihat scene Kibum dan Hyejin yang begitu akrab dan menyenangkan berbanding terbalik dengannya yang begitu canggung dan memaksa sutradara meneriakkan kata `Cut` berulang kali.

“Sampai kapan kau begini? Cuma scene kita yang janggal” Hyejin bersuara membuat aktifitas Kyu terhenti sesaat namun Kyu bereaksi dengan membalikkan tubuhnya lalu memberikan senyuman sinis untuk Hyejin,
“Janggal? Itu wajar” katanya
“Jinjja?” Hyejin berucap dengan nada menantang dia menyodorkan kotak kecil ke depan Kyu dengan cepat Kyu merebutnya dan membuka kotak itu
“Neo..” Geramnya
“Kau yang bilang aku yang akan memilih cincin pertunangannya, itu pilihanku. Semoga kau suka.. Oh tidak! aku lupa, kita takkan bertunangan bukan? Kalau begitu ini untukku” tangan Hyejin bergerak bermaksud merebut kotak itu namun Kyu dengan cepat menyakukannya lalu kembali menekuri gamenya yang sempat tertunda.


Hyejin's pov

Malam hari yang begitu sepi untukku,
Kyu tak mau membuka mulutnya sekedar untuk berdebat denganku. Semuanya menjadi begitu asing untukku, apa ini dampaknya jika aku mengakui semuanya di depan Kyu? Seandainya saat itu e-mail yang kuketik tanpa urat malu sedikitpun tak terkirim mungkin takkan secanggung sekarang ini.
“Setan bodoh dengan hati yang dingin” lirihku pelan
“Siapa yang bodoh?” Suara itu tak asing ditelingaku, kutolehkan kepalaku cepat untuk memastikan tebakan indraku benar. Dan memang benar, Kyu berdiri di belakangku
“Kau” ucapku seraya menunjuknya
“heh, kau yang bodoh bukan aku” balasnya, kini namja itu berdiri di sebelahku ikut bersandar di pagar besi memandang langit hitam tanpa taburan bintang yang ada hanya kepulan awan yang terlihat keabuan.
“Ya, aku memang bodoh sudah menyukaimu” balasku, sepasang mata itu tak melirikku sedikitpun, namun ekor mataku menangkap senyuman tipis yang tersungging di bibirnya.
“Kita main kembang api ya? Seperti dulu” ajaknya tiba-tiba
“Mwo?”
“Kajja” tangan Kyu menarikku ikut berlari bersamanya, kebingungan melanda. Kenapa orang ini? Otaknya rusak mungkin..

Kutatap kembang api batangan di tangan kiriku dengan tatapan kosong. Hanya sinar itu yang terpantul di mataku. Memang indah, sangat indah, kembang api itu sudah terlihat seperti matahari yang menyinari sisi gelap bangunan tinggi ini. Kutengadahkan kepalaku, tak ada bintang malam ini.

“Kenapa kau ingin bermain kembang api hari ini? Belum masuk musim panas sudah main kembang api” kataku sepelan mungkin
“Dulu siapa yang menarik-narik jaketku di tengah hujan salju dan memaksa bermain kembang api sampai aku sakit esok harinya” ejek Kyu enteng, pipiku memerah mendengarnya. Itu aku. Esoknya, kuhampiri dia kerumahnya membawa uang ganti kembang api semalam. Mengingat itu semua, membuatku malu sendiri.
“Itu aku..” Bisikku
“Itu memang kau!! Baru sadar sekarang babo!! Sekarang temani aku sampai semua kembang api ini habis” nada suara Kyu naik menunjukkan betapa jengkelnya ia.
“Habiskan 3 bungkus besar itu?! Miccheosseo???” Balasku
“Siapa yang dulu begitu? Kau kan? Sekarang giliranku balas dendam!!”
“MWO?? Balas dendam?? Jadi kau tidak suka??!! Hah!!” nada bicaraku naik 1 oktaf
“Ne!! aku tidak suka, Bermasalah?” Balas Kyu, aku tak mampu membalas lagi. Yang bisa kulakukan cuma menggigit bibir bawahku menahan semua cacian yang sebentar lagi akan membanjiri mulutku.

Hening lagi,
Kyu dan aku tak berdebat lagi, desiran angin membuat wajahku terasa mulai membeku. Dingin sekali,
Juga malam ini menjadi malam tersepi seumur hidupku, ditambah lagi, ini adalah kembang api terakhirku, kutatap lagi wajah namja yang ada di depanku. Dia tak tersenyum, dia hanya menatap kembang apinya yang mulai kehilangan cahayanya sama denganku.

"Actually, people who makes me fallin love It's you" lirihku, Kyu mengangkat wajahnya mata itu menatap manik mataku tajam
“Kau bilang apa?” Tanyanya
“Jika kuberitau artinya kau akan menertawakan aku.. Jadi jangan harap kau akan tau artinya dari mulutku” ucapku
“Babo”


Mereka berjalan beriringan melintasi jalanan sepi dan gelap dimana di tepinya ditumbuhi pepohonan hijau yang bergerak ditiup angin lembut yang berhembus perlahan seperti nafas Kyu yang berubah menjadi kepulan asap ketika menyentuh atmosfir udara.
Hyejin menggosok-gosokkan kedua tangannya mencari kehangatan diantara dinginnya angin yang membelai wajahnya lembut. Kyu meliriknya sebentar lalu melepaskan syal biru yang ia gunakan kemudian dikalungkannya syal itu ke leher Hyejin, Yeoja itu sedikit tersentak begitu tangan dingin Kyu menyentuh tengkuknya dan dengan mudahnya mengalungkan syal rajutan itu ke lehernya.
“Mwo?” Katanya setengah berbisik begitu wajah Kyu berhenti di depan wajahnya, tak ada sebuah ekspresi yang muncul kecuali wajah datar dan tatapan dingin namun belum bisa mengalahkan dinginnya cuaca saat itu. Kyu belum menjawab barang hanya 1 kata saja, namun jarak antara wajah Hyejin dan Kyu semakin menipis, Hyejin menutup matanya perlahan. Salju turun perlahan menambah rasa dingin yang sudah menyelimuti terlebih dulu. Kyu menciumnya, dibawah sinar lampu jalanan yang temaram dan sedikit redup, Hyejin melepaskannya duluan raut gugup bisa langsung tertangkap hanya dengan sorot matanya.
“Kau sedang apa? apa maksudmu?” Tanya Hyejin seraya melap bibirnya yang dijamah Kyu sebentar.
“Nado Saranghae” bisik Kyu tepat ditelinga Hyejin, yeoja itu membeku sesaat matanya membesar dengan satu sentakan tangan Hyejin mendorong tubuh namja yang berada di depannya dengan kasar
“MWOYA??” Jeritnya, Kyu tersenyum penuh arti lalu melangkah pergi meninggalkan Hyejin, yeoja itu masih melongo tak percaya dengan apa yang baru terjadi barusan. Semua terjadi dengan cepat dan singkat, tangan Hyejin meraba bibirnya yang masih terasa lembab. Punggung Kyu yang semakin menjauh terlihat kosong membuat Hyejin berlari cepat menyusulnya dan menyamakan langkah.

Hyejin's pov

Namja itu memberikan bonus menyeramkan lagi, ini sudah kedua kalinya dia memberikan hadiah ciuman di bibirku!! Sial!! Bayangannya menghantui otakku, dan sialnya namja itu berdiri tepat disampingku. Tak perlu membayangkan, meliriknya saja bisa membuat jantungku meloncat ke luar angkasa.

“Miccheosseo?? Cho Kyuhyun?? Kau itu benar-benar membuatku gila malam ini.” Geramku
“Mwo? Waeyo? Aku tak bersalah sama sekali kenapa kau begitu”
“Maksudmu apa?? `nado saranghae` kau....” Kalimatku terputus Kyu langsung menutup mulutku dengan tangan kirinya dengan cepat.
“Jangan salah paham, aku sama sekali tak bermaksud untuk mengatakan hal itu.. Mataku sudah rusak malam ini sehingga kau cantik dimataku. Jadi mulutku mengucapkan kalimat yang tak kuhendaki” jelasnya panjang lebar namun dengan nada yang sangat tenang seperti tak terjadi apapun sebelumnya. Kugembungkan pipiku kesal, lalu melepaskan tangan Kyu kasar mempercepat langkahku meninggalkannya di belakang.

Jalanku terhenti begitu tak mendengar langkah kaki yang seharusnya mengikutiku, kubalikan badanku cepat dan mendapati sosok monster bertubuh hitam yang menyeramkan. Aku menjerit sekuat mungkin,
“Hahahahahahahahaha!!!!”
Mwo? Chakkaman.. Suara itu.. CHO KYUHYUN!!!!!!
Kupukul kepalanya dengan tas kecil yang kusampirkan dipundakku membuat monster setan itu menjerit kesakitan, semakin sering dan keras ia menjerit semakin ingin aku membalaskan dendam jantungku padanya. Setan ini memang benar-benar keterlaluan. Membuat siapapun ingin membunuhnya, dan itu memang tujuanku membuatnya mati dengan seluruh corak lebam yang berwarna-warni di wajahnya.
“Appo!!” Kyu membuka topeng mengerikan itu dan menahan tanganku dengan tenaga laki-lakinya yang kuat itu. Suasana hening sejenak, kulepaskan genggaman tangannya kasar lalu berbalik tak berani menatap wajahnya lagi.
“Wae? Kau takut semakin terpesona dengan ketampananku ini?” tanyanya dengan nada menyindir
“Anniyo, bukan itu.. Wajahmu sama sekali tak mempesonamu.. Yang kusuka darimu itu...” Kalimatku terhenti lagi, entah detik keberapa Kyu sudah berdiri di sebelahku dia memasangkan lingkaran perak dijariku. Itu cincin yang kukembalikan padanya tadi siang. Kyu tersenyum kemudian mengangkat tanganku dengan senyuman yang benar-benar manis
“Mulai malam ini kau milikku seutuhnya, jika kau berani melepaskannya maka akan kupastikan kau tenggelam di samudra atlantik” ancamnya, entah kenapa sebuah senyuman malah tersungging di bibirku begitu kalimat yang sama sekali tak romantis itu mendengungkan gendang telingaku.

Kyuhyun's pov

“Mulai malam ini kau milikku seutuhnya, jika kau berani melepaskannya maka akan kupastikan kau tenggelam di samudra atlantik” ancamku, senyuman bodoh mengembang di wajahnya. Aku mengelus puncak kepalanya pelan, lalu melengos pergi meninggalkannya di belakangku, begitu melewati lampu jalanan kutunjukkan cincin yang juga terpasang di jari manisku, lalu melanjutkan langkahku, beberapa saat kemudian sebuah tangan mengamit lenganku cepat membuatku hampir mati jantungan, dan aku tau siapa ini.
“Kau ini bisa pelan-pelan tidak!! Kau membuatku jantungan tau!!” Omelku sembari meronta melepaskan pelukaannya di tanganku
“Oppa, walau kau menyebalkan, ternyata kau sangat-sangat baik, neomu johae untuk hadiahnya oppa” katanya dengan nada memanja
“Cheonmaneyo”

Villa kecil dimana dulu Hyung-hyung gilaku melakukan Syuting Full House, kembali penuh namun kali ini bisa dibilang over load. Plus satu yeoja asing yang sumringah semenjak kusematkan cincin di jarinya, berlaku sok akrab dan manja. Cih~ seperti inilah Jinnie yang selalu membuat berisik masa SMPku. Bertemu dan bertengkar di halaman pembatas antara SMPku dan dia, bertanding game dan aku memang selalu menang. Sudah kubilang kan? Tak ada yang bisa mengalahkan GameKyu.

“Kyu, mengapa Dongsaengku bahagia sekali malam ini? Kau memberinya racun apa lagi? Atau kau memberikan obat penenang terlalu banyak?” Bisik monyet liar ini begitu berhasil menyingkirkan Kangin-Hyung dari sampingku, aku diam tak menjawab dan sebenarnya aku sangat malas menjawab pertanyaan tak berotak itu.
“Kyu!!” Tangannya mengguncang-guncang tubuhku kuat-kuat, mengganggu konsentrasi saja
“Minggir babo!! Kau tak lihat aku hampir menang!!” Omelku, monyet gila itu seenaknya menyentuh laptopku dan meng-exit game yang hampir kumenangkan.
“Yak!! Baboya!!!” Teriakku begitu game terexit sepenuhnya
“Jawab pertanyaan Hyung-mu ini dulu, ini menyangkut kewarasan dongsaeng kesayanganku” katanya, sebuah bantal sukses mendarat keras di kepalanya. Tawaku tertahan begitu melihat siapa pelakunya
“Oppa!! Kau bilang apa?? Kewarasanku?? Kau pikir adikmu ini sudah gila? HAH!!” Teriaknya memekakan telingaku
“Aaa... Mianhae,”
“Mianhae?? Kau bilang Mianhae????” Hyejin menyabet kepala monyet gila itu dengan bantalnya, namun sabetan bantal itu tak berhenti di kepalanyaa saja, bantal itu ikut menyabet kepalaku juga
“YAK!! Apa salahku??”

******

Malam terasa begitu sunyi hari ini. Suara angin yang menembus dedaunan pun tak terdengar lagi, jam menunjukkan pukul 11 malam dan hanya aku yang masih terjaga, bukan bermain game. Suara 2 orang yang tengah mengobrol membuatku terjaga, siapa lagi jika mereka bukan Kibum-hyung dan si bodoh Hyejin. Sesekali terdegar kekehan dan rengekan frustasi Hyejin, sedang apa mereka?? Mataku menangkap keduanya berbincang di ayunan kayu yang berada di depan villa. Akrab sekali.

Hyejin's pov

Keadian semalam masih membekas di ingatanku, seperti baru terjadi beberapa detik yang lalu.

“Jeongmal Saranghaeyo, Lee Hyejin”

Kalimat yang diucapkan Kibum-oppa semalam menjadi bumerang sendiri untukku, ditambah lagi namja itu mengecup kelopak mataku sebagai bonus kegelisahanku pagi ini.

"Tumben, pagi-pagi seperti ini kau berada di dapur, tak biasanya" ujar seorang namja dari arah belakang, yang membuatku terkejut. Aku membalikan badanku dan memandangnya, kulemparkan senyuman jail padanya
"Tak ada, aku hanya ingin buatkan kau sarapan" jawabku, aku kembali sibuk dengan peralatan masak di depanku

"Kau?? Memasaak?? Apa aku tidak sedang bermimpi?? Apa kau sedang sakit???"
"Memangnya salah ketika wanita memasak??" Aku menyipitkan mataku dan menatapnya sinis. Tak mengertikah kakak bodohku ini?

Sarapan berlangsung sepi, sebenarnya hanya antara aku, Kibum-oppa, dan si Setan. Kenapa dia diam saja sejak tadi?? Kenapa tak satupun kalimat pemicu adu mulut keluar dari mulutnya?

Selesai sarapan, aku membantu Wookie yang tengah mencuci piring sebagai hukuman kalah bermain game sederhana tadi, hanya dia yang menyuruhku tak memanggilnya oppa, dia bilang ` tak usah seformal itu denganku ` entah maksudnya dia tak ingin terlihat tua untuk mempertahankan posisi eternal magnaenya.
“Wookie, setan itu dimana?” Tanyaku di tengah kesibukan mengeringkan piring yang sudah dibilas
“Mollasseo, tadi dia juga mencarimu. Hari ini dia terlihat begitu malas dan kesal, kalian bertengkar lagi?”
“Tidak, mungkin dia kalah main game” jawabku asal, Wookie berhenti beraktifitas sejenak
“Masuk akal” katanya


Ponselku bergetar menandakan sebuah e-mail masuk, senyuman mengembang di wajahku begitu melihat dari siapa e-mail itu, Kyu memintaku menemuinya di kolam ikan dekat villa. Karna tak tau dimana tempatnya aku meminta Kibum-oppa mengantarku, begitu sampai aku menuruni undakan tangga dan mendekati seorang namja yang duduk memunggungiku
“Kyu” panggilku, wajah itu tak menoleh tak memberikan pemandangan indah terpantul di mataku, aku duduk disampingnya mengamati keindahan susunan batu buatan yang di depanku, serta menikmati suara riak air yang diakibatkan pergerakan ikan di dalamnya
“ada apa memanggilku?” Tanyaku, hening. Dia tak menjawabnya
“Chukkae” katanya singkat
“Mwo?”
“Selamat untuk pernyataan cinta dari hyung”
Tubuhku membeku sesaat, detakan jantung tak mampu kurasakan lagi, dia tau??
“Jawabanmu anggukan kan? Kau ingkar janji” lanjutnya diakhiri seulas senyuman yang membuatku merinding, aku memang mengangguk malam itu.
“aku tidak ingkar janji!!” Kataku akhirnya, Kyu menghela nafasnya, dengan cepat tangannya merebut cincin yang melingkar di jariku dan melemparnya ke tengah kolam. Mataku membulat begitu cincin itu mendarat entah di mana. Kyu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkanku yang diam membatu menatap tempat yang berkemungkinan cincin itu mendarat. Dengan satu sentakan aku meloncat memasuki kolam ikan yang lumayan kotor itu, meyibakkan air untuk mencari cincin yang dibuang Kyu
“JANGAN MENCARINYA BABO!! KAU TAK CUKUP PINTAR UNTUK MENCARI BENDA ITU!!” Teriak Kyu, kubalikan badanku, sepasang mata Kyu menatapku murka
“KAU YANG TERLALU BODOH UNTUK MEMBUANGNYA” teriakku frustasi
“TERSERAH!!”


Geu namja ga... Kenapa dia seenaknya saja? Hah?? Kemana sebenarnya otaknya bertumpu? Baru sebentar saja kami akrab dan hanya karena kesalahan bodohku kami bertengkar, air mataku tak mampu meleleh setitikpun aku hanya mematung melihat namja bodoh yang kusukai itu melangkah pergi dengan emosi meledak-ledak.

“CHO KYUHYUN!!!!” Jeritku memanggilnya, dia tak berbalik sedetikpun bahkan melirikku pun tidak. Eottokehyo?? kuistirahatkan kakiku yang sudah kelelahan menompang tubuhku yang semakin melemas menyadari semakin jauhnya punggung Kyu dengan duduk di salah satu batu buatan yang ada di dalam kolam ikan itu.
“Kau bodoh Jinnie” bisikku pada hati, dasar kolam tak terlihat karna ada lumut yang meghalanginya, gemiricik air menemani sunyinya hari ini. Langit berbanding terbalik dengan suasana hatiku, cerah sekali.. Namun, itu belum cukup untuk membuatku ikut merasakan hangatnya matahari yang seharusnya menghangatkan hatiku.
“Kenapa kau mengangguk Jinnie~ya?? Jika akhirnya kau menjawab tidak?? Ne?? Jinnie~ya..” Bisikku lagi, aku medesah sembari melihat sekeliling. Sepi. Kakiku menendang permukaan air kencang hingga menciptakan ombak besar dan cipratan air yang ikut membasahi bajuku, aish.....Jinjja..
“Mwo? Hyejin??” Oppa?? Kutolehkan wajahku dan memang oppaku berdiri disisi kolam,
“apa-apaan kau?? Di Villa kita punya bathtub, di dekat rumah juga ada kolam renang.. Kenapa kau berena disana?? Kemari Yeodongsaeng babo!!”
“aku mecari sesuatu oppa!!!” Teriakku gusar, kedua alisnya bertemu raut bingung mulai terpancar dari wajah bodohnya
“Kemari!!” Teriaknya memaksa, aku mengalah dan mengikuti maunya. Baru beberapa detik tiba di tepian namja gila yang sayangnya harus kupanggil oppa ini langsung menjitak kepalaku
“Oppa!!” Protesku, dia menyeringai nakal
“Ya!! Miccheosseo?? Pulang!!” Tangannya menarikku keluar, jika ia sudah marah seperti ini sulit untuk melawan akhirnyapun ia akan mengadukan tingkahku ini pada appa, aku menurut dan keluar dari kolam
“Oppa, kau mau kemana? Kenapa membawa jaring?” Tanyaku
“aku Kibummie, dan Yesung-hyung oh ya, dan Hae akan memancing, daripada kau mencari hal tak penting di kolam itu lebih baik ikut bersenang-senang denganku” ajaknya, mataku menyipit mendengarnya bicara
“Bersenang-senang?? apa senangnya menunggui ikan datang menyantap umpanmu oppa??” Tanyaku dengan nada malas
“Sudahlah.. Daripada kau seperti orang gila berkeliaran di tengah kolam ikan bodoh itu”
Kulemparkan pandanganku ke samping tak tertarik sama sekali, Tunggu dulu.. Jika Kyu marah itu artinya.... Senyuman mengembang begitu saja begitu sebuah jawaban mampir diotakku secara tidak sengaja
“Ne, oppa aku ikut, tapi bisakah aku pinjam jaringmu nanti?”


Kyuhyun's pov

Jemariku bermain asal diatas piano kecil yang ada di studio tempatku dan semua Hyung ku sering membuat lagu dan berlatih, kenapa aku gelagapan sendiri? cemburu? mungkin bisa jadi itu jawabanku untuk tingkahku yang seperti orang gila tadi. kertas yang kuremukan tadi kembali kupungut, irik lagu saram. teringat lagi dengan omelan Yesung hyung
”kau ini jika ada yang mau kau menyanyikan sebuah lagu kenapa tak diterima?? apalagi ini lagu yang bagus!! apa kau ini tak punya otak??“
kurasa namja aneh itu sudah menjadi penggemar lagu Saram. kudengar semenjak lagu itu dinyanyikan olehnya , lau itu laris manis dan akan dijadikan soundtrack sebuah drama baru. aigoo~ apakah ini tanda bahwa Hyung ku itu berniat menaikkan popularitasnya dengan lagu buatan si bodoh itu? cih... seharusnya aku yang menyanyikan lagu itu bukan dia, seandainya aku menerima lagu itu, apa yang akan terjadi ya??
jemariku memainkan intro lagu Saram tanpa perintah otakku, sebenarnya aku menyukai lagu ini. liriknya sederhana namun membutuhkan sesuatu yang unik untuk menyanyikannya, jika tidak inti lagu takkan sampai ke pendengar dan hasilnyapun akan jadi jelek. itulah alasanku menyukai lagu ini, yeoja itu....


“eh, kukira kau sedang mengobrol bersama Hyejin”
kepalaku berputar mencari sumber suara yang mengucapkan kalimat itu, mataku menangkap seorang namja yang berhasil membuat darahku naik sampai ubun-ubun, menghindari terjadinya sesuatu yang tak kuinginkan untuk menjaga imej Super Junior aku segera meraih tasku dan berjalan melewatinya dengan cepat, bahuku sempat beradu dengan bahunya sedikit.
“dimana dia sekarang ? kau memarahinya bukan?” katanya ketus, tanpa menghentikan langkahku dan memberikan sebuah jawaban aku berjalan menuju parkiran, masuk kedalam mobilku dan melajukannya kencang di jalanan yang sepi, jangan tanyakan kemana tujuanku, karna akupun tak tau akan kemana aku ini.

“yeoboseyo, Hyung.. kau dimana? aku mau bicara sebentar.. memancing? astaga... mana ada monyet memancing.. Monyet itu kerjanya hanya makan pisang Hyung.. omo, omo.. ne, arraseo.. aku kesana?? MWO?? Andwae, aku ke villa saja.. Hyung!! Shireo!!"
si bodoh itu disana?? dia pasti mengadu, Sial.. iiiissshh..

******

selesai memakirkan mobil aku mengendap-endap melalui jalan belakang mendekati 4 orang yang sibuk berteriak-teriak menyemangati si monyet yang mendapatkan ikan.. dasar geng rusuh, ekor mataku menangkap sebuah jaring yang menganggur bersandar di dekat pohon, itu memancing otak setanku untuk terbangun. kuraih jaring itu lalu menyembunyikannya di balik punggungku, aku mengendap-endap kebelakang salah seorang diantara mereka yang kukira itu Yesung-hyung, namun setelah kusangkutkan jaring keatas kepalanya, suara jeritan itu berhasil membekukan sistem syarafku juga berhasil mendiamkan semua orang yang tengah sibuk meneriakan kata “Semangat!” Hyejin???

Hyejin's pov

AAAA!!! CHO KYUHYUUUNN.... Aku benar-benar ingin melahap otakmu sekarang juga, kau benar-benar menyebalkan!!! Ish, sungguh mengesalkan mengetahui bahwa kau yang iseng menyangkutkan jaring bekas ikan itu di atas kepalaku. Aku melipat kedua tanganku di depan dada dengan pipi menggembung, dia sudah membuatku semakin naik darah setelah mengingat kejadian tadi, dimana dia dengan seenaknya membuang cincin pemberiannya sendiri. Aigoo~ namja itu sungguh menyebalkan!!
“Cih... Kau ternyata memang benar-benar bodoh” cibirnya, mataku membulat begitu mendengar kalimatnya.. Bodoh? Astaga, kau sedang menguji kesabaranku? Benarkan Cho Kyuhyun? Cih
“Mwo?? Bodoh? Bukankah kau yang bodoh?” Tanyaku dengan nada bicara yang sengaja kutinggikan
“Kau yang bodoh.. Bukankah kau bilang kau sedang mencari cincin tak berharga itu? Hah?”
Mataku bergerak cepat dan berhasil menangkap bulatan perak yang masih tersemat di jari manis Kyu, sebuah senyuman sinis kukembangkan menunjukkan apa yang akan aku ungkapkan selanjutnya
“Cincin yang mana? Ooh.. Yang sedang kau pakai itu ya?” Kataku enteng diakhiri senyuman sinis, Kyu menyembunyikan cincin itu dengan mengepalkan tangannya. "kenapa disembunyikan?" tanyaku sinis, Kyu mendesis pelan tanpa menoleh Kyu meninggalkan aku
"kau belum tanggung jawab atas perbuatanmu!!"
"perbuatan apa? aku tak melakukan apapun" namja itu membela dirinya
"tadi kau menyangkutkan jaring ke atas kepalaku!!" kataku, memang kesannya menunjukkan sisi keras kepalaku namun, bagaimana pun Kyu harus mengikuti rencanaku yang satu ini.
“baiklah, apa maumu?” tanyanya, dagunya terangkat menunjukan dia seperti sedang menantangku sekarang
“cari cincin yang kau buang di kolam tadi sampai ketemu!” seruku tak mau kalah, namja itu memamerkan senyuman evilnya, dia merogoh saku celana hitamnya dan menunjukkan seuntai kalung yang membuatku terbelalak melihatnya, bandul yang menggantung disana itu cincinku!! Ternyata dia tak membuangnya sama sekali, dugaanku benar. Pantas saja dia bilang aku terlalu bodoh untuk mencarinya, jadi selama ini dia meyimpannya dan berpura-pura membuang cincin itu. Untung saja aku memikirkan cara itu, jika aku tak memiliki ide seperti ini mungkin aku sudah kelihatan seperti orang bodoh mencari-cari cincin itu di dalam kolam ikan yang lumayan luas.
“sudah kuduga kau menyimpannya, untunglah aku sempat memikirkan cara ini” kataku seraya meraih kalung berbandul cincinku, sedikit lagi aku berhasil meraihnya tangan Kyu dengan cepat menjauhkannya dan kembali menyakukannya.
“nanti juga kau akan mendapatkan yang lebih bagus dari Kibum-hyung untuk apa meminta cincin ini kembali” tanyanya dengan nada dingin
“kau sudah memberikannya padaku, berarti itu milikku, aku punya hak penuh atas cincin itu”
“benarkah ??? sekalipun kau sudah menganggukan kepalamu untuk menjawab pernyataan cinta Hyungku?”
Pertanyaan itu membuatku membeku tak berani menjawab lagi, sebenarnya bukan tak berani namun lebih takut untuk menjawab, setan ini bisa mengartikan segala kalimat ke arti yang salah dan sama sekali bukan maksudku. Sekarang bagaimana?

Author’s pov

Tanpa menunggu jawaban dari mulut Hyejin, Kyu melangkahkan kakinya meninggalkan Hyejin yang masih berdiam diri tanpa mengucapkan kalimat perpisahan sedikitpun. Yeoja itupun tak menghalanginya sama sekali. Menyesal dan bingung itu yang Hyejin rasakan ada orang yang menunggu jawabannya, jawaban dari pernyataannya yang cukup gila disisi lain ada juga orang yang sudah tak menganggapnya lagi. Setidaknya itulah yang sedang ia perdebatkan dalam dirinya sendiri, memilih antara yang baik dan perhatian padanya, atau memilih orang yang lebih sering membuatnya naik darah dan memiliki lidah tajam. Tangan Hyejin bergerak cepat meraih ponselnya dan mengetik sebuah e-mail dengan cepat, kurang dari semenit kemudian e-mail itu sudah terkirim pada penerimanya, Hyejin menghela nafasnya panjang lalu berlari meninggalkan tempat dimana ia berdiri tadi, satu tempat tujuan yang menjadi tujuannya kini.

To : Kibum-ssi

Kibum-ssi, kau tak ingin kupanggil oppa juga kan? Aku sudah menurutinya, sekarang aku punya permintaan untukmu, bisakah kau mengabulkannya? Kita bertemu di depan villa saja sekalian menunggu oppa selesai membakar ikan bakarnya. Bisa kan?

“aku lapaaaaarrrr….” Donghae menjerit seperti orang gila sembari mengacun-acungkan gelasnya yang berisi air putih lalu meminumnya, merasa ada yang aneh dengan rasanya, Donghae menyemburkan apa yang baru ia minum hingga mengenai Kangin yang sibuk membaca majalah, merasa ak terima Kangin melirik Donghae tajam,Donghae tersenyum manis lalu berlari menyelamatkan dirinya dari amukan beruang raksasa yang sudah membidiknya sebagai mangsa makan malam
“LEE DONGHAE!!!!” teriak Kangin yang terdengar hamper ke segala arah, dan mencuri perhatian semua orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing, tawa memecah begitu saja begitu mereka mengetahui apa yang terjadi sebelumnya, Siwon tertawa sembari menepuk-nepukkan tangannya. Orang yang satu itu memang seperti itu, hal-hal yang tak begitu lucu sebenarnya pasti ia tertawakan sambil bertepuk tangan sendiri.

“ikan itu akan kehilangan nyawanya nanti, akan kupastikan hal yang satu itu” ucap Kangin geram akan tingkah adiknya yang satu itu, tak pernah ada obatnya ataupun penangkal apalagi pawangnya. Hyejin menawarkan handuk untuk membersihkan baju Kangin sambil menahan tawanya setelah melihat korban dari dekat, Donghae memang selalu tau bagaimana caranya melawak walaupun itu tak lucu, tapi Hyejin tau sebenarnya itu disengaja, Donghae memasukan cuka ke dalam gelasnya sendiri, meminumnya dan menyemburkannya pada siapa saja yang ia anggap sangat pantas untuk menjadi korbannya hari itu.

“ngomong-ngomong kau cium bau aneh?” Tanya Kangin bau cuka mulai mengelilinginya, dan semakin membuat Hyejin tak sanggup menahan tawanya, itu sangat lucu baginya.
“tidak oppa, kenapa memangnya?” Tanya Hyejin berlagak bodoh padahal dia salah satu dalang dalam tingkah Donghae tadi, “kau sekongkol dengannya?” Tanya Kangin begitu menyadari ada yang aneh dengan tingkah Hyejin yang sering menundukkan kepalanya
“mianhae oppa” Hyejin membungkukkan badannya satu detik kemudian ia berbalik dan pergi menuju halaman depan dimana semua orang berkumpul dan membakar ikan hasil tangkapan tadi, kurang satu orang. Itu kata yang pertama kali Hyejin ucapkan begitu menghitung segerombolan namja yang mengerubungi meja kayu dan pemanggang, hanya ada 10 orang, jika Kangin sedang mengganti bajunya dan merencanakan rencana pembalasan dendam pada Donghae maka yang tidak ada selain dia adalah Kyu, kemana dia? Saat Hyejin bertanya pada Heechul, bukannya mendapatkan jawaban yang ada hanyalah Hyejin mendapati 2 orang gila yang tengah menjadi presenter berita dengan ketimun yang dijadikan mik, siapa lagi jika mereka bukan Heechul dan teman sesame berotak sinting namun sayangnya dia berstatus sebagai kakak Hyejin selain Eunhyuk?
“kalian itu gila?” Tanya Hyejin
“kurasa kau yang gila bukan kami” jawab Eunhyuk enteng, Hyejin melemparkan potongan ketimun kearashnya sebagai sebuah balasan.
Mata Hyejin melirik seorang namja yang sibuk membalik-balikkan ikan yang tengah di bakar, Kibum. Satu permintaanya yang Kibum pastikan akan ia kabulkan malah membuat Hyejin takut mengungkapkannya, berkali-kali ia bertanya pada hatinya untuk menungkapkannya atau tidak. Namun jawabannya kosong, mereka bertemu pandang, Hyejin segera mengalihkan pandangannya berharap takkan bertemu pandang dengan Kibum.

***
“kenapa kita menyepi begini? Kau cuma mengungkapkan permintaanmu padaku kan? Bukan memberikan jawaban atas pernyataan cintaku yang gila itu?” Tanya Kibum, Hyejin tersenyum kecanggungan kembali menghampiri dirinya, seluruh keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak tadi kembali tertutupi oleh kecanggungan dan perasaan malu takut salah bicara nantinya.

“tak usah kau jawab, anggukan itu sudah kujadikan gambaran untuk jawabanmu ya kan? Aku sudah tau jawabanmu dan aku cuma mengungkapkannya tapi tak mengharapkan jawaban sama sekali” ucap Kibum diakhiri seulas senyuman manis, Hyejin menolehkan wajahnya cepat. Kenapa mengungkapkan pernyataan itu jika tak menginginkan jawabannya? Tanyanya dalam hati
“Kyu kelihatannya marah karena aku” lanjut Kibum
“itulah permintaanku oppa, kau minta maaflah padanya” sambung Hyejin cepat, Kibum menoleh sebuah senyuman masih melekat di wajahnya Hyejin mencari arti dari senyuman itu dengan menatap manik mata Kibum, menyelam kedalamnya hanya untuk mencari sebuah arti yang ia harapkan.
“aku sudah melakukannya, tepat sebelum kau memintanya.. aku tau ini kesalahanku, tapi aku tak tau magnae itu sudah memaafkan aku atau belum, kau tau kan bagaimana sikapnya?” Hyejin mengangguk setuju
“dia itu orang yang sangat rumit, tapi itulah yang membuatku menyukainya”

***

Semua orang sudah berkumpul di halaman depan, besok adalah pengambilan gambar kedua setelah kemarin, sekaligus pengambilan gambar terakhir. Mereka saling bersulang tertawa, dan bercanda, ditambah saling menyindir sampai ada salah satu diantara mereka merasa tersinggung dan diam tak bergabung dalam keributan, namun itu tak berlangsung lama melihat yang lainnya tertawa orang yang tersinggung tadipun ikut tertawa dan menjadikan kerecokkan itu sebagai ajang balas dendam. Hanya satu orang yang kelihatannya tak tertarik sama sekali dia hanya sesekali tertawa dan ikut mengemukakan ejekannya sisanya ia sibuk memainkan ponselnya. Dia Kyuhyun. Dia juga mengacuhkan yeoja yang duduk di sampingnya, menunggu untuk membuka percakapan namun selalu gagal karna disaat ia akan membuka mulut Kyu sibuk tertawa atau ikut menyindir hyungnya yang lain.

“kau dengar aku Cho Kyuhyun???” Tanya Hyejin, kesabaannya sudah hampir habis menghadapi tingkah Kyu yang seharusnya sudah ia kenali, sikap menyebalkan dan selalu menantang kesabarannya.
“aku sama sekali tak mendengarmu, dan kuharap aku takkan pernah bisa mendengarmu” jawabnya enteng
“kau menyebalkan ya”
“kau baru menyadarinya? Jinnie?”
“berhenti memanggilku begitu!!! Aku bukan anak kecil lagi!!”
“kau memang bukan anak kecil tapi kelakuanmu seperti anak kecil, tak pernah beranjak dewasa masih saja seperti ketika SMP dulu, kau menanyakan golongan darahku untuk membaca ramalan jelek tentang golongan darahku”
“kau masih ingat itu?”
“tentu saja”
“dan kau juga masih tetap sama seperti ramalan itu, masih menyebalkan dan selalu bertengkar denganku, aku heran kenapa aku harus bertemu dan menyukaimu”

Kyu tak membalas lagi kini, dia sibuk berbincang dengan lawan bicaranya di telepon, Hyejin yang sudah habis kesabarannya, meninggalkannya dan melangkah menuju kamarnya. Tak tahan dengan keramaian yang terkesan sama sekali tak ada artinya.

“Hyung,” Kyu memanggil semua kakaknya setelah menyelesaikan teleponnya, dari semuanya hanya Leeteuk yang menoleh dan menanyakan ada apa. “ aku harus kembali ke Seoul, Noona ingin bertemu denganku, mungkin besok aku tak bisa ikut pengambilan foto bisa kau bicarakan itu?” Tanya Kyu, Leeteuk tak mengangguk sama sekali, namun senyuman yang mulai mengembang mewakili jawabannya “kau sudah telepon managermu?” Tanya Leeteuk, “aku bisa lakukan selama di perjalanan nanti” jawab Kyu
“kau naik apa? bawa mobil?” tanya Donghae yang ternyata mendengarkan percakapan mereka, Kyu menggeleng pelan
“aku bisa naik kereta setelah menyamar nanti” jawab Kyu
“hati-hati di jalan, pakaian sudah kau bereskan? Jika belum aku akan membantumu” tawar Donghae dia menepuk pundak Kyu dengan seulas senyuman menandakan bahwa Kyu bisa mempercayainya
“tidak usah, aku sudah menyiapkannya, sebenarnya Noonaku sudah memintaku pulang tadi siang namun aku lupa membertaukannya”
“ya sudah, hati-hati, berpamitanlah pada Hyejin.. jangan lupa itu” pesan Leeteuk, Kyu hanya tersenyum, dia melangkah memasuki bangunan kecil bercat putih itu, dia mendapati Hyejin tengah menonton TV. Kyu menghela nafasnya lalu masuk ke dalam kamarnya, setelah mengambil tas ranselnya Kyu keluar dari kamar, tak ia dapati sosok yeoja yang tadi duduk menonton TV namun tak lama Kyu mendengar suara pintu tertutup, dia tersenyum menatap pintu bercat coklat tua yang baru saja tertutup tadi, dia melangkah keluar setelah berpamitan dengan semua kakaknya, Kyu melangkah perlahan meninggalkan villa dimana seharusnya ia masih menginap disana 1 malam lagi. Selama perjalanannya menuju stasiun Kyu menekan sederet nomor dan menekan tombol ikon menelepon lalu mendekatkan speaker ke telinga kanannya.

“Yeoboseyo~” ucap seorang yeoja di sebrang sana, sebuah senyuman Kyu kembangkan begitu suara itu menggetarkan gendang telinganya
“kau berhasil, Chukkae” ucapnya singkat “kau berhasil membuatku mengakui bahwa selama ini aku menggilaimu, aku tau selama ini aku menutupinya dengan kata-kata kasar. Mianhae”
“apa maksudmu?” nada suara dari yeoja itu merendah Kyu terkekeh pelan, dia mengambil nafas panjang dan menggumamkan sebuah lagu


Na wiroweodo dwae neol saengkhakhal ddaen
Misoga na ye eolgure beoncheo
Na himdeureodo dwae niga haengbokhal ddaen
Sarangi nae mam katooki jaewo

( Tidak masalah jika kukesepian. Setiap kali aku mengingatmu
Senyum menyebar di wajahku
Tidak masalah jika kulelah. Setiap kali kau senang
Hatiku penuh dengan cinta)

Oneuldo nan ggeochin sesangsoge saljiman
Himdeurodo noon kamoonmyeon ni moseubpoon
Ajikdo gwikka ye deulryeo oneun goomdeuri
Na ye gyeottaeseo neol hyanghae kago ittjana

(Hari ini aku bisa hidup di dunia yang keras lagi
Bahkan jika kulelah, ketikaku menutup mata, yang kulihat hanya bayanganmu
Mimpi yang masih terngiang di telingaku
Apakah yang membuatku meninggalkanmu?)

Nae salmi haruharu goommeul gooneun geotcheoreom
Neowa hamkke majubomyeon saranghal soo ittamyeon
Dashi ilreosol geoya

(Setiap hari hidupku seperti mimpi
Jika kita dapat melihat satu sama lain dan saling mencintai
Aku akan berdiri lagi)

Na ye ge sojoonghaetteon ki yok sogge haengbokdul
Himdeul shigan sogeseodo deowook ddasoohae doen
Himangeun naegen chamdeulji ahneun goom

(Bagiku, kebahagiaan kenangan berharga
Akan lebih hangat selama masa-masa sulit
Bagiku, harapan adalah mimpi yang tidak pernah tidur)

Neul na ye gyeottaeseo geurimjacheoreom
Joyongi neoneun naegero wasseo
Na apahaneunji maeil wiro woonji
Geurioomeuro neoneun naege da nyeoga
Sesangi nal oolge haedo naneun gwaenchana
Hangsang niga naye gyeottae isseunika
Meojicheoreom chooeogi byeonhaeseo deonalga
Geucheo utseumyeon maeumeul dalrae yeo bwado

(kau selalu seperti bayangan bagiku
Diam-diam datang mendekatiku
Untuk melihat apakah aku sakit, untuk melihat apakah aku kesepian setiap hari
Dengan perasaan kerinduan, kau datang padaku

Bahkan jika dunia ini membuatku menangis, aku baik-baik saja
Karena kau selalu di sisiku
Seperti debu, mereka akan berubah dan meninggalkan kenangan?
Aku akan tetap tersenyum untuk memudahkan hatiku)

Nae salmi haru haru goomeul gooneun geotcheoreom
Neowa hamkke majubo myeo saranghal soo itdamyeon
Dashi irreoseol geoya

(Setiap hari hidupku seperti mimpi
Jika kita dapat melihat satu sama lain dan saling mencintai
Aku akan berdiri lagi)

Na ye ge sojoonghaeddeon kiyeoksoge haengbokdeul
Himdeul shigan sogeseodeo deowook ddasoohaedeon
Himangeun naegen chamdeulji ahneun goom

(Bagiku, kebahagiaan kenangan berharga
Akan lebih hangat selama masa-masa sulit
Bagiku, harapan adalah mimpi yang tidak pernah tidur)

Soo eobsi neomocheo bikeuldaedo
Naneun ireokke seo itjana
Nae mam hanapunninde
Himdeul ttaemyeon niga ireokke himi dwae jullae
Neoreul hyanghae yeongwoni
Ireokke sangcheo soge seulpoom deureun samkin chae
Miso jitneun nae moseubeul neoyege boyeo joolke
Ijeneun apeuji ahna

(Tidak peduli berapa kali aku tersandung dan jatuh
Aku masih berdiri seperti ini
aku hanya memiliki satu hati
Saat aku lelah kau menjadi kekuatanku
Hatiku milikmu selamanya

Jadi aku menelan sakit dan kesedihan
Saya hanya akan menunjukanmu sebuah senyuman
Hatiku bahkan tak merasakan sakitnya)

Eojena neowa hamkke irugopeun goom ango
Gal soo eobdeon jeopyeon eh seo neoreul boollo beolge
Nae maeum dahae saranghaeneun neoreul

(Aku akan selalu berpegang pada mimpiku yang ingin bersamamu
Aku akan mencoba untuk memanggilmu di tempat yang bisa kau dengar
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku)
“Kyu… lagunya bagus” puji yeoja itu, Kyu kembali mengembangkan sebuah senyuman
“Annyeong-hi Jyumuseo… semoga kau bermimp indah,Saranghae chagi.. kita bertemu di Seoul nanti”

TBC

Actually That's You (9)

Actually, That's You (10)
Author : Lee Hyejin
Ost : SHINee - Hello (3rd Songs)

Bagaimana kata itu bisa keluar dari mulutku begitu saja?? Otakku semakin menggila jika dekat dengannya..
Hal yang tak mungkin dan sama sekali tak kuinginkan akhirnya harus kuakui sekarang, tapi bukan di saat ini.. Aku yakin nanti ketika mulutku diluar kendali lagi aku bisa mengatakannya dan membebaskan perasaan gila dan semua kegilaan ini..
Atau mungkin aku malah akan bertemu dengan sesuatu yang tak kuinginkan begitu mendengar jawabannya??

Author's pov
Hyejin membungkam mulutnya, matanya membesar terkejut tentu saja. Bagaimana mungkin kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Otaknya berputar cepat segera memikirkan alasan, karna itu bukanlah jawaban yang ia harapkan untuk keluar dari mulutnya. Kyu tersenyum bukan.. Lebih tepatnya menyeringai nakal lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Hyejin.

“Kau..” Ucap Hyejin pelan, dia mengambil jarak dengan Kyu namun langkahnya terhenti dia tertahan di jendela besar yang berada di balik pianonya. Kyu semakin memojokannya dan masih menyeringai nakal membuat perasaan buruk mulai menghinggapi Hyejin.
“Telingaku memang terganggu, tapi... Aku yakin betul yang kamu katakan itu `Iya`, benar kan? Kau tak bisa beralasan bahwa kau salah bicara atau aku salah dengar karena aku mendengarnya sendiri.. Apa tanggapanmu Lee Hyejin” kata Kyu dengan nada lembut, Hyejin menggigit bibir bagian bawahnya berharap itu bisa sedikit mengurangi rasa gugupnya

DUK!
Lagi-lagi Kyu membenturkan keningnya ke kening Hyejin, gadis itu menyembunyikan wajahnya tak mau menatap sepasang mata yang ada di depannya ini. Dia yakin semakin dia menatapnya semakin gugup pula dan bergetar juga hatinya, sebuah nyanyian kecil mulai terdengar membuat Hyejin melirik Kyu yang jarak wajahnya sangat dekat dengannya.
“Lihat wajah terkejut mu itu... Mungkin mataku mulai rusak, kau cantik jika sedekat ini” katanya dengan suara yang benar-benar lembut membuat gadis yang ada di hadapannya memerah malu. Seringaian mulai nampak dari wajahnya
“Aku?? Cantik?? Kau bercanda” Hyejin mendorong dada Kyu cepat namun bukan tubuh Kyu yang menjauh.. Bibir Kyu menyentuh bibir Hyejin cepat. Membuat mata gadis itu kembali membesar, astaga.. Yang tadi itu sungguhan?? Hyejin meraba bibirnya yang mendapat ciuman dua kali dari Kyu
“Hadiah dariku karna kau jujur” kata Kyu singkat, Hyejin mematung tak berani mengatakan apapun.. Dia bersandar di badan piano sekarang dengan tatapan kosong dan tangan masih memegangi bibirnya, Kyu menepuk kepalanya pelan
“Kau itu aneh.. Dasar flat!!” Ejek Kyu
“Itu ciuman pertamaku Bodoh!!!” Bentak Hyejin, Kyu terkekeh pelan
“Bukan urusanku” bisik Kyu di telinga Hyejin, gadis itu menutup kedua matanya, lalu melirik tajam ke arah Kyu yang tersenyum dengan raut penuh kemenangan.. Setan itu tentu saja harus dibalas akan perbuatannya ini.

Hyejin's pov

Kami berdua masih membisu, Kyu masih penasaran akan lagu `Saram` itu. Lagu itu memang menceritakan tentang kekaguman yang berakhir pait, aku menceritakan sosok Kyu dalam masa SMPnya yang begitu kukagumi dan selalu kurindukan, namun begitu bertemu lagi dia berubah menjadi sosok yang ingin segera kulenyapkan dari muka bumi ini dengan tanganku sendiri. Kulirik jam yang menggantung di salah satu dinding apartement ini.
“Kyu, sudah jam setengah 12, jadikah ke Incheon?” Tanyaku, Kyu menghentikan permainan pianonya dan menoleh ke belakangku
“Setelah kunyanyikan lagu spesial untukmu” katanya singkat “sini” pintanya seraya menepuk kursi piano yang masih memiliki ruang untuk kududuki
“mwo??“
“Ppali!!”

Aku melangkah hati-hati mendekatinya, lalu duduk di sebelahnya, aku meliriknya sebentar lalu beralih ke puluhan tuts piano begitu menyadari matanya mulai melirik wajahku
“Ketika dudukpun kau lebih pendek dariku” celetuknya membuatku naik darah
“Ppali.. Kalau telat kau yang akan rugi.. Katanya mau pulang ke Cina” omelku cepat, dia tersenyum lalu menatapku sebentar, matanya berputar dan berlagak seperti sedang berfikir aku dengan sabar menunggu bicara walaupun aku yakin yang akan keluar dar mulutnya pasti sesuatu yang aneh dan lucu dipihaknya dan kutukan di pihakku.
“Kau yang main piano” celetuknya membuatku menoleh kearahnya cepat, sebenarnya apa mau namja gila dengan otak setan ini?? Belakangan tak bertemu apa dia merencanakan hal gila untukku selama di Cina?? Aku berdecak kesal lalu meletakan jemariku diantara tuts itu membuat Kyu tersenyum senang, tangan besarnya mendarat di atas tanganku dia mengajakku memainkan lagu yang langsung kukenal begitu mendengar melodi pertama.
Lagu ini... 7 years of love, sudah 7 tahun kami tak bertemu semenjak SMP dulu.. Astaga.. Kenapa otakku malah menyimpulkan hal itu, dia menyanyikan verse pertama dan membuatku merinding. Dia menyanyi tepat di telingaku!! Kenapa Tuhan menciptakan Setan dengan suara malaikat seperti ini?? Aku diam menikmati suara yang begitu kukagumi terdengar jelas disamping telingaku, desiran nafas menggelitik telingaku dan bisikan itu membuatku langsung menoleh menatap wajahnya alisku bertaut. Apa maksudnya?? Atau telingaku yang salah dengar
“Kau tuli??” Tanyanya membuatku menatapnya lagi
“Bukan.. Apa maksudmu berkata begitu??” Tanyaku menelisik maksud ucapannya
“Jika kau tak suka lupakan saja” katanya polos lalu melengos meninggalkan aku yang masih terbengong di depan piano menelaah dan mencerna kalimat yang ia bisikan tadi.. Mungkin telingaku tidak salah dengar, ahahaha kenapa aku sebahagia ini?? Tak mungkin aku mulai menyukainya!! Tapi.. Bisa kupastikan pipiku memerah sekarang, dan senyuman ini belum mau meninggalkan wajahku, semakin kuberusaha menghapus senyuman ini semakin ingin tersenyumlah aku.

Kyuhyun's pov

Kuintip dia yang kesenangan sendiri begitu mendengar kalimatku tadi, aku tersenyum melihatnya.. Kuakui itu, aku suka melihatnya memerah malu lalu memegangi kedua pipinya yang merah itu dan terus tersenyum seperti orang gila yang kesetanan karna tak bisa diam di tempat. Ponselku bergetar mendadakan seseorang meneleponku, aku terdiam menatap layarnya. Seohyun??

“Yeoboseyo” kataku membuka percakapan
“Kyuhyun-ssi” kata Yeoja itu penuh semangat, aku mendesah pelan begitu mendengarnya mengoceh tak jelas dengan semangat yang berlebihan.
“Ne.. Aku tau. Ya aku harus kembali istirahat.. Sampai jumpa” kuputuskan telepon itu dan segera kunon aktifkan ponselku sebelum yeoja itu meneleponku lagi sedang malas berbicara dengannya.

“Heh!!” Aku menoyor kepala Yeoja yang sedang kesetanan itu sambil menyeringai dia mendelik kearahku membuatku semakin ingin menggodanya
“Neo..” Desisnya sembari menunjuk wajahku
“Kau seperti orang gila yang belum diberi obat” ledekku membuat ekspresinya berubah drastis “cepat bersiap” lanjutku, dia langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan aku di depan piano kulirik lirik lagu `Saram` itu
“Dasar flat”

Hyejin's pov

Aku memakai jaketku dengan amarah yang akan meledak sebentar lagi, setan itu sepertinya memang berkepribadian ganda.. Terkadang dia jadi malaikat yang begitu berhati putih namun di detik selanjutnya dia menjadi setan yang punya segudang rencana yang bisa membuatku malu atau emosi kapan saja. Dan bonus kata-katanya yang selalu membuatku ingin menendangnya ke segitiga bermuda itu semakin indah saja jika dibarengi seringaian memuakkan itu, Aigooo... Tak terbayang nasibku nanti jika akhirnya dengan sangat terpaksa aku akan sekamar bahkan satu kasur dengannya... Kugelengkan kepalaku cepat membuyarkan semua pikiran aneh yang mulai menggerogoti kewarasanku

TIIIN!!
Aaaaiiiissshh.. Dia sudah menungguku diluar, kenapa Setan itu tak bisa bersabar sedikit??

Kyuhyun's pov

TIIIN!!
Kubunyikan klakson mobil agar yeoja itu segera menyelesaikan urusannya di dalam apartement itu, kuamati pintu depan yang masih tertutup rapat, segera kunyalakan ponseku lagi dan menekan sederet nomor Donghae-hyung, dialah dalang semua kelakuanku tadi.. Sutradara yang baik walau sedikit merugikan aku, apa itu menciumnya?? Jijik rasanya jika harus mencium bibirnya `Lagi`

“Hyung, aku sudah lakukan semuanya sesuai seperti yang kau suruh, mwo?? Aaah.. Ne, sudah, apa lagi?! Jika cium lagi akan kupastikan kau kemasukan kedalam kulkas untuk kujadikan sarden!! Hahahahaha.. Ne,ne aku memang dongsaengmu yang kurang ajar”

Kudengar pintu mobil terbuka dan yeoja itu sudah duduk di sebelahku, gugup takutnya dia mendengar pembicaraanku dengan Donghae-hyung. Aku meliriknya sebentar memberi sinyal untuk menunggu.
“Dia ada disini.. Bagaimana?? Aku harus bagaimana lagi HYUNG, aaah.. Baiklah.. Baik,baik, akan kulaksanakan sesuai petunjukmu Seongsanim, sampai jumpa” kuputuskan telepon itu dan menyimpan ponselku di dalam saku celana sebelum menstater mesin mobil
“Telepon dari siapa?” Tanya Hyejin penasaran
“Sungmin” jawabku singkat, entah kenapa itu jawabanku padahal tadinya aku mau mengatakan Siwon, dia diam tak bertanya apa-apa lagi, perjalanan ke Incheon berubah jadi kesunyian yang menyebalkan. Aku benci keadaan sepi tapi aku juga tak suka keadaan yang begitu ramai.

“Kau tak mengomel?? Ataukah kau perlu dilarikan ke rumah sakit....” Aku menggantung kalimatku, Hyejin melirik mataku tajam aku tersenyum melihat responnya
“Rumah sakit jiwa?? Iya?? Heh, kurasa kau yang harus dimasukan kesana” katanya ketus
“Ya, kau yang jelas-jelas harus diamasukan kesana.. Lihat dirimu yang begitu mirip orang gila, tersenyum-senyum sendiri sambil memegangi pipi..”
Wajahnya memerah malu, dia memukul lenganku kuat-kuat lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap lurus kedepan
“Semakin kau diam, semakin terlihat seperti orang gila yang baru diberi obat” ledekku dengan sebuah tawa yang tertahan di akhirnya
“Tapi.. Jika aku semakin mengomel semakin sering juga kau menyindirku dan membuatku jadi pasien RSJ lebih cepat dari dugaanmu” katanya cepat dengan nada yang rendah, kau mau menakutiku Hyejin?? Itu belum cukup..
“Katakan saja kau akan lebih cepat masuk RSJ karna melihat wajah tampanku ini kan?? Mengaku sajalah seperti tadi dengan mudahnya kau menjawab iya” godaku
“Lalu kau akan memberikan hadiah ciuman lagi?? Begitu??” Tanyanya datar, aku memutar mataku berlagak berfikir lalu menoleh ke arahnya sekilas
“Mungkin dengan tidur sekamar akan jadi hadiah yang lebih menarik” kataku singkat sembari memainkan lidahku
“YADONG!!!” Jerit Hyejin membuatku tergelitik untuk tertawa puas mendengar responnya
“HAHAHAHA.. KAU PIKIR AKU MAU SEKAMAR DENGANMU?? BAGIAN MANA DARI TUBUHMU YANG BISA MEMBUATKU TERGODA???” Godaku, matanya membulat begitu mendengar perkataanku melihat itu saja sudah membuatku ingin tertawa lagi. Kau begitu bodoh dan polos persis seperti kakakmu, dan masih sama seperti maniak game yang berlaku preman dulu.. Persis.

Author's pov

Hyejin menyumpal telinganya dengan earphone malas mendengar ocehan dari mulut Kyu yang membuat kupingnya panas, dan sialnya seingatnya dia tak pernah memiliki lagu ini, bahkan baru mendengarnya.. Hyejin melihat judulnya, dia tersenyum kecut lalu menoleh ke arah Kyu yang tersenyum penuh kemenangan.
Benar saja
Kyuhyun - Hope is a dream that doesn't sleep
“Kapan kau menambahkan lagu ini??” Tanyanya tajam
“Mollayo, memangnya lagu apa?” Tanya Kyu tanpa menoleh
“Kau pura-pura bodoh apa memang bodoh!! Kapan kau memasukan lagumu sendiri kedalam ponselku?? Setauku lagu Super Junior di ponselku hanya 5” kata Hyejin
“Sekarang??” Tanya Kyu, Hyejin menautkan alisnya lalu melihat daftar lagunya, lagu Super Junior bertambah dari 5 menjadi 56.. Setaunya tak pernah ia masuka lagu Super Junior yang lain selain 5 lagu itu, itu juga paksaan dari sang kakak
“Neoo” Hyejin mulai menunjuk Kyu yang tersenyum senang “kau memasukan semua lagu Super Junior kan?? Tuan Narsis??”
“Jinjja?? Jika iya, kapan aku melakukannya??” Tanya Kyu matanya masih fokus menatap jalanan di depannya yang begitu padat, Hyejin terdiam memikirkan jawaban selanjutnya, mentransfer lagu butuh waktu mana mungkin Kyu menyelundup hanya untuk mentransfer lagu?? Seperti pria pengangguran saja.
Mau tak mau Hyejin akhirnya menikmati puluhan lagu baru ditelinganya yang masuk ke ponselnya dengan cara yang ajaib, bahkan bisa dibilang dengan cara yang misterius.

Hyejin's pov

Aku berjalan beriringan dengan namja menyebalkan ini.. Aku masih berfikir bagaimana caranya 51 lagu baru masuk ke ponselku dengan begitu mudah dan dengan cara yang tidak masuk akal, itu masih jadi pertanyaan yang memenuhi otakku, aku memang seperti ini jika sudah penasaran akan satu hal. Kyu menghentikan langkahnya tiba-tiba, matanya terpaku pada sebuah biola putih yang menggantung diantara alat musik lainnya, dia... Menyukai biola itu??
“Waeyo?” Tanyaku
“Aku suka biola itu” katanya singkat sembari menunjuk biola putih yang tadi
“Kau mau membelinya?” Tanyaku lagi, tiba-tiba tangan kosongnya terjulur kearahku
“Uangnya??” Katanya
“Kau kan artis masa tak punya uang??” Tanyaku
“Aku artis yang kehabisan uang, dan kau tadi bertanya kan?? Jawabanku iya, tapi dengan uangmu” jelasnya membuat darahku kembali meluap-luap, kurasa aku bisa terkena darah tinggi diusia muda karnanya!!
“Sudahlah.. Tinggalkan itu” aku menarik tangannya meninggalkan toko alat musik itu, kini aku yang memimpin perjalanan, mataku melihat daerah sekitar mungkin saja toko kue yang dimaksud appa sudah dekat.
“Ya” Kyu memanggilku, aku menolehkan wajahku, ujung telunjuknya menunjuk sebuah pintu masuk dan itu... Toko eskrim??? Dia gila?? Ini mau masuk musim dingin dia mengajakku makan eskrim??
“Miccheosseo??” Tanyaku, dia menggeleng dan menyeretku masuk kedalam toko itu, kurasa dia memang harus dilarikan ke rumah sakit jiwa terdekat.

“Makanlah.. Aku yang traktir” katanya begitu semangkuk banana split pesanannya datang begitu juga dengan pesananku. Aku menatapnya aneh,
“Kau bilang uangmu habis?” Tanyaku
“Setidaknya untuk beli makanan aku masih punya uang” katanya singkat
“Jika akhirnya aku yang bayar... Akan kutebas kepalamu” ancamku, dia merespon hanya dengan seulas senyuman lalu kembali memasukan sesendok eskrim ke mulutnya

“Omona~” katanya, aku menghentikan aktifitas makanku dan menatapnya bingung. Orang ini sungguhan gila??
“Mengapa para gadis itu terlihat jorok saat makan??” Katanya lagi, aku semakin tak mengerti
“Apa maksudmu??” Tanyaku
“Lihat dirimu.. Makan belepotan begitu, jika anak kecil akan lucu tapi kau?? Ahjumma sepertimu harusnya tau malu”
Aku membulatkan mataku, Ahjumma???
“Dan kau sebagai seorang Ahjussi penyakitan harusnya memiliki sopan santun padaku” balasku tak mau kalah
“Ahjussi penyakitan??” Geramnya, kugerakan tanganku mengambil tisu untuk membersihkan bagian yang Kyu sebut `Belepotan` itu. Tanganku terhenti begitu jempolnya mendarat di atas bibirku membersihkan sisa-sisa eskrim yang tersisa di bibirku, tangannya tak berhenti disitu.. Dan kelakuannya kali ini membuatku ingin segera menendang wajahnya.. Dia mengoleskan bekas eskrim itu di keningku!!!
“Hahahahaha.. Kau seperti Ahjumma keturunan india” celetuknya membuatku benar-benar ingin menendang wajahnya yang ia sebut tampan itu.
“Ahjussi keterlaluan” desisku tajam sembari membersihkan hasil kerja Kyu di keningku.

Kami beralih tempat tujuan ke sebuah toko pakaian, aku merasa kami bukan melaksanakan tugas memesan kue dan melihat cincin tapi malah berjalan-jalan di pusat perbelanjaan ini.
“Kau cocok memakai ini” kata Kyu sembari memakaikan topi lebar berwarna merah yang mencolok “seperti nenek Kate middleton.. Tapi neneknya”
“Kau cocok memakai ini” balasku sembari menunjukkan gelang yang diatasnya bertahtakan berlian khusus ahjumma kecentilan dan kelebihan uang.
“Itu barang biasa” kata Kyu sembari mengembalikan gelan itu keasalnya, aku juga mengembalikan topi merah itu ke asalnya. Kami berganti tempat, dan kini sungguhan ke sebuah toko perhiasan, untuk melihat cincin. Cincin pertunangan itu tidak mencolok, dan tak ada berlian, hanya saja terbuat dari emas putih.
“Bisa aku memilih yang baru?? Menurutku ini terlalu biasa saja” pinta Kyu, aku meliriknya baru kali ini kulihat wajah serius seperti itu selain di layar kaca rumahku.
“Apa ini tunanganmu?” Tanya penjaga toko itu, aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal, tangan Kyu merangkulku dia tersenyum sembari menarikku ke tempat lain di toko perhiasan itu.
Selama Kyu melihat-lihat aku hanya bersandar di sebuah lemari kayu dan memperhatikannya melihat-lihat sepasang cincin yang menyilaukan itu seksama. Kenapa kau begitu serius Kyu?? Apa kau akan suka memakainya bersamaku?? Kurasa tidak..

“Besok gadis ini akan kemari dan memilihnya lagi.. Kami permisi” Kyu berpamitan, memilihi cincin bukan hal mudah katanya. Dan dia menyerahkannya padaku, katanya jika wanita yang memilihnya maka pasti akan lebih bagus. Iiissh.. Jika aku yang memilihnya maka kau berniat menertawakan aku kan?
“Kemana lagi kita?” Tanyaku
“Toko buku” jawab Kyu singkat

Aku berkeliling melihat-lihat buku di rak novel remaja barang kali ada buku menarik untuk kubeli, sudah lama aku tak membaca novel. Mataku tertuju pada sebuah buku bersampul putih polos dan gambar seorang karikatur gadis kecil yang tengah memegang sebuah payung warna merah. Judulnya tercetak lumayan besar dan berwarna merah ”Snow Flakes on Summer Rain” kubalikan buku itu dan membaca sinopsisnya. Ceritanya menarik.. Sebuah gemuruh terdengar dari luar, kuintip keluar jendela dan benar saja hujan badai diluar sana. Sudah dekat musim dingin masih saja hujan,

Musik di dalam toko buku berganti menjadi lagu yang tidak asing dan.. Kurasa akan membuat setan itu besar kepala. Lagunya yang berjudul Listen To You itu diputar keras-keras hingga terdengar keseluruh sudut toko. Aku menghampirinya di rak buku komik, dia menganggukan kepalanya dan bernyanyi-nyanyi kecil, kau senang kan Setan kecil?? Dasar Mr. Populer
“Buku apa itu?” Tanyanya tanpa menoleh ke arahku
“Snow Flakes on Summer Rain” jawabku, Kyu menatapku sebentar lalu kembali membaca komiknya
“Kapan kita pulang?” Tanyaku
“Sampai lagu ini selesai” jawabnya singkat, benar kan?? Dia jadi besar kepala dan berniat mendengar suaranya sendiri sampai selesai. Aku melangkah kasir, dan sialnya setelah lagunya tadi bukannya diputar lagu lain yang diputar malah lagu Super Junior.. Aigoo~ kurasa managernya hari ini seorang ELF makanya dia berniat semakin sering memutar lagu Super Junior.
“Heh!” Seseorang menoyor kepalaku seenaknya, dan aku tau siapa yang berani melakukan hal itu. Dia Kyu
“Ya!” Kataku “ayo pulang” ajakku, dia menunjuk ke jendela yang memperlihatkan cuaca yang belum juga membaik. Masih hujan deras
“Bukannya kau pulang ke Cina?” Tanyaku
“Iya.. Tapi besok” katanya singkat
“Aku ada tugas dan masih harus membujulk Yesung-hyun dulu.. Antar aku pulang” pintaku
“Lakukan Aegyo” katanya singkat, aku memiringkan wajahku permintaan gila itu lagi...
“Nanti di mobil”
“Kajja” Kyu menarik tanganku keluar toko buku, di luar mobil hitam Kyu sudah menunggu syukurlah tak harus menembus hujan dulu untuk naik ke mobil.
“Oi,oi” panggil Kyu “mobilku yang itu.. Kau itu buta ya??” Kyu menunjuk sebuah mobil yang terparkir du sebrang sana, aku menghela nafas kelihatannya memang harus menembus hujan dulu. Kyu memberikan ponselnya padaku dan menyuruhku tetap di pintu masuk toko buku. Aku menurut, mobil Kyu berhenti di depanku, aku langsung masuk kedalam dan disambut dengan Kyu yang basah kuyup.
“Ganti bajumu!!” Perintahku
“Mana sempat babo!” Ejek Kyu
“Parkir dulu di parkiran belakang yang kosong, kau beli baju kan??” Kataku lagi
“Kau khawatir?” Pertanyaan itu membuatku langsung menoleh ke arah Kyu, mobil berhenti di sebuah parkiran kosong hanya ada 3 mobil disana.
“Aku hanya tak mau direpotkan oleh setan yang sedang sakit” sanggahku, Kyu tersenyum lalu menaikkan menaikan rem tangan dan meluncur ke. Jok belakang
“Jangan mengintip” katanya
“Aku tak sudi!!”

“Kyu” panggilku
“Hmm??”
“Tak jadi..” Aku bingung harus berkata apa.. Yang jelas kalimat itu sulit sekali kukatakan, Kyu selesai berganti pakaian dia kembali ke kursi kemudi.
“Apa yang tidak jadi??” Tanyanya, aku terdiam melihatnya yang jauh berbeda jika rambutnya basah kuyup. “Kenapa diam?? Kau terpesona dengan keseksianku??” Tanyanya dengan penuh percaya diri
“Heh percaya diri sekali kau!! Tidak!!” Bantahku padahal batinku meneriakan jawaban sebaliknya.

Suasana hening hanya deru mesin mobil dan tetesan air hujan yang menghantam body mobil yang kudengar, begitu berisik ditambah lagi dingin yang mulai menyeruak masuk menembus kaca mobil yang tertutup rapat
“Hyejin, bisa pinjam jaketmu?”
“Untuk?”
“Kau tak mau aku kumat disaat begini kan?? Pinjam cepat!!”
Kulepaskan jaketku lalu kupakaikan di tubuhnya, aku tau maksudnya dan memang itu bisa membuat siapapun jantungan termasuk kakakku. Dia pernah terburu-buru keluar rumah dengan mata berkaca-kaca dan bilang ”Kyu kumat lagi”.. Kakakku memang terkadang berlebihan namun jika kubayangkan disaat seperti ini.. Tiba-tiba Kyu sesak nafas.. Kurasa jantungku langsung berhenti, bagaimana tidak?? Rumah sakit masih 30 kilometer lagi dan jalanan berbahaya serta licin hal tak dinginkan bisa saja terjadi.

Suasana kembali hening, aku memutuskan membuka segel buku tadi dan mulai membacanya. Mungkin itu bisa sedikit membuatku melupakan rasa dingin yang terasa menusuk tulangku.

Kyuhyun's pov

Baru beberapa menit dia membaca yeoja itu sudah terlelap dalam tidurnya, begitu sampai di depan rumahnya aku melepaskan seat belt lalu menepuk kedua pipinya. Tidak bangun. Merepotkan
“Yak! Ahjumma.. Bangun!!” Kataku pelan, masih belum bergeming, aku mendekat ke telinganya dan bersiap berteriak tapi.. Dia bukan Hyungku tidak sopan membangunkan wanita dengan cara begitu.
“Saranghae” igaunya membuatku menautkan kedua alisku
“Kyu.. Saranghae”
Hahaha.. Apa itu?? Dia bilang dia mencintaiku?? Jangan bercanda Lee Hyejin, itu benar-benar tidak lucu. Aku tersenyum mendengar igauannya, terpikir cara lain membangunkannya kubisikan sebuah kalimat dan itu berhasil dia terbangun, kedua matanya menatapku tak percaya
“Kau bilang apa??” Tanyanya
“Annie” bantahku
“Tak mampir??” Tanyanya
“Jika kau mau membuatkan makan malam maka jawabannya iya” jawabku, dia mengerucutkan bibirnya
“Cih~“ cibirnya membuatku tersenyum.

******

“Ini tuan muda~” katanya seraya menyajikan semangkuk Shabu-Shabu di meja makan asapnya menggepul menandakan baru dimasak.
“Haha.. Baiklah Ahjumma, akan kuberi hadiah jika ini enak” kataku
“Jangan makan udangnya saja Ahjussi, sayurnya jugaaa~” katanya aku melotot ke arahnya
“Ini enaaak” katanya lagi seraya menyendok wortel dan kuah Shabu-shabu aku membungkam mulutku lalu menggeleng “Ayolaaah Ahjussi, ini enaak” katanya sembari terus menyodorkan sendok itu
“Andwae!” Kataku tegas
“Oke, pilih satu.. Aegyo didepanku atau makan semua sayur disini” katanya memberikan pilihan
“Apa maksudmu??” Protesku dia menyeringai nakal
“Pilih satu...”

Hyejin's pov

“Aegyo” kata Kyu singkat aku tersenyum penuh kemenangan, akhirnya aku bisa melihat Ahjussi penyakitan aegyo di depan mataku.
“Saranghaeyo~” ucap Kyu dengan membentuk bentuk Hati di atas kepalanya
“HAHAHAHAHA.. Kau persis seperti Ahjussi!!” Tawaku meledak begitu saja
“Puas??” Aku mengangguk dan kemballi menyendok Shabu-shabu. Ahahaha baru kali ini aku bisa tertawa selepas itu memang aku juga sering tertawa lepas saat bersama Jijae atau Eonnie ku namun rasanya berbeda jika dengan bersama Kyu. Aku senang dan lega.. Seperti semua masalahku terangkat begitu saja, dia Setan ajaib kurasa.

Karena hujan belum reda dan Setan ini bilang dia mau menunggu hujan reda dulu baru pulang akhirnya dia menguasai TVku dan sofa panjangku. Aku duduk di kursi kecil dan ikut menonton TV dengannya, Kyu bersandar di punggung sofa dan menyuruhku duduk di sebelahnya. aku menurut dan duduk disebelahnya dengan tatapan terfokus pada TV.
“Aku kekamar dulu” kataku seraya melangkah meninggalkan Kyu di ruang tengah, entah kenapa perasaanku buruk jika berlama-lama duduk di sebelahnya rasanya ada aura hitam (?) Yang menusuk punggungku.
Setelah mengambil novel aku kembali keluar kamar dan tak sengaja bertemu Kyu diluar sana, dia membawa setumpuk bantal aku tak menyadarinya kami bertabrakan aku jatuh menimpa Kyu, beberapa detik berpandangan dengan jarak sedekat itu aku bangkit dan duduk tak jauh dari tempatnya berbaring
“Kau belum pulang?” Tanyaku ketus
“Belum, kenapa?”
“Sudah malam.. Takutnya tetangga menganggap yang tidak-tidak” kataku
“Kau takkan menyesal jika aku pergi??” Tanya Kyu, aku menoleh, dia bangkit dari posisi duduknya dan posisi wajah kami kembali saling berdekatan. Jantungku berdegup tak karuan begitu melihat wajahnya sedekat ini
“apapun jawabanku kau takkan peduli bukan?” Tanyaku, Kyu tersenyum tipis
“Kau berkata seolah bisa membaca pikiranku, memangnya seperti apa aku dimatamu?? Pria menyebalkan? Atau apa??” Tanyanya, kini aku yang tersenyum tipis
“Kau itu aneh.. Bisa membuatku nyaman namun disisi lain bisa membuatku terkena penyakit darah tinggi di usia muda, kau aneh.. Kini aku akan bertanya padamu.. Seperti apa aku dimatamu?? Kau pasti bilang aku itu jelek, flat dan menyebalkan lalu kau bilang kau tak suka aku kan?”
”Siapa bilang aku tak suka??” Sambar Kyu, aku terdiam.. Waktu sepertinya berhenti begitu saja tadi..
“Kau bilang apa tadi?” Tanyaku berusaha meyakinkan pendengaranku sendiri
“Maaf tak ada siaran ulang, itu bantalmu berserakan di ruang tengah.. Sangat menganggu, appamu sebentar lagi pulang.. Dan aku juga mau pulang, sampai ketemu lagi”

Aku terdiam, otakku memutar masa-masa tadi dan kejadian-kejadian aneh hari ini seperti membuatku merasa menonton sebuah film. Aku diam tak bersuara, deru mesin mobil Kyu semakin menjauh membuatku segera menatap pintu depan

♪ Aninde naneun aninde jeongmal igeon mari andwae neunde
Pabeul meogeodo jami deul ddaedo michyeo neunji geudaeman boyeoyo (Tidak, aku tidak.. Ini benar-benar tidak lucu
Bahkan ketika aku makan atau tertidur, aku tetap memikirkanmu sepertinya aku menggila) ♪

Aku tidak ingat memakai lagu itu sebagai tanda masuk e-mail tapi jika bukan ponselku lalu darimana lagi?? Kukeluarkan ponselku dan membuka sebuah e-mail baru.

From : Stupid Evil
To : Ahjumma (astaga.. Dia mengacaukan sistem ponselku rupanya
Subject : none

Tidur seperti sapi kekenyangan haha

Di bawah kalimat itu, muncul sebuah foto saat aku tertidur di mobil Kyu, aku berdecak kesal dan langsung meneleponnya

“Yeoboseyo, Gwenchanayo?? Flat!”
“KAU KIRIM E-MAIL APA HAH?!”
“Hahahahahahahahaha”

TBC

Huehehehe setelah 3 kali ganti alur akhirnya jadi juga part 10 ini xD semua kejadian yang ada disini terinspirasi dari SJ Mini Drama , SJ Foresight sama SJ Intimate Note semua digabung jadi satu dan terciptalah (?) FF dengan part gaje kaya gini.. Untuk novel dengan judul Snow Flakes on Summer Rain itu judul novel aku yang RENCANAnya mulai aku ketik nanti gatau kapan ._. Hehe.. Kalo lolos di penerbit jangan lupa beli yak xDD ooke, tetap tunggu kelanjutannya

Dan selama kalian membaca ini HARUS TINGGALKAN JEJAK.. Kalo enggak Kyu marah!! (?)
Kamshamnida
Annyeong!!

*lari ke kamar KyuMin*

-Lee Hyejin

Actually That's you (8)

Actually, That's You (9)
Ost : Younha - No Way ~Can't Believe It~ (2nd Song)
○ ° ○ ° ○ ° ○ ° ○ ° ○ ° ○ ° ○ ° ○ ° ○ °


Andwae!!
Kenapa setelah selama ini berada di sisimu baru kali ini aku merasakan gelombang keras yang menghantam sudut hatiku yang belum pernah kau sentuh??
Dan kenapa hanya dengan suaramu itu kau bisa menenggelamkan aku dalam dunia imajinasi yang mengerikan?? Semakin tak bisa kubayangkan apa yang sudah terjadi selama ini..
Apakah semua hari-hari yang lalu itu hanyalah sebuah sampah yang tak berarti atau hanya pelengkap dan sesuatu yang menemaniku sampai akhirnya aku bertemu denganmu??


Hyejin's pov

“Jika ingin lagunya lebih panjang, maka bayar dulu~ kau kira hidup ini gratis??” Ujarnya dengan senyuman evil yang memuakkan itu. Ingin rasanya segera kutampar wajahnya itu, kutepis tangan kosongnya itu dan menatap ke arah lain
“Kau menyebalkan!!” Omelku
“Jinjja??” Katanya, heh, namja ini benar-benar ingin membuatku meledak!! Seharusnya sejak awal tak perlu kukatakan permintaan bodoh itu.. Tapi.. Aku merindukan suaranya saat bernyanyi.. apa perlu kurekam dia saat bernyanyi dan... Aaah..
“Kau gila?? Kenapa kau tersenyum?” Tanya Kyu, aku menatapnya dengan senyuman jail yang mengembang di wajahku, ooke.. Hyukkie-oppa pasti bisa membantuku untuk urusan ini.
“Aku curiga kau punya rencana busuk” kata Kyu seolah menyelidik senyuman yang tersungging di bibirku, kusikut bagian tulang rusuknya pelan dengan wajah merengut. Jangan sampai dia tau rencanaku.. Memang sulit membohongi seorang raja Setan, tapi.. Mau bagaimana lagi.. Besok dia pulang dan tak ada waktu lagi sampai tenggat waktu untuk lagu itu, jika membujuk Yesung-oppa yang ada di Korea akan makan waktu lebih lama lagi.. Jika Hyukkie-oppa mau membantuku, semoga saja dewi Fortuna juga mau membantuku..

Deringan ponsel Kyu dan aku yang bersamaan, memecahkan suasana sunyi di tempat ini. Kami mengangkatnya bersamaan, appa.. Ada apa dia meneleponku malam-malam begini? Apa ada sesuatu yang penting?? Aah.. Ya aku lupa belum menaruh memo untuk memberi tau kemana aku pergi.

“Yeoboseyo.. Ne appa? Gwenchanayo??” Tanyaku membuka percakapan dengan lawan bicaraku yang baru
“Appa, dan orang tua Kyuhyun baru saja merencanakan sesuatu..”
“Apa itu?? Jika itu sesuatu yang aneh aku takkan mau menerimanya!?” Tentangku tegas,
“Dengarkan appa dulu.. Bukan sesuatu yang aneh.. Kau hanya perlu ke Incheon dengan Kyuhyun..” Ucap appa, dia menggantung kalimatnya membuatku gugup sendiri jika melihat punggung Kyu di belakangku. Jika hal itu adalah hal aneh.. Apa yang harus kukatakan padanya??
“Lalu?” Tanyaku dengan pandangan masih mengarah ke punggung Kyu, appa melanjutkan ucapannya pelan.. Seketika mataku membesar begitu mendengar kalimatnya
“MWO??” Teriakku bersamaan dengan Kyu, pria itu menoleh kebelakang menatap wajahku tajam seolah dia adalah seekor singa yang sudah menemukan mangsanya.. Tatapan macam apa itu?? Apa salahku??
Sebuah senyuman tersungging di bibirnya itu membuatku semakin takut, Kyu membenarkan jaketnya lalu berjalan mendekatiku. Telepon dari appa sudah terputus namun ponsel itu masih saja kuletakan di dekat telingaku, kuambil beberapa langkah mundur untuk menjaga jarak dengan Kyu.. Jangan sampai naluri liar seorang namja miliknya muncul disini.. Bisa habis aku!
“Ma...mau apa kau??” Tanyaku setengah berteriak, Kyu memojokkan aku yang bersandar di dinding dan mengunci gerakanku untuk kabur dengan tangan kirinya di dekat kepalaku. Wajah mengerikan khas dia itu semakin terlihat jelas di mataku jika jaraknya sedekat ini.. Tuhaaan.. Apa yang harus kulakukan??

DUK!
Keningnya membentur keningku, kutundukkan kepalaku agar hanya kening kami yang bersentuhan, jangan sampai bibir yang nantinya bersentuhan! Hembusan hangat nafas Kyu seperti meniup wajahku.. Jantungku semakin tak bisa di kendalikan lagi, kurasa ini yang disebut sport jantung. Mungkin sebentar lagi aku akan mati..
“Ya, yeoja paboya” suara itu sampai di telingaku, namun aku masih belum berani mengangkat wajahku, menatap wajahnya yang pasti sangat dekat ini.
“Kau sudah tau kita akan ke Incheon, tempat kelahiran Ryeowook-hyung?? Iya kan??” Tanyanya, membuatku sedikit tersentak, jangan-jangan yang tadi meneleponnya itu orang tuannya?? Mulutku masih terkunci belum berani mengungkapkan kata-kata apapun.


“KYAAAA!! KYUHYUN OPPA!!!!”

Kyuhyun's pov

“KYAAAA!! KYUHYUN OPPA!!!!”

Jeritan siapa itu?? Kualihkan pandanganku dan seketika mataku membesar karena hal itu.. 3 orang yeoja berdiri di tempat aku dan Hyejin duduk tadi, sial! Mereka salah paham sepertinya.. Dan kenapa mereka bisa tau aku disini?? Seharusnya mereka hanya tau aku di China dan sedang demam sekarang.. Kutolehkan wajahku ke arah yeoja yang masih mematung dan menampakan wajah tak percaya sama sepertiku, sepertinya kami memikirkan hal yang sama. Bagaimana ini?? Jika kabur, mereka pasti akan menyebarkan hal ini.. Jika tetap disini bersiaplah menghadapi ratusan pertanyaan yang bertema sama.
Aku tak mau menghadapi keduanya!!
Sebenarnya siapa yang membuat mereka tau aku disini?? Jika hanya kebetulan tak mungkin mereka bisa memanggil namaku

“Kalian salah paham!! Tolong jangan berfikir negatif dulu.. Lagi pula dia bukan oppa kalian!!” Seru yeoja bodoh ini.. Heh, apa kau bisa lihat dan bandingkan wajahku dengan Kyuhyun yang selalu kau lihat di TV?? Ada perbedaan?? Tidak ada kan??! Apa kau tak punya kalimat lain selain itu??
“Dia kekasihku namanya... Namanya....”
Berhenti mengarang babo!! Omonganmu semakin ngelantur saja, namun jika ini membantu.. Akan kubantu kau.. Jika malah semakin mengeruh.. Kubunuh kau!
“Namaku Choi Leekyung bukan Kyuhyun-oppa kalian.. Wajahku memang mirip bahkan persis dengannya” heh, nama itu yang terpikir di otakku, gabungan dari Siwon, Eeteuk, dan Hankyung hyung. Kurasa aku berbakat jadi ayah~ ^_^
Segera kutarik tangan yeoja pabo ini yang masih menatapku dengan tatapan herannya lalu mengambil kacamata, topi serta violin caseku dan pergi dari tempat ini.. Bisa semakin kacau jika aku berdiam di situ terus
“Choi Leekyung??? Nama yang aneh” komentar Hyejin
“Ya, setidaknya itu membantu.. Kau sendiri memikirkan nama lamanya 1 abad” balasku, Hyejin memukul lenganku kuat, heh pabo, kau minta dicium??
“Jika cuaca sedang jelek seperti ini, jangan berani-beraninya membuatku kesal.. Bisa-bisa kucium kau!!”Ancamku, bisa kulihat nyalinya menciut dari ekspresi wajahnya itu, hanya dengan gertakan kecil seperti itu kau takut, dasar flat!
“Lama rasanya aku tak memanggilmu flat” kataku sembari tersenyum padanya, dia membalas senyumanku lalu kembali menatap lurus kedepan dengan wajah kusut.
“Kau marah??” Tanyaku, dia semakin membuang wajahnya dari tatapanku.. Kelihatannya memang marah sungguhan.

“Oppa, untuk masalah lagu itu....”
Kutolehkan wajahku dan kini kedua matanya menatapku dengan tatapan serius, bukankah dia bilang lagu itu akan dia berikan untuk Yesung-hyung? Apa ini bukan lagu yang itu.. Atau..
“Sebelum kuberikan pada Yesung-oppa aku ingin mendengarmu menyanyikannya dulu, bisa kan? Yesung-oppa kan teman dekatmu bahkan aku pernah dengar Yesung-oppa itu guru vokalmu di SJ, jika bagus dinyanyikan olehmu mungkin hasilnya juga takkan jauh beda dengan ketika dinyanyikan Yesung-oppa” jelasnya
“Beda!” Kataku singkat namun cukup tegas
“Eh?”
“Hyung memang guru vokalku, namun dia pernah bilang semirip-miripnya teknik yang digunakan untuk menyanyikan sebuah lagu.. Namun jika pembawaanya berbeda maka hasilnya akan berbeda, itu juga berlaku pada orang yang bahkan suaranya persis dengan suaraku, bahkan jika dia membawakannya dengan penjiwaan yang sama denganku rasanya akan beda. Karena setiap orang pasti punya cara tersendiri untuk mengisi jiwa lagu itu, paham?” Jelasku, yeoja itu menatapku heran.. Sebenarnya aku ragu dia mengerti yang kukatakan barusan atau tidak.
“Hmmm” hanya deheman itu respon yang ia berikan padaku, aku menghembuskan nafas yang akhirnya berubah menjadi kepulan asap yang menandakan udara sudah hampir mencapai titik beku di musim gugur ini.
“Aku tau itu.. Tapi apa salahnya mencoba” katanya cepat, aku kembali menolehkan wajahku, lampu hijau di rambu penyebrangan jalan sudah menyala dan sebagian orang disebelahku mulai berjalan terburu-buru menyebrangi jalan, aku dan yeoja ini masih bertatapan tanpa membuka mulut kami berdua, otakku bertaut mendebatkan ide gilanya ini dan mempertanyakan apa dia mengerti penjelasanku barusan?
“Bagaimana?? Aku benar-benar penasaran seperti apa nantinya lagu ini jika yang menyanyikannya adalah kau” lanjutnya, bibirku kembali mengembangkan sebuah senyuman, kumasukan kedua tanganku kedalam saku mantel dan berjalan menyebrangi jalan. Bisa kudengar yeoja itu berteriak memanggilku dengan nama Leekyung tadi dan derapan langkah sepatunya terdengar semakin dekat menandakan dia mengejarku. Kuhentikan langkahku di pertengahan jalan yang kosong dan berbalik menatap tubuh kecilnya di depanku dan kedua matanya yang menatap wajahku tajam dengan kening berkerut.
“Kuterima tawaranmu, sebelum kita ke Incheon dan melakukan tugas dari eomma, karena setelah itu aku akan ke Cina” kataku singkat, kali ini wajah sumringah itu mampir ke wajahnya senyuman bodoh khas Lee Hyejin itu mulai mengembang di wajahnya, dia mengangguk cepat dan kuat begitu aku mengakhiri kalimatku. Maaf Hyukkie-hyung kalian harus menyembunyikan keberadaanku di Seoul lebih lama dari perkiraan.

*********

Teriakan tak percaya itu hampir saja membuat telingaku tuli, tak merasa cukupkah mereka untuk berbicara dengan biasa saja tanpa perlu berteriak??
“Yak! Micheosseo??? Ada apa lagi di Seoul?? Semua penggemarmu disini khawatir masalah keadaanmu kau tau?? Berkali-kali hashtag di twitter yang berisi get well soon Kyu jadi trending topic di twitter” omel Donghae-hyung kelihatannya Hyukkie-hyung menyalakan loudspeaker
“Jika eomma ku tak menyuruhku ke Incheon aku sudah pulang ke Cina besok pabo!! Sudahlah.. Jangan khawatir, selesai urusanku di Incheon aku janji segera ke Cina” kataku
“Yak!! Apa yang janji?? sebelum kau berangkat ke Seoul kau juga mengumbar janji yang sama“ kali ini kudengar Zhoumi si tiang listrik itu yang bicara “aaaah.. Katakan saja kau belum puas berduaan dengan Hyejin” sambar Henry disana, heh dasar mochi basi, apa maksudmu belum puas berduaan dengan si Rata itu??
“Terserah kalian.. Aku mau istirahat!! Selamat bekerja keras!!!” Ledekku dan langsung memutuskan sambungan telepon. Aku kembali menuju ruang TV di tengah dorm sudah ada Kangin-hyung dan Teukkie-hyung yang sedang menonton DVD baru dan dengan romantisnya mereka berbagi satu mangkuk besar yang penuh dengan popcorn berdua.. Film yang tengah ditonton pun film romantis mungkin adegan dua pasangan kelainan bisa kulihat disini.

Pasta..
Dulu aku ditunjuk mengisi sountrack drama ini, memang satu kehormatan untukku. Tiba-tiba dua namja yang duduk di depanku ini menoleh kebelakang dan menatapku dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan tatapan macam apa itu yang jelas ini tatapan yang mengerikan, dimana dua namja yang kelihatannya mengalami kelainan ini menatapmu seolah kau adalah mangsa mereka selanjutnya.
“A..apa?” Tanyaku
“Haaah.. Magnae Babo!! Kau ini selalu saja tak pernah mengerti kapan kau bisa seromantis Kibum dan Sica atau paling tidak setidaknya kau berlaku seperti seorang pangeran sama seperti kau memperlakukan Seohyun dulu” sambar Kangin-hyung, tanpa memperdulikan Teukkie-hyung yang baru saja akan membuka mulut, bawel sekali kau beruang madu!
“Kangin benar... Kapan kau seperti itu dengan Hyejin??” Lanjut Teukkie-hyung. Kupandangi mereka bergantian, lalu tanpa aba-aba segera kurebut mangkuk besar popcorm itu.
“Dan kapan kalian akan mengerti bahwa aku tak menyukainya Park Jungsoo dan Kim Youngwoon??? Sudah kubilang aku tak menyukainya.... Apa dengan melihatku tak akur dengannya kalian tak mengerti??” Tanyaku pada kedua namja ini, mereka menghela nafas berbarengan dan kembali menatapku tajam.
“Kau pasti akan jatuh cinta padanya nanti!!” Seru mereka bersamaan seraya meninggalkan aku sendirian di ruang tengah. Kutatap scene drama Pasta ini.. Selama aku mengisi soundtrack drama ini baru kali ini aku menontonnya. Cinta diam-diam.... Apa nantinya aku juga akan begitu??

Author's pov

Dentingan senar piano di ruang tengah rumah Hyejin terus bersahutan dengan detakan jarum jam dinding. Gadis itu belum mau mengakhiri kegiatannya, masih banyak kekurangan dalam lagu karangannya ini.. Jangan sampai begitu Kyu mendengarnya lagu ini malah jadi bahan tertawaannya,sudah pukul 10 malam namun rasa lelah belum menghampirinya berkali-kali diingatnya isi e-mail dri Kyu

“Besok jam setengah 9 aku akan kerumahmu untuk mencoba lagu itu, dan jam 12 tepat kita ke Incheon, Arra??”

Itulah isi e-mailnya, dentingan piano itu berlanjut seperti memecah kesunyian malam. Ketika memainkan piano itu teringat tiba-tiba tanggapan kakaknya mengenai ide gilanya ini

“Oppa, aku punya permintaan” kata Hyejin begitu mendengar sahutan dari teleponnya itu
“Apa?” Tanya Hyukkie dari ujung telepon itu
“Begini oppa, aku berniat memberikan lagu itu untuk Kyuhyun, bisakah setiap kali oppa memintanya menyanyi oppa merekam suaranya?? aku membutuhkannya.. Jebal oppa, aku tak mungkin minta bantuan Henry. sekalipun dia dekat dengan Kyu” jelas Hyejin, terdengar sebuah deheman dari sebrang sana
“Baiklah.. Akan kuusahakan”

“Apa Kyuhyun mau menyanyikan lagu ini?? Jika dilihat lagu ini bukan tipe lagu yang bisa dinyanyikan begitu saja.. Kurasa memang hanya dia yang bisa menyanyikannya”


Pagi yang cerah, sinar-sinar matahari menembus setiap lempengan kaca dan menjadi selimut cahaya yang menerangi ruang tengah rumah Hyejin, gadis itu tertidur di sofa putih di dekat TV setelah ia meminum kopinya jam 3 pagi tadi, akhirnya gadis itu mengaku kalah dan tertidur di sofa dengan kertas partitur bertebaran di lantai dan meja.

Ting Tong!!
Kyuhyun sudah tiba tepat pukul 9 sesuai janji, sudah keenam kalinya dia membel pintu rumah Hyejin namun tak kunjung juga mendapat sahutan dari si empunya rumah
“Aiiish.. Kemana bocah ini” keluhnya
Di turunkannya kenop pintu yang ternyata tak terkunci itu, dan melangkah masuk perlahan.. Kyu beranggapan Hyejin masih tidur di kamarnya seperti seekor sapi yang kekenyangan. Kertas-kertas partitur yang diterbangkan angin akhirnya sampai di kaki Kyu, pria itu membungkukkan badannya dan memungut kertas yang penuh coretan itu
`Saranghamnida` kalimat itu yang menjadi judul lagu diatas kertas itu, Kyu membaca bait demi bait lalu tersenyum tipis. Sembari melangkah menuju ruang tengah dia mencoba menyanyikan lagu itu dengan melodi yang sudah ada disana.
“Lagu yang lucu” komentarnya

Kyu merasa kakinya menginjak sesuatu dan benar saja ada kertas partitur di bawah kakinya, Kyu memunguti kertas-kertas itu dan memperhatikannya sebentar hingga akhirnya dia tiba di ruang tengah yang mungkin sudah berubah menjadi lautan kertas. Hampir semua sudut ruangan tertutupi selembar kertas, dan sebagai bonus Kyu mendapati Hyejin tengah tertidur di atas sofa dan sebuah cangkir putih yang masih berisi kopi di depannya. Kyu berkacak pinggang di depannya dengan seulas senyuman manis, ditatapnya gadis yang tertidur selayaknya putri tidur itu lembut.
Sebuah senyuman tersungging di bibirnya dengan jelas sementara matanya masih saja belum berpaling dari wajah Hyejin seolah hanya itulah pemandangaan yang berhasil mengunci pandangan matanya. Sejenak Kyu melihat sekeliling, begitu banyak kertas partitur bertebaran tak karuan dan itu membuatnya pusing! Satu persatu dipungutinya kertas itu lalu membacanya dan sesekali menyanyikan lagu yang ada disana dengan bantuan rangkaian melodi yang ditulis Hyejin disana, sebuah kertas dengan judul `Saram` berhasil membuat Kyu menghentikan kegiatannya sejenak dan tertegun menatap rangkaian kalimat itu.

gidarigoiss eosseumnida
mal moshaessjiman
( Yang kulakukan selama ini hanya menunggumu
meskipun aku tak mengakui itu )

bujoghan nanaleul salmyeosi
chaeugi wihae
useossda
( Semua hari tak berharga itu
Kulewati membuatku
Tertawa karenanya )

teochilo
buseojineun
sonkkeut eseo tteol eojyeo
salajyeossda
( Kau perlu tau
aku hancur
Kulewati pintu keluar itu
Kita berpisah dan menghilang )

*P.S kalo antara bahasa korea sama translatenya ga nyambung mohon dimaklumi masih belajar ^^*

Mata Kyu beralih kembali menatap sosok yeoja yang masih terlelap dalam mimpinya itu, tatapannya mencerminkan pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Kyuhyun's pov

Yeoja ini.. Apa maksudnya dengan lagu `Saram` ini?? Kenapa rasanya lagu ini ditunjukkan untukku?? Apa ini memang lagu yang akan kunyanyikan?? Entahlah.. Rasa tak tega kembali muncul setiap kali aku berniat membangunkannya, kenapa wajahnya begitu polos saat tertidur?? Wajah itu selalu membayangiku dan menghantuiku membuatku kebingungan sendiri menghadapinya, untuk ketiga kalinya kuhembuskan nafas yang masih terasa tersendat ini. Sejurus mataku kembali meliriknya, dan kembali kutatap lirik lagu `Saranghamnida`

Lagu yang menceritakan tentang seseorang yang sedang jatuh cinta namun belum bisa menerka perasaan sesungguhnya sebelum lawan jenisnya mengungkapkan perasaan lebih dulu.. Persis seperti dia.. Seohyun, lagu ini memang menggambarkan yeoja itu. Tanpa terasa senyuman kembali mengembang di bibirku, aku melangkah mendekati yeoja yang selalu kutantang kesabarannya itu dan berjongkok di depannya entah sebenarnya dia masih terlelap dalam alam bawah sadarnya atau sudah bangun sejak tadi, biarlaah.. Kulakukan ini sekilas kuharap dia tak menyadarinya

Hyejin's pov

Sesuatu menyentuh bibirku cepat, memaksa semua nyawaku bersatu dalam ragaku segera dan secepat mungkin. Kubuka mataku cepat

“NEOOO!!!” Jeritku begitu melihat sesosok namja di depan mataku dengan wajah kaget bercampur bingung, kupegangi bibirku sembari terus menatapnya tajama meminta penjelasan atas pertanyaan yang memenuhi otakku saat itu, mungkinkah?? Kami berciuman barusan?? Itu First Kiss-ku!!!!
“A..aa.. Jangan salah sangka, aku terjatuh tadi jadi tak sengaja bibirku menyentuh bibirmu” jelasnya setengah berteriak membuat mataku semakin membulat, jadi itu benar?? Bibir kami bersentuhan barusan?? Aigoo... Namja ini benar-benar sudah gila!! mau tak sengaja maupun disengaja itu pertama kalinya dalam seumur hidupku seseorang menciumku tepat di bibir. Mulutku masih terkunci belum mau memberikan pendapat, dan tanganku masih tetap dalam posisi semula, terkepal di samping tubuhku. Namja itu menjadi tak bisa diam dan sangat gelisah dimataku, aku akhirnya memutuskan untuk membuka mulutku yang terasa masih sangat sulit untuk digerakan

“Sudahlah.. Aku akan pergi mandi dan nantinya kita sarapan.. Kau pasti belum sarapan” terkaku tak kalah canggung dengannya, sesaat dia menatapku lalu menyeringai tajam membuatku sedikit menyipitkan mataku
“Kau pergi saja mandi sana.. Aku yang buat sarapan” katanya penuh dengan keyakinan yang kurasa sangat berlebihan, aku tak kuasa menahan kekehanku.
“Hahaha.. Aku tak mau memakan masakan gagal tuan Cho.. Serahkan padaku, biarpun aku tak begitu hebat dalam memasak, tapi aku ahli membuat nasi goreng dengan saus kimchi!!” Seruku seraya bangkit dari duduk, sebuah tangan kuat kembali menghempaskan aku ke punggung kursi, Kyu mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku. Sekarang nafasku tersendat begitu saja.. Mau apa dia??
Suasana hening tak ada yang membuka mulut saat itu, Kyu menatapku dengan tatapan setan yang menyebalkan itu, namun kuakui melihat matanya sedekat ini bisa membuatku meleleh jika saja seluruh tubuhku terbuat dari es batu.

“PUAHAHAHAHAHA!!!”

Kyuhyun's pov

Aku tak tahan lagi melihat wajah tegangnya itu.. Kau selalu berhasil kugoda bahkan tanpa perlu mengatakan kalimat godaan Yaak!! Lee Hyejin!! Mulutnya menganga dan langsung memukul lenganku kuat-kuat.
“Aiiiissshh” ringisku sembari mengelus-ngelus lenganku yang dipukulnya tadi
“Kau terlalu!!” Hardiknya, lalu berlalu meninggalkan aku di ruangan itu sendiri, aku mengambil duduk di kursi tempatnya terlelap tadi seraya membaca semua karya ciptaannya ini.. Sempurna, semuanya luar biasa dan punya cara sendiri untuk bisa kukagumi. Tak kusangka ini bakatmu Lee Hyejin, seharusnya kau buatkan oppamu itu lagu solo...

Kembali kubaca untaian lirik dari lagu berjudul `Saram` ini.. Artinya dalam dan sulit kujelaskan apa maksud lagunya, diotakku memang terbayang sedikit bagaimana lagunya, tapi makna dan bercerita apa lagu ini?? Perpisahan?? Ataukah kekaguman yang berakhir pahit?? Lagu yang rumit, kulirik piano yang berada di ujung ruangan ini dan membawa kertas itu memang agak ragu awalnya, namun akan kucoba memainkan lagu itu.

30 menit kuotak-atik piano ini namun hasilnya selalu tak sesuai dengan harapku, selalu tak memuaskan. Kurasakan tenggorokanku mulai mengering karna terlalu banyak bernyanyi, kuhempaskan tanganku ke atas pangkuanku dan menatap kertas itu dengan tatapan kecewa, kenapa sulit sekali menemukan jiwa lagu ini?? Sebuah gelas berisi air putih tiba-tiba muncul di depan wajahku

“Waktunya sarapan” kata yeoja pemberi gelas itu, aku menyambut gelasnya dan meminum air itu beberapa teguk sebelum akhirnyaa kutanyakan maksud lagu `Saram` yang ia ciptakan.
“Lagu itu.. Hanya ungkapan perasaan jadi wajar jika kau sulit menemukan jiwa lagunya, karna kau tak pernah merasakan di posisi itu” jelasnya singkat membuat keningku berkerut
“Lagu itu kubuat untuk kau nyanyikan” katanya lagi
“Babo!! Kau bilang kau membuat lagu ini untuk kunyanyikan tapi aku tak bisa menemukan jiwa lagunya, mana bisa kunyanyikan dengan baik??” Omelku, ya, kuakui aku rewel untuk urusan menyanyi..
“Aku tau, makanya akan kuajarkan cara menyanyinyaa setelah sarapan, Kajja” ajaknya, dengan terpaksa kuikuti maunya walaupun sebenarnya aku masih penasaran akan lagu `Saram`.

Hyejin's pov

Sejumlah pertanyaan masih membekas diotakku, ingin kuungkapkan segera namun.. aku tak berani melakukannya.. Semua itu pertanyaan bodoh yang tak ada artinya.

”Apa yang mau kau tanyakan?” Tanya namja yang duduk di depanku dan masih sibuk menyendok sarapannya bagaimana dia bisa tau isi pikiranku??
“Aku cuma mau bilang kau berbeda” kataku singkat
“Mwo?”
Kulihat kedua alisnya bertaut dan bisa kutebak dia penasaran akan maksud perkataanku. Aku tetap tersenyum tanpa menjawab perdebatan yang berkecamuk di hati namja itu, dia memang berbeda... Terkadang akupun begitu heran kenapa bisa berbeda seperti ini, selesai sarapan dan mencuci piring kudekati Kyu yang sudah kembali mengotak-atik piano. Dia penasaran rupanya..

“Kau itu berbeda, dan kadang bisa membuatku heran” kataku sembari bersandar di badan piano, sepasang mata itu kembali menatapku.
“Mwoya?”
“Kenapa di TV kau terlihat begitu tenang dan seperti malaikat tapi.. Begitu turun panggung atau tak ada kamera yang menyorot kau berubah menjadi setan bahkan raja setan yang sangat, saangat menyebalkan.. Apa kau kepribadian ganda?” Kataku panjang lebar, Kyu terus menatapku dan tak memberikan respon apapun, membuatku sudah merasa salah mengungkapkan kalimat.
“Jika aku berlaku biasa saja di depan media itu akan sangat aneh.. Seburuk apapun biasaku itu bisa jadi aib jika kutunjukan ke muka publik, arraseo?” Katanya, dengan penekanan pada kata Arraseo
“Lalu..” Aku menggantungkan kalimatku, kepalaku kembali tertunduk tak berani menatap wajahnya “kenapa ketika bersama Seohyun kau bisa terlihat seperti pangeran idaman, sedangkan ketika bersamaku... Aaah, sudahlah”
“Kau menyukaiku?” Kyu tiba-tiba menyambar selayaknya kilat ketika hujan. Aku terdiam dengan mata terus terpaku menatap wajahnya, jantungku berdegup kencang seolah semua rahasiaku terbongkar sudah, tapi aku terdiam dalam perdebatan otakku dengan hati, rahasia apa?
“Kutanya.. Kau menyukaiku??” Kyu mengulangi kalimatnya
“Iya”

Mwo?? Kau bicara apa Hyejin!!!!

TBC

Huahahahaha xD Author bahagia akhirnya selesai juga part ini!! XD horeee!!! Semoga kalian menyukainya dan semoga yang kutag membaca sampai akhir ^^ RCL ya sayaaaaang~ aku mau nonton SS3 Japan dulu sambil ngebayangin kaalo yang ditonton itu KIMCHI kemaren.
Untuk masalah dorama Pasta aku masukin disini soalnya aku lagi kena demam itu, jujur ngabisin waktu berhari-hari nulis ni part kenapa?? Ikan Babo bernama Lee Donghae gangguin terus pokoknya tersiksa lah ngetik part ini mau nulis Kyuhyun jadi Donghae mau nulis Kyu jadi Hae.. nasib memang kalo baru jadi ELFIshy xD ooke, sampai ketemu di part 10!!


Gamshamnida
Annyeong higyeseyo!!

-Lee Hyejin

Friday, August 19, 2011

Actually, That's You (7)

"Kyuhyun-ah!! Berhentilah melambung-lambungkan ponsel mu itu... Membuat risih saja" omel Sungmin yang mulai terganggu dengan tingkah Kyu yang melambungkan ponselnya ke udara, lalu menangkapnya untuk sekian ratus kalinya
"Mengapa kau protes Hyung? Biasanya kau diamkan aku" sahut Kyu yang membuat Sungmin semakin geram, Sungmin meneguk air mineralnya lalu merampas ponsel Kyu dan meletakannya di meja.
"Hyung.." Protes Kyu
"Waeyo?? Jika kau rindu pada tunanganmu telepon saja dia.. Tak usah memainkan ponselmu itu.. Ingat ini di lantai tiga dan kita tengah di balkon.. Jika ponselmu jatuh ke bawah sana.. Habislah kau" ujar Sungmin seraya meninggalkan Kyu yang memandangi ponselnya di meja.
"Siapa juga yang merindukan Yeoja bodoh itu... Mungkin dia yang merindukan wajah tampanku itu" ucap Kyu pelan

"Lee Hyejin... Kau itu ingin ponselmu jatuh????" Omel Jijae seraya menarik ponsel yang digantungkan Hyejin seakan beberapa detik lagi akan dijatuhkannya ke tanah dibawah sana.
"Kau itu merindukan Kyuhyun-hyung kan?? Telepon dia saja!! Membahayakan ponselmu saja... Kau noonaku.. Namun kau itu noona yang tak tau barang mahal" sindir Jijae, Hyejin mendaratkan jitakan di kepala saeng usilnya itu dengan wajah masam
"Ne.. Dengarkan aku.. Aku punya 2 ungkapan kalimat yang bertolak belakang dengan tuduhanmu tadi.. Pertama, aku tau betapa berharganya ponselku ini.. Dan kedua.. AKU TAK MERINDUKAN KYUHYUN.. Arra?" Kata Hyejin kemudian kembali menatap pemandangan kota Seoul dari bangunan kampusnya.
"Arraseo.. Lalu.. Jika tak merindukan Kyuhyun-hyung, lantas mengapa sejak pagi kau terus mengoceh membicarakannya padaku??"
kalimat itu membungkam mulut Hyejin, namja berambut kecoklatan ini berhasil membuatnya kehabisan kata-kata untuk membantah perkatannya, semuanya benar! Dia merindukan Kyuhyun, tapi tetap saja kalimat ini yang selaalu keluar dari mulutnya

"Aku bukan merindukannya hanya saja.. Aku kesal karena dia masih memiliki hutang janji padaku!" Kata Hyejin lagi.. Masih saja ia berkeras hati tak mau mengakui bahwa ia merindukan sosok Kyuhyun yang selalu muncul dan bercanda dengannya oh, bukan bercanda tapi beradu mulut dengannya.

Hyejin's pov

Bukan!! Sudah kubilang berkali-kali semua yang kulakukan belakangan ini bukanlah berarti aku merindukannya.. Sama sekali bukan! Namja itu pernah berjanji untuk mentraktirku es krim.. 3 hari sebelum dia pergi ke Cina.. Dan?? Lihat.. Hingga detik ini janji itu belum pernah ia tepati.
"Jika hanya sebuah janji.. Katakan saja padaku, apa janji itu." Ucap Saengku yang berisik ini, aiish.. Dia pasti menertawakan aku karena janji si Namja setan itu.. Dia pasti akan berkata aku seperti anak kecil yang menunggu janji orang tuanya untuk berlibur ke luar kota di liburan musim panas. Kugembungkan pipiku kesal, kesal dengan tingkah saengku yang hanya 11:12 dengan tingkah si Namja setan itu. Ditambah, Hyuk Jae-oppa juga tak kunjung menghubungiku sesuai janjinya.. Apa ini hari mengingkari janji?? Di hari inipun eonniku yang selalu menepati janjinya akhirnya mengingkari janjinya juga.. Dia bilang akan menemaniku membeli kue pedas.. Tapi?? Dia berkencan dengan Jongjin adik Yesung-ah. Iish.. Dasar pasangan baru..

"Hyejin.. Ayo pulaaang" rengek Jijae, tak sadarkah ia noonanya ini sedang kesal
"Aaiish.. Nanti saja...." Tolakku
"Jebal.. Aku mau membeli kue pedas dan Soju dulu" rengeknya lagi sembari terus menarik jaket abu yang kukenakan.. Mwo?? Chakkaman.. Soju.. Kulayangkaan pukulan di kepalanya
"Aaisssh... Kau ini kenapa si??" Omelnya padaku
"Kau minum soju????" Bentakku
"Hehe.. Iya, appaku dan aku sering minum soju bersama" jawabnya dengan seringaian tanpa dosanya itu
"Dulu kau bilang padaku minum soju itu tidak baik.. Lalu?? Kau meminum minuman itu?? Heh, saeng pabo!" Ejekku
"Ehehehehe... Itukan dulu.. Sekarang dan dulu itu berbeda" katanya lagi, membuatku gemas ingin meremukan wajahnya begitu mendengar nada bicaranya yang santai.. Seolah dia tak perlu mempertanggung jawabkan apa yang keluar dari mulutnya itu
"Kasihan sekali istrimu kelak" ucapku pelan seraya menarik tas selempanganku yang tergeletak di lantai.

Kukeluarkan PSP hitam pemberian Kyu mungkin dengan memainkan game bisa membuatku sedikit lebih tenang sekarang. Kulirik Jijae yang sibuk dengan earphone dan ipodnya duduk di sebelahku.. Kembali kuingat rencana untuk membuktikan apa Kyu menyukaiku atau tidak yang dibuat aktor hebat Kim Kibum dan Han Jijae.. Tanpa kusadari aku tersenyum mengingat itu semua sembari membayangkan ekspresi Kyu saat melihatku berduaan di dorm dengaan Kibum saat itu. Dan.. Senyum itu...
Aaakkh!!
Pabo!!
Apa yang baru saja mampir dipikiranku?? Kenapa jadi terbayang senyumannya saat perform menyanyi waktu itu?? Dan... Aaakh!! Ingatanku seperti diputar oleh otakku sendiri tanpa perintah dariku, kenapa selalu teringat saat dia berkata "Lee Hyejin, Saranghae!!" Di TV?? Tolong jangan katakan hal yang tak mau kudengar itu.. Kembali kuingat perkataan dosen saat itu
"Musik yang indah akan bisa dihasilkan melalui cinta"
Jangan bercanda!! Menyentuh pianopun jarang.. Mungkin sulit bagiku kembali ke kehidupan biasaku.. Dimana saat aku belum bertemu namja setan itu di gang gelap saat ia memainkan biolanya. Saat pertama kali kulihat mata dinginnya menatap manik mataku tajam..

"Kue pedasnya bi.. Seperti biasa.." Kalimat yang terlontar dari mulut Jijae membangunkan aku dari lamunanku ini. Kuhela nafas panjang
"Bi.. Kue pedasnya..." Kata-kataku terpotong begitu mendengar Jijae mengatakan sesuatu padaku
"Sejak tadi kau melamun.. Memikirkan Kyu yaa??" Godanya sembari terus menyikut bahuku pelan
"Terserah.. Bi, Kue pedas dan soju seperti biasa"
Ya, ini kedai langgananku dan Jijae, kami sering kemari dulu untuk membeli kue pedas.
"Jujur saja Hyejin-ah.. Kau merindukan Kyu kan??" Godanya lagi, membuat kuping panas saja.

Kubuka pintu rumahku pelan, ada sepatu appa disana.. Dia kembali untuk menemaniku.. Mungkin saat dia mendengar kakak akan tinggal di Cina selama 3 bulan dia pulang kerumah.

"Aku pulang appa" ucapku pelan, kuletakan bungkusan berisi kue pedas di atas meja.
"Hyejin, kau tau, ternyata Kyuhyun sudah memiliki kekasih" ujar appa membuka percakapan, aku sudah bisa menduga, Kyu tak main-main.. Dia kembali dengan Seohyun
"Jinjja?" Responku singkat sekembalinya dari dapur membawa dua piring kecil untuk kue pedas itu.
"Ani.. Appa hanya bercanda" jawab appa dilanjutkan dengan tawanya.. Sebenarnya tidak lucu namun kupaksakan untuk ikut tertawa.

Sebenarnya aku berharap.. Berharap aku bisa keluar dari perjodohan ini, perjodohan yang bertujuan untuk mendekatkan dua keluarga yang memang rekan kerja.
"Appa, apa jika aku memiliki kekasih, aku bisa keluar dari perjodohan ini?" Tanyaku pada appa, pertanyaan bodoh memang
"Ne.. Tentu saja.. Selama cincin pertunangan belum melingkar di jari manismu itu bisa kau lakukan" jelas appa sembari melahap kue pedasnya,
"Pertunangan itu tetap dilaksanakan minggu depan?" Tanyaku pada appa, dia mengangguk
"Kyu bisa mengurusnya, minggu depan dia akan kembali untuk melaksanakan pertunangan itu lalu kembali ke Cina" jelas appa.


Kujentikkan jariku mengikuti detakan jam di dinding, jam 11 malam.. Kudekati piano yang terbuat dari kayu itu, alat musik yang tak pernah kusentuh lagi semenjak mengenal Cho Kyuhyun. Kuletakan jemariku diantara puluhan tuts yang berjajar di depan mataku. Lagu ini.. Lagu yang dulu sering kunyanyikan bersama Jijae dan Eonniku.. Dan sempat kubawakan juga di atas panggung teater dengan seorang pemain biola yang ternyata dia itu Henry.

Daiji na kimi no otoshimono kidzukazu ni kaze fuite
[ Kau kehilangan hal terpenting itu dan tidak menyadari bahwa telah hal itu tertiup pergi oleh angin ]
Fukarete tonde yuku te no todokanai tooku he dokomademo
[ Ia terbang jauh di luar jangkauanmu ]
Hayaku koko ni modoranakya to boku wa hisshi ni oikaketa
[ Aku merasa harus kembali dengan cepat Jadi aku berlari dalam kepanikan ]
"Imasara maniawanai" to kimi wa iu keredo
Soredemo akiramenai
[ Kau bilang bahwa aku tidak akan mampu membuatnya sekarang meskipun demikian, aku tidak bisa menyerah ]

Nakushita mono no taisetsu sa wo mouichido hikari ni atete kagayakasetai
[ Kau kehilangan hal terpenting itu,aku ingin selalu terkena cahayanya dan membuatnya bersinar lagi ]
Omoi ga kakete kie sou nara ano hoshikuzu atsumete kimi ni todokete miseru kara
[ Dan jika akhirnya itu akan menghilang,aku akan mengumpulkan bintang-bintang yang tak terhitung (Jumlahnya) dan mengirimkannya padamu ]
Mattete
[ Tunggulah ]

Getaran yang berasal dari ponselku berhasil membuatku terkejut, siapa yang menelepon malam-malam begini?
"Yeoboseyo" kuangkat telepon itu tanpa tau darimana dia berasal, kudengar suara berat dari sebrang sana yang membuatku terdiam dia...

Kyuhyun's pov

"Oi!! Mengapa sulit sekali untuk melihatmu diam!!"

Aaaiish.. Seandainya earphoneku tidak hilang mungkin saat ini aku duduk manis disampingmu Hyung, kemana benda menyebalkan itu pergi

"Kyu!! Thanks earphonenya" celetuk Henry, hooo... Ternyata ada padanya.. Bagus sekali, kebiasaan meminjam tanpa izin semakin mendarah daging dalam dirinya.
"Kau!! Kukira hilanga,pabo!!" Omelku sembari memukul kepalanya menggunakan ponselku.
"Aaaw.. Hehe Mian.. Kau juga selalu meminjam mouse laptopku tanpa izin" balasnya, aaaah.. Selalu menjawab perkataan Hyungnya.. Dia bahkan tak lebih sopan dibandingkan aku..

Hyukjae-hyung melintas dengan ponsel barunya menempel ditelinganya.. Mungkin namja itu tengah menelepon adiknya, aku kembali menuju ruang tengah dan duduk di sebelah Heechul-hyung yang tengah menonton TV, sebenarnya aku tau dia tak mengerti apa yang dikatakan orang-orang di TV itu, mereka menggunakan bahasa Cina, namja seperti dia yang hanya sesekali ke Cina mana bisa mengerti.

"Yak! KimKyu, kau tak menelepon Hyejin-ah?" Tanya Heechul-hyung, aku menggeleng sembari terus memainkan ponselku mencari lagu yang tepat
"Aish.. Kau ini bagaimana si?? Jika aku jadi kau aku pasti sudah meneleponnya sekarang" lanjutnya lagi
"Ya sudah... Telepon saja dia jika kau ingin, aku tak keberatan" jawabku santai
"Sebenarnya tunangannya itu aku atau kamu???" Kudengar nada bicaranya menunjukan dia kesal padaku
"Menurutmu??"
"Aiish.. Sudahlah..."

"Yaak!! Kyuhyun! Hyejin sedang membuat lagu malam ini" ucap Hyukjae-hyung, aku melihatnya sebentar lalu kembali memfokuskan pandanganku menuju layar ponsel.. Heh, lagu.. Yeoja pabo seperti dia mana bisa membuat lagu, di kelas saja dia sering ketiduran mendengar penjelasan dosen.
"Lagu??" Heechul-hyung berteriak tepat di telingaku
"Yaaak!! Kau ingin aku mati??" Omelku pada Hechul-hyung, namja itu malah tersenyum kupikir tak ada yang lucu disini?? Kurasa otaknya mulai menggila..
"Ne.. Sepertinya nanti akan sangat bagus hasilnya" jawab Hyukjae-hyung
"Jinjja?? Menurutku akan biasa saja.. Dia itu bahkan memiliki suara standar" kataku santai
"Tentu saja bukan dia yang akan menyanyikan lagu itu... Tapi kau!!"
Aku terdiam sebentar mencoba mempercayai apa yang baru saja keluar dari mulut Hyungku tadi.. Aku?? Waeyo??
"Waee??" Protesku, kulihat Hyukjae-hyung mendengus kesal dan menatapku tajam setelahnya
"Aaiish.. Tanyakan saja padanya"

Kutatap layar ponselku sekilas pukul 11 malam.. Sedang apa yeoja itu.. Atau mungkin dia sudah tidur?? Besok masih ada jam kuliah untuknya jam 9.. Apa kutelepon saja?? Jika kutelepon.. Hal apa yang akan kubicarakan??

"Kyu.. Kau ini sedang apa??" Tanya Sungmin-hyung, aku tersenyum lalu menggeleng
"Hyung, menurutmu sebaiknya aku menelepon..." Belum selesai kuucapkan kalimat tanya itu, Sungmin hyung mengangguk dan menyuruhku menelepon, mungkin dia sudah tau siapa yang akan kutelpon ini.
kutekan sederet nomor ponsel yeoja itu, nomornya mudah dihafal tak seperti nomor hyung-hyungku disini.
"Yeoboseyo?" Suara itu sampai di kupingku, mungkin aku tengah tersenyum sekarang, entahlah.. Mengapa mendadak aku sesenang ini walaupun hanya mendengar suara cempreng dan stereonya itu
"Yeoboseyo.. Kau belum tidur?" Aaissh.. Otakku menggila!! Bukan itu yang mau kuucapkan!! Kulirik Sungmin-hyung, dia tersenyum geli, kujauhkan ponsel itu dari telingaku dan menatapnya tajam
"Jika kau bocorkan pertanyaan tadi ke member lain.. Bersiaplah menahan malu disiaran radio besok malam" ancamku
"Ne, Arraseo.. Sebelum aku mengganggu momen mesramu lebih baik aku keluar.. Sampai nanti Kyu" pamit Sungmin-hyung ingin rasanya kulemparkan ponsel ini kewajahnya.. Seandainya aku tak begitu menyayanginya mungkin hal itu sudah terjadi.
"Yaak! Yeoja pabo.. Kudengar dari Hyukjae-hyung kau membuat lagu.. Mengapa aku yang harus menyanyikannya???" Omelku langsung ke tujuan utama aku meneleponnya, kudengar ia mendesah disebrang sana.
"Dengarkan aku,seandainya saja aku bisa memilih orang lain akan kupilih orang itu.. Aaaaa!!! Chakkaman!! Kuajak saja Yesung-oppa" ujarnya panjang lebar
"Ya.. Ajak saja dia." Komentarku santai
"Kau tak marah?" Pertanyaaaan itu memancing tawaku untuk meledak
"Untuk apa?? Apa kau membayarku jika aku marah padamu?" Tanyaku
"aish kau itu menyebalkan Kyu.." Keluhnya, membuat tawaku semakin tak mampu kutahan lagi, aku menertawakannya.. Dasar yeoja pabo..
"Ngomong-ngomong tumben kau meneleponku.. Waeyo?? Kau rindu padaku" astaga.. Percaya diri sekali yeoja aneh ini
"Bagian mana dari tubuhmu itu yang bisa kurindukan flat!"
"Mwo?? FLAT?? Sudah kuilang berhenti memanggilku Flat!!" Omelnya.. Suara stereonya itu tetap tak berubah
"Sampai jumpa" kataku seraya mengakhiri pembicaraan itu.. Sebuah senyuman kembali tersungging di bibirku, senang bisa menggoda Yeoja gila itu walau hanya lewat telepon.. Haha.. Tak bisa kubayangkan bagaimana ekspresi kesalnya saat kupanggil flat.. Drama akan di mulai Lee Hyejin.. Kuharap kau sudah siap dan akan menyukai drama buatanku ini..

Author's pov

Matahari sudah berangkat dari peraduannya dan menyinari seluruh ibu kota Seoul ini ke setiap sudutnya, termasuk kamar Hyejin, jam menunjukan pukul 6 pagi.. Yeoja itu sudah berkutat dengan alat masaknya di dapur setelah membaca memo yang ditinggalkan ayahnya di atas kulkas menandakan dia sudah berangkat ke kantornya. Masih terekam di ingatannya pukul 11 malam kemarin Kyuhyun meneleponnya dan memutuskan telepon begitu saja

"Namja pabo.. Aku bersyukur tak bisa melihat wajahmu 3 bulan kedepan!! Kuharap Kibum cepat pulang dan menyelesaikan rencana ini.. Dan malam ini, aku harus bisa membujuk appa untuk memundurkan hari pertunangan itu.. Harus bisa!!" Katanya semangat, entah apa yang melatar belakangi ide gilanya untuk membujuk ayahnya, Hyejin yakin Kyu pasti punya sesuatu di balik tingkahnya semalam.. Tak biasanya namja itu menghubunginya malam hari sekalipun untuk mengomelinya tak jelas.

"Mianhamnida Cho Kyuhyun.. Aku belum bisa menerimamu masuk ke kehidupanku lebih dalam dari ini.. Sudah cukup kau mengobrak-abrik perasaanku belakangan ini" ucap Hyejin dalam hatinya, Kyuhyun bukanlah pelaku.. Dia juga korban.. Perasaan namja itu juga sudah teraduk-aduk oleh Hyejin, keduanya sama-sama merasakan perasaan yang sama.. Rasa yang datang dan pergi begitu saja.


Kelas musik modern sudah ramai akan siswanya yang rata-rata namja itu. Jijae duduk di kursi Kyu dan memainkan iPodnya, Hyejin yang baru melangkah memasuki kelas menatap namja itu sambil tersenyum lalu duduk di sebelahnya, dia berkacak pinggang di samping namja itu dengan senyuman jail mengembang di wajahnya. Dengan satu hentakan di tariknya earphone milik Jijae lalu duduk di bangkunya.

"Aiish.. Kau noona yang mengganggu" omelnya seraya membetulkan letak earphonenya
"Namja paboya!" Balas Hyejin sembari menjulurkan lidahnya

BUKK!! Sebuah buku mendarat di kepala Hyejin dengan sukses, eonni kesayangannya sudah tiba di kelas rupanya.. Hyejin membetulkan posisi duduknya dan membalas perbuatan eonninya itu dengan memukulkan buku itu ke lengan eonninya.
"Aiish.. Kau nakal sekarang" suntuk eonninya itu
"Hehehehe" seringaian tanpa dosa itu muncul di wajah Hyejin
"Kau semakin mirip dengan Kyuhyun-ah" kata Eonninya singkat, Hyejin merundukan wajahnya mirip?? Tentu saja Hyejin tak setuju ia dikatakan mirip dengan Kyuhyun, namja yang selalu menyebalkan di matanya itu.
"Mirip??? Iish.. Aku tidak sudi disamakan dengannya" gerutu Hyejin
"Pedas di mulut manis di hati" goda eonninya, Hyejin menolehkan kepalanya cepat dan menatap eonninya tajam
"Apa maksudmu 'pedas di mulut manis di hati' ??" Tanya Hyejin
"Aaah.. Kau seperti tak mengerti saja.. Itulah kau Lee Hyejin.." Seru Eonninya di depan matanya, Hyejin membulatkan matanya

Hyejin's pov

"Pedas di mulut manis di hati" goda eonniku, aku menolehkan kepalaku cepat dan menatap eonniku ini tajam.. Yaaak!! Lee Eunhwa.. Apa kau ingin di bakar setengah matang dan kujadikan sup?? Heh, seandainya aku tau dagingmu itu enak dimakan atau tidak, mungkin sekarang aku sudah membunuhmu.
"Apa maksudmu 'pedas di mulut manis di hati' ??" Tanyaku ketus
"Aaah.. Kau seperti tak mengerti saja.. Itulah kau Lee Hyejin.." Serunya tepat di depan mataku.. Aku memundurkan wajahku.. Tak pernah berada sedekat itu dengan orang lain.. Sekalipun itu kakakku.

14 jam berada di lingkungan kampus membuatku benar-benar merindukan suasana di rumah yang tenang.. Jika kuperkirakan mungkin appa akan tiba di rumah pukul 7 malam, yaa.. Siapa tau?? Jijae menghampiriku dia bilang aku dipanggil dosen itu lagi.. Entah ceramah seperti apa lagi yang akan ia berikan.

************************

Memasuki ruangan yang selalu beraroma kopi ini membuatku seperti kembali ke awal semua ini.. Disaat dosen atau profesor Park mengatakan bahwa musik yang indah dari cinta. Mengingat itu membuatku kembali tersenyum.. Mungkinkah ia sesukses ini karena cinta itu?? Entahlah

"Sudah lama bukan aku tak bertatap muka denganmu Lee Hyejin" sambutnya aku tersenyum, beliau tengah duduk di depan piano putih yang ada di kantornya ini.. Sungguh seperti tuan besar di istana putihnya.
"Ne." Jawabku singkat
"Sudah lama aku tak mendengar lagu Neorago yang saat itu kau mainkan untukku" katanya lagi.. Aku mengangkat wajahku.. Memang saat itu kumainkan lagu yang paling sering kudengar itu untuknya, walaupun saat itu aku yakin permainan ku sungguh jelek..
"Ne.." Jawabku lagi, beliau tersenyum dan merangkulku kemudian mempersilahkanku duduk di kursi pianonya.
"Profesor Park, anda benar-benar ingin mendengarku memainkan lagu itu dengan teknik asal yang kubuat?" Tanyaku, beliau tertawa... Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Permainanmu bagus dan aku menyukainya... Mainkanlah" pintanya, rasa gugup mulai menjalari tubuhku.. Aaaaish selalu saja seperti ini!!


Kyuhyun's pov

Aku terduduk di sofa abu bersama Ryeowook-hyung, sesekali aku meliriknya...
"Kyu... Kenapa kau melihatku seperti itu?? Ada yang salah denganku" tanyanya
"Ani.. Kau sudah berdandan dengan sangat sempurna" pujiku, dia tersenyum lalu menyikut lenganku
"Ya.. Kau tak pernah memujiku dengan kata sempurna sebelumnya.. Apa kau sakit??" Tanyanya, sudah dipuji bukannya berterima kasih dia malah menghinaku
"Aaish.. Memangnya salah jika aku memujimu??" Gerutuku
"Aah.. Kyu kau marah?" Tanyanya, iish.. Mungkin aku bisa dikira homo dengannya jika tingkahnya sudah seperti ini
"Sudahlah.. Aku mau menemui Sungmin-hyung." Elakku seraya meninggalkannya di ruangan itu.. Terlintas di pikiranku untuk menemui si Eunhyuk daripada Sungmin.. Entah apa yang terjadi denganku hingga aku ingin bertemu dengan namja itu.. Aku menghela nafas panjang sembari membetulkan letak topi hitamku.. Kulihat namja yang kucari itu tengah memegang Handycamnya bersama Sungmin-hyung.. Mungkin mereka sedang membuat rekaman aneh lagi... Bersyukurlah itu bukan rekaman yadong.

"Yaaak!! Kyuhyun-ssi... Kemaari!!" Serunya, dengan langkah gontai kudekati mereka..
"Yaa, mengapa kau ajak Kyuhyun juga?" Keluh Sungmin-hyung
"Aku menganggu?" Tanyaku pada mereka.
"Biarkan saja namja aneh itu berkoar Kyu, kita buat rekaman unik" ajak Hyukjae-hyung, aku tersenyum simpul melihat ekspresi Sungmin-hyung saat namja ini mengajakku
"Yaak!! Kyuhyun-ssi.. Kau ikut saja denganku" ajak Sungmin-hyung yang di detik itu juga menarikku entah ke mana.

Pergi berdua dengan Sungmin-hyung, haha entah kenapa aku malah membayangkan hal ini ke tingkat kencan.. Kurasa otakku mulai teracuni dengan Fanfiction pemberian Heechul-hyung kemarin.

Hyejin's pov

"Kudengar dari Eunhwa-yang kau sudah memiliki pendamping hidup?" Tanya prof. Park, jelas saja pernyataan itu membuatku kehabisan kata-kata, dasar Eon mulut ember!!
"Ne.." Jawabku singkat dengan pandangan yang masih tertuju pada buku catatan berisi not balok lagu ini.
"Jika dia takdirmu.. Pastikan kau mencintainya" katanya lagi sembari menepuk pundakku pelan

Aiish.. Apa maksud perkataannya itu?? Aku sungguh tak mengerti apa yanag dia bicarakan, mungkinkah si setan itu membayar Prof. Park untuk mengatakan hal itu?? Aah!! Pabo!! Mana mungkin Namja itu berani melakukan hal itu, kutatap lagi buku catatan yang baru terisi setengahnya ini, lagu ini takkan pernah selesai jika sampai detik ini aku belum menemukan siapa yang akan menyanyikannya.. Seandainya Henry ada disini mungkin akan sedikit lebih mudah untukku, bocah itu punya banyak kenalan yang berprofesi sebagai penyanyi.

"Lee Hyejin!!!!" seru seseorang tepat di telingaku, benar-benar bisa menyebabkan serangan jantung mendadak, kupukul kepalanya menggunakan buku catatan ini dan ternyata berhasil membuatnya meringis kesakitan
"Yak!! Apa kau punya otak?" Sungutku, orang itu hanya tersenyum lalu merangkulku
"Ne, kudengar kau sedang dalam masalah bagaimana jika aku membantumu?" Tawarnya
"Mwo?? Bahkan aku tak mengenalmu" kataku ketus
"Yaaakk!! Tega sekali kau aku hanya mengejutkan mu begitu saja kau langsung membenciku" keluhnya, aku tersenyum licik sembari meliriknya sebentar, dasar saeng paboya! Di goda sedikit saja merengut seperti itu, namja itu kini duduk di sebelahku
"Mianhae" lirihnya, aku menggigit bibir bagian bawahku untuk menahan tawa yang sepertinya akan meledak seperti ini "Aaaaah... Kau mengerjaiku" pekiknya begitu melihatku membungkam mulutku sendiri
"Ahahahahahaha Gotcha!"
"Aaish.. Kau membuatku jantungan tau" omelnya
"Kau juga membuatku hampir mati tadi.." Balasku, lagi-lagi seringaian tanpa dosa itu..
"Ya.. Jijae kau..." Kalimatku terpotong kurasakan ponselku bergetar dalam saku jaketku, dari appa?

"Ne.. Appa?? Mwo?? Jinjja?? Aah.. Ne.. Anniyo, hehehe baiklah... Ya,ya,ya,ya nanti kukirimkan namja aah.. Maksudku Kyu e-mail.. Baiklah" telepon terputus, senyuman kemenangan mulai mengembang di wajahku, kupandangi Jijae yang mulai memasang ekspresi ada yang tidak beres
"Yaaaak!!! Jijae!!! Aku selamaaat!!!" Pekikku dan langsung memeluk namja yang ada didepanku
"Selamat?? Ma...maksudnya?" Tanyanya padaku
"Minggu depan, bukanlah hari pertunanganku dengan namja paboya itu.. Orang tua dari keluarganya bilang pertunangannya terlalu cepat" jelasku
"Jadi??"
"Aku akan mengerjai namja itu dengan tak mengiriminya e-mail yang appa suruh kukirimkan padanya... Dia akan kembali ke Korea tapi begitu ia tiba disini pertunangannya dibatalkan" aku membocorkan rencanaku pada Jijae, ini saatnya aku menunjukan siapa aku sebenarnya pada namja setan itu
"Seandainya kaka Kyuhyun-hyung memberitaunya bagaimana?" Tanya Jijae
"Yaa... Tak apa, bukan masalah besar untukku" jawabku santai "ya! Mari kita pulang.. Aah ya, Jijae, soju kemarin tertukar kau memesan 50% bukan??"
"Ne.. Kenapa?"
"Punyamu malah terbawa padaku, untunglah appa yang meminumnya bukan aku"
"Jinjja?"


Author's pov

Kyu masih tersenyum sembari menatap layar ponselnya, dia merasa semua yang dia rencanakan berjalan lancar..

"Kyuhyun-ssi.. Mengapa kau tersenyum begitu?" Tanya Sungmin yang mulai risih melihat saeng kesayangannya ini tersenyum sambil menatap layar ponselnya
"Ani.. Minggu depan, kau ikut ke Korea?" Tanya Kyu
"Tentu saja tidak.. Aku banyak urusan disini, yah.. Kau tau lah" jawab Sungmin, Kyu merasa agak kecewa Sungmin tak bisa menyaksikan apa yang dia lakukan di Korea nanti
"Kau pikir ini semua kemauan Eommaku kan Lee Hyejin, seandainya kau tau ini semua rencanaku akan seperti apa jadinya... Selamat datang di drama Cho Kyuhyun"

*********************

Hari kepulangan Kyu ke Korea

Sebuah mobil berhenti di parkiran bandara internasional Seoul, seorang gadis manis turun dari mobil itu dia Hyejin, ini pertama kalinya dia mengemudikan mobil itu.. Bersyukurlah di perjalanan tak terjadi tabrakan tadi. Dengan langkah cepat Hyejin memasuki bandara, berharap pesawat dari Shanghai belum mendarat. Senyuman semakin mengambang di wajah manisnya begitu mengetahui pesawat itu belum mendarat.

"Kyu mungkin akan datang bersama rombongan Super Junior.. Woaah.. Terlalu banyak ELF yang berkumpul" keluh Hyejin, dia mengakui kekurangannya, dengan tubuh pendeknya itu tak mungkin ia bisa melihat Kyuhyun datang dengan teman-temannya yang lain.

PUK!
"Aiish.." Ringis Hyejin, saat berbalik, betapa terkejutnya ia melihat Kyuhyun sudah berdiri di belakangnya dengan masker hitam menutupi sebagian wajahnya
"Ya.. Kau tak mengirimiku e-mail kan?? Seharusnya aku tak pulang ke Seoul pabo!" Omel Kyu, Hyejin tersenyum
"Ne.. Aku sengaja" jawabnya lantang
"Hooo... Idemu bagus yeoja pabo!! Untunglah aku disini hanya sampai lusa.. Jadi aku bisa tak melihat wajahmu untuk 3 bulan kedepan, aah.. Ya, mengapa tak kau kirim e-mail itu?? Kau ingin aku pulang karna kau merindukan aku" ucap Kyu panjang lebar
"Yak! Percaya diri sekali kau.. Bukan itu!!" Elak Hyejin
"Lalu?"

Hyejin's pov

Aku terdiam, aiish.. Namja sial ini berhasil membungkam mulutku, sekarang bagaimana?? Aku belum memikirkan alasan untuk mengelak, kulirik namja gila ini dia tersenyum, senyuman evil itu lagi. Tanpa banyak bicara dia menarikku keluar bandara entah kemana.

"Yaak!!" Hardikku
"Diam! Jangan mencari perhatian.. Rombongan Super Junior akan datang satu jam lagi.. Jangan mencolok atau wartawan itu akan curiga" ujar Kyu pelan, dia menunjuk sekumpulan wartawan
"Memangnya kenapa?" Tanyaku polos, Kyu membuka maskernya
"Si ember Kangin membocorkan aku sudah memiliki tunangan dan memberi tau bahwa itu kau! Adik Eunhyuk-hyung, aku sengaja datang lebih awal untuk mengelabui wartawan" jelas Kyu, aku menganggukan wajahku, jadi begitu.. Kangin-oppa memang tak pernah bisa menjaga rahasia, aku sudah tau itu dari Hyuk-oppa tapi tak kusangka mulutnya bisa sebocor itu hingga memberi tau identitasku juga.
"Apa Kangin oppa juga memberitau namaku?" Tanyaku lagi, Kyu berhenti melangkah dan menatapku sebentar lalu mengangguk

Aigooo!!!
Ingin rasanya kubunuh namja bernama Kangin itu!! Ini akan jadi gosip hangat di Kyunghee...

Kunikmati pemandangan seluruh Seoul dari puncak tower ini, sudah lama rasanya tak kuinjakan kakiku ke tempat ini.

"Ya.. Kyu-oppa kau ingat dulu saat SMP aku pernah bilang ingin ke tempat ini bersamamu?" Tanyaku, Kyu menatapku sebentar kedua alisnya bertemu sepertinya dia sedang berusaha mengingat-ingat
"Aah iya.. Saat itu kubilang itu impian semu kan?" Jawabnya, aku tersenyum lalu mengangguk, dia masih ingat rupanya
"Jeongmall Gomawoyo.. Saat itu kau yang mengobati lukaku." Kataku lagi
"Mwo?? Luka apa?"
"Luka saat jatuh dari pohon itu pabo!!" Ejekku
"Aaah.. Entahlah aku tak ingat" ish.. Kukita dia ingat, sudahlah... Tak kusangka namja pabo dan gila itu tumbuh dewasa menjadi seperti sekarang, pipinya yang putih dan kenyal seperti agar-agar itu pun kurasa sudah menghilang, tubuhnya yang pendek juga berubah dulu dia hanya setinggi bahuku sekarang aku yang hanya setinggi bahunya.
"Kenapa diam?" Tanya Kyu "kenapa tak mengoceh seperti biasanya?"
"Kau mau aku mengoceh??" Tanyaku balik
"Tentu tidak, sudah bagus kau diam seperti tadi.. Rasanya seperti damai surga" katanya santai
"Jadi kalau aku bicara kau tak bisa merasakan damainya surga?" Tanyaku ketus
"Betul sekali, lebih tepatnya aku lebih merasa berdiam di kandang ayam.. Berisik sekali"
Akh!! Namja ini.. Baru 4 jam lebih ia tiba di Seoul dan baru saja 4 detik yang lalu dia membuatku terkena serangan darah tinggi lagi, hebat sekali Cho Kyuhyun, jika saja aku memiliki bazooka atau G-Tongfa pasti sudah kugunakan untuk membunuhmu.

Pukul 4 sore, sudah seharian aku dan Kyu berkeliling Seoul tanppa sepengetahuan wartawan. Beruntung sekali, Kyu memberhentikan mobilnya di sebuah gereja. Dia mengajakku masuk, gereja yang besar dan luas *jadi inget drama You're Beautiful :3* Kyu mengambil tempatnya dan mulai berdoa. Aku mengambil tempapat 2 bangku dibelakangnya dan mulai berdoa juga.

Sebuah doa yang menggelikan dimana aku berharap bisa mengerti tentang perasaan ini dan bisa menerima namja yang duduk di sebelahku ini apa adanya. Kulirik Kyu yang duduk di sebelahku

"Kau memotong rambutmu?" Tanyaku, Kyu menoleh, dia menatapku melalui kacamata yang membingkai matanya itu
"Sedikit.. Kenapa?" Tanyanya
"Kau.. Terlihat bagus dengan rambut yang sekarang" kataku ragu-ragu, tapi memang itu yang kulihat
"Jinjja? Hahaha dasar yeoja aneh" lihat, sudah kupuji dia balik menghina.
"Ayo pulang" ajaakku padanya
"Waeyo? Kau marah" katanya, aku meliriknya sebentar lalu menggeleng
"Ani.. Aku lapar" jawabku jujur, Kyu tertawa aish.. Anak ini...
"Baiklah kita makan lalu kuantar kau pulang" katanya, aku mengangguk lalu melangkah menuju mobil
"Hyejin" panggil Kyu, kuhentikan langkahku dan berbalik, Kyu tak lagi memakai kacamata hitamnya.. Kini aku bisa melihat matanya menatapku tajam seolah memancarkan sinar keseriusan dari tatapan dinginnya itu
"Kau terlihat cantik jika menguncir rambutmu kebelakang seperti itu, aku menyukainya" katanya padaku.. Membeku dan tak mampu berkata-kata, itulah yang kurasakan
"Tapi ada yang kurang" lanjutnya, tangannya dengan luwes melepaskan kunciran rambutku dan mengeluarkan sebuah jepitan dari saku jaketnya dan memakaikan jepitan itu di rambutku, aku masih membeku layaknya manekin di pusat perbelanjaan. Tapi.. Itu hanya tampak di luar.. Sebenarnya aku merasa ingin berlari dan sembunyi sekarang!! Jantungku berdegup kencang seakan sebentar lagi akan berhenti detakannya
"Begini lebih cantik" katanya lagi "neomu yeopo, Chagi" dia menepuk kepalaku pelan, dan senyuman itu.. Senyuman yang berhasil membuatku merasa seperti mayat hidup, kurasakan jantungku berhenti berdetak dan aliran darahku berhenti begitu saja, satu-satunya yang kurasakan hanya bagian wajahku yang mulai hangat. Ya.. Wajahku memerah.. Seperti kepiting rebus kurasa
"Ya.. Ayo, kita pergi makan!" Seruan Kyu itu membuatku tersadar dari mimpi surgawiku yang singkat itu. Mimpi?? Entahlah yang jelas namja sial itu berhasil membuat lidahku kelu di menit-menit yang lalu.

Hyejin's pov

Kau sudah membuatku kehabisan akal serta kata-kata akan tingkahmu tadi Kyuhyun. Entah perasaan seperti apa yang tengah melanda hatiku ini, tak mungkin kutebak begitu saja, selalu ada senyuman manis yang entah tulus dari hatimu atau tidak terbayang di otakku. Dalam perjalanan sunyi ini aku belum berani membuka mulutku, hanya berani melihatmu melalui ekor mataku yang selalu memperhatikanmu tanpa sepengetahuanmu di dalam mobil ini. Kepalan tanganku semakin mengerat setiap kali matamu mengarah padaku, pada yeoja yang pastinya terlihat begitu kikuk dan ling lung ini, tak mungkin ini pertanda adanya rasa cinta untukmu Cho Kyuhyun kau cuma tersenyum.. Bukan mencium pipi atau keningku, tapi.. Bagaimana jika itu terjadi?? Aaaakkkhhh!!!! Hentikan drama bodoh ini Lee Hyejin!! Apa Setan itu menyelipkan satu cairan atau mantra dalam jepitan yang kugunakan ini?? Mengapa rasanya aku begitu terlelap dalam sebuah mimpi buruk yang rasanya ingin segera kutinggalkan itu.

“Ya, kita sudah sampai.. Mau sampai kapan kau melamun?? Atau kau lebih suka kukurung di dalam mobil nona Cho” suara bas itu sampai di telingaku, merdu sekali.. Hingga rasanya ingin kulemparkan tas yang kuselempangkan di tubuhku ini. Tak sadarkah dia, perlakuannya tadi itu yang membuatku seperti ini?? Seandainya kau tak melakukan itu padaku mungkin aku takkan melamun Pabo!!

Kubuka pintu mobil ini kasar begitu juga saat aku menutupnya, rasanya tak usah kuperdulikan ini mobil dinas appa asalkan emosiku yang akan meledak ini akan mereda begitu kulampiaskan pada pintu mobil ini.

“Tak kusangka kau memiliki tenaga raksasa” kata Kyu lagi sembari menepukan kedua tangannya seolah kagum akan tingkahku, aku mendelik padanya
“Kurasa kau bisa melempar Shindong hyung dengan tenaga raksasamu itu” lanjutnya, namja ini kini berdiri di depanku, tubuhnya sedikit membungkuk dan mensejajarkan wajahnya dengan wajahku, segera kualihkan pandanganku, jangan sampai jantungku meloncat keluar dari tubuhku begitu menatap senyuman anehnya lagi.
“Aku lebih tertarik melemparmu ke inti matahari daripada melempar Shindong oppa” kataku ketus, dia tersenyum tipis aku bisa melihat itu melalui ekor mataku yang tak bisa berhenti menatapnya. Kurasakan telapak tangannya berada di puncak kepalaku, kutolehkan wajahku dan dengan terpaksa bisa kulihat senyuman yang sama persis dengan yang tadi.
“Jika kau bisa melakukan itu, maka kau yang akan merugi..” Katanya singkat, tangan yang tadinya berada di atas kepalaku dengan cepat melingkar di pergelangan tanganku lalu menarikku mengikutinya memasuki salah satu restoran di dekat sungai Han.

“Aku takkan merugi.. ” Bantahku.. Memang sedikit terlambat, tapi tak apalah lebih baik terlambat daripada tidak membantah sama sekali
“Selain memiliki tenaga raksasa ternyata kau lumayan lemot” kata Kyu lagi.. Kau ingin merasakan pukulanku hah?? CHO KYUHYUN??

Author's pov

Mereka berdua menjadi satu-satunya pasangan yang tidak mengobrol sama sekali dalam restoran itu. Matahari mulai tenggelam dan sinar yang berasal dari lampu-lampu yang tertanam di langit-langit memancarkan sinar redup, beberapa orang pelayan mulai mengelilingi seluruh restoran dan menyalakan setiap lilin yang ada di meja makan para tamunya ataupun obor kecil yang tertempel di tiang-tiang kayu penyangga bangunan ini.

“Kita sudah duduk disini selama 15 menit.. Dan selama itu juga kau belum menentukan pesananmu!” Gerutu Hyejin yang mulai geram melihat tingkah Kyuhyun yang hanya memperhatikan buku menu dan membolak-balik halamannya.
“Dasar.. Kau memang benar-benar seperti raksasa yang tak sabar menunggu makanannya datang” kata Kyu santai, Hyejin mengepalkan kedua tangannya lebih erat lagi, begitu melihat sebuah senyuman yang mengembang di bibir Kyuhyun.
“Dan jika kau membuatku menunggu lebih lama lagi.. Akan segera kumakan kepalamu itu” sungut Hyejin, Kyuhyun tak menanggapinya sama sekali membuat gadis itu semakin kesal dengan tingkahnya.
“Kau tetap takkan bertambah pintar sekalipun sudah melahap kepalaku Hyejin, kau tetap menjadi gadis yang bodoh” kata Kyu dengan mudahnya, Hyejin melemparkan pandangannya ke sekitar restoran malas menatap wajah Kyu yang terus memamerkan senyum kemenangan yang memuakkan.

“Kenapa aku harus bertemu dengan orang yang menyebalkan seperti dia?? Tuhan.. Apa kau menguji kesabaranku untuk tak membunuhnya???” Batin Hyejin berucap. Memang setiap kali bertemu dengan Kyu kesabaran Hyejin selalu diuji. Belum lagi degupan jantung gadis itu yang selalu tak menentu jika berhadapan dengan Kyu.

Selesai menyantap hidangan makan malam, pasangan itu kembali masuk ke dalam mobil. tapi, Kyu hanya mengambil tas ransel hitamnya lalu menutup pintu mobil, Hyejin yang merasa heran turun dari mobil dan menjegat Kyu yang akan beranjak meninggalkannya
“Kau mau kemana?” Tanya Hyejin
“Pulang”
“Kenapa kau tak naik ke mobil?”
“Aku akan ke dorm menggunakan bis, hari sudah gelap jika aku pulang ke dorm menggunakan mobilmu.. Kau bisa kemalaman tiba di rumah” jelas Kyu, Hyejin terdiam.. Sekarang dia mengerti kenapa Kyu meninggalkannya di tempat itu.
“Ya sudah... Hati-hati di jalan” katanya pelan, Kyu tersenyum lalu menepuk kepala Hyejin pelan.
“Apa maksudnya `hati-hati di jalan` kau mengkhawatirkan aku?” Goda Kyu, Hyejin menganga.. Khawatir??
“Mwoya?? Khawatir padamu?? Cih~ apa kau membayarku untuk mengkhawatirkan mu?” Katanya ketus
“Baiklah, aku akan berhati-hati nona Cho.. Kau juga hati-hati, aku tak mau kecelakaan atau semacamnya karena aku malas menangisimu.. Arra?” Balas Kyu, Hyejin mengangguk cepat sembari menepis tangan Kyu dari atas kepalanya
“Arraseo”

Hyejin's pov

Jalanan Seoul yang penuh dengan kendaraan dan lampu-lampu mobil menjadi pemandanganku malam ini. Heh.. Pria itu benar-benar menyebalkan, dia berkata dengan ringannya seperti tak pernah ia pikirkan lebih dulu, aku tau memang begitu sikapnya dan mungkin itu sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Kurasakan jepitan itu masih berada di kepalaku, perlahan kulepaskan jepitan berbentuk pita dengan warna keperakan itu dari rambutku. Sinar kemerahan yang terbias di atasnya menandakan lampu lalu lintas di atas mobilku belum memberikan aba-aba untuk maju, jika menatap jepitan ini aku selalu terbayang akan senyuman Kyu barusan. Dia Pria menyebalkan namun memiliki senyuman seindah senyuman malaikat, aku tak menyangka dia itu setan yang sesungguhnya jika senyumannya semenawan itu.

Warna merah yang terbias diatas jepitan itu tiba-tiba berubah menjadi warna hijau dan berbagai bunyi klakson dari mobil di belakangku mulai menjerit memaksaku untuk maju.

************

Deringan ponsel mengusik tidurku untuk kesekian kalinya. Siapa sebenarnya yang sudah mengganggu tidur di liburanku pagi ini?? Dengan malas kukeluarkan ponselku dari bawah bantal dan melihat siapa yang sudah meneleponku dari pukul 8 pagi. Baru akan kutekan tombol hijau tanda kumenerima telepon ini deringannya mati.

Stupid Evil

Apa yang namja itu pikirkan? Apa dia mau merusak kedamaianku?? Kukembalikan ponselku ke tempat dimana tadi aku menyimpannya dan bersiap kembali tenggelam dalam dunia mimpiku. Baru beberapa detik kumenutup mataku, ponselku kembali berdering.. Baiklah Setan menyebalkan kau menang.

“Yeoboseyo” kataku setelah mengangkat telepon itu
“Kenapa sulit sekali kau mengangkat telepon dariku?? Aaa!! Kau masih tidur kan? Bangun!!” Katanya dari sebrang sana, heh, kau baru saja merusak mimpiku dan masih saja memerintahkanku untuk bangun
“Kau sudah mengumpulkan semua nyawaku sejak pukul 8 pagi tadi dengan paksa sekarang kau menyuruhku untuk bangun?? Apa kau tak punya otak” jawabku ketus, bisa kudengar dia menghela nafas di sebrang sana
“Yak! Cepat ke dorm” katanya cepat, kulirik jam dinding yang tergantung di salah satu dinding kamarku.. 8:30 pagi, semua member pergi siaran di sebuah talk show kenapa setan ini masih di dorm? Apa dia mengerjaiku?
“Cepat! Sebelum jam 9 kau sudah harus tiba disini.. Jika tidak yang akan menderita adalah kakakmu” ancamnya dan langsung memutuskan telepon begitu saja. Dia menjadikan kakakku sebagai tumbal Aigoo~ kenapa tuhan mencipatakan mahluk sepertinya si??

Pintu dorm terlihat sepi seperti tak ada penghuninya, benarkah setan itu ada didalam? Atau dia ikut bersama semua member ke tempat siaran? Kutekan bel setelah mempertimbangkan jika saja setan menyebalkan itu mengerjaiku.

“Nuguseyo?” Tanya seseorang di dalam, itu suaranya.. Kenapa dia masih ada di dorm?
”Hyejin” jawabku singkat, pintu mulai terbuka dan bisa kulihat kepalanya menyembul diantara sela-sela pintu. Entah senyuman macam apa yang menyambutku itu yang jelas itu membuatku malas bertatap muka dengannya.
”Masuk”

“Yaak, Oppa ada apa kau memanggilku kemari?? Dan kenapa kau tidak ke tempat siaran?” Tanyaku sembari melepaskan sepatu kets yang kugunakan.
“Aku disini karena ulahmu.. Seharusnya aku di China dengan member Super Junior M. Akan aneh jadinya jika tiba-tiba saja muncul bersama member Super Junior sekarang, karena seharusnya aku berada di China bukan Seoul” jelasnya, benar juga haha.. Ini semua karenaku. Kyu menuntunku masuk ke dalam dorm yang sepi ini, baru saja aku akan duduk di sebuah kursi di ruang tengah Kyu tiba-tiba saja berkacak pinggang di depanku dengan tatapan tajamnya.
“Waeyo?” Tanyaku
“Buatkan aku sarapan!” Perintahnya seolah memerintah budak “mwo?? Apa maksudmu?” tanyaku lagi
“Aku menyuruhmu kemari agar kau membuatkan aku makanan Lee Hyejin” sungutnya, aku menautkan alisku tak mengerti,
“Jangan diam saja... Aku sudah lapar!” Katanya lagi dengan nada seperti orang memerintah. Hei! Aku bukan budakmu!!
“Andwae! Kau masak saja sendiri” tolakku sembari menatap ke arah lain
“Tak usah mengejekku !! Kau tau aku tak bisa memasak kan?” Tanyanya, ya aku memang tau dia payah sekali dalam urusan memasak. Dasar pria merepotkan.. Aku melepaskan jaket yang kugunakan dan kusodorkan pada Kyu begitu saja.
“Yaak!!” Omelnya, tak kupedulikan ocehan berisiknya itu aku terus melangkah menuju dapur. Dapur yang lumayan lengkap kubuka pintu lemari es dan menemukan sebungkus mi spagetti, sarapan Spagetti bukanlah ide yang buruk walau sebenarnya bukan sarapan sehat.

Selesai memasak kuletakan sepiring spagetti di depan Kyu yang sudah duduk di meja makan. Dia menatapku sekilas lalu kembali memerhatikan spagetti yang sudah tersaji di depannya
“Sudah kubuatkan” kataku ketus “ada lagi tuan muda?”
“Apa ini enak?” Tanyanya, pertanyaan macam apa itu?? Sepayah-payahnya aku memasak setidaknya aku belum pernah membuat makanan yang tidak enak “apa ini bisa membuatku masuk rumah sakit?” tanyanya lagi dia menatapku polos. Aku mengambil kursi dan duduk di dekat Kyu lalu memangku daguku dengan tangan kiri di atas meja makan
“Kurasa itu cukup untuk membuatmu mati disini” jawabku enteng, Kyu menaikkan sebelah alisnya begitu melihat senyuman jailku
“Baiklah.. Jika aku mati jangan datang ke pemakamanku” balasnya tak kalah tajam.

“Tak kusangka gadis bodoh, ceroboh dan `Rata` sepertimu bisa membuat masakan seenak ini” katanya menyindirku dengan penekanan pada kata `Rata`.
“Gomawo oppa” jawabku
“Cheonma, aah.. Ya.. Nanti sore kau ada acara?” Tanya Kyu, aku menggeleng..
“Baguslah”
“Kenapa??” Tanyaku penasaran
“Temani aku disini sampai member pulang” katanya enteng
“Mereka pulang sebentar lagi bukan? Kenapa aku harus menemanimu?” tanyaku, Kyu tersenyum entah apa makna senyumanya itu
“Siapa bilang?? Mereka pulang besok Pabo”

Kyuhyun's pov

“Siapa bilang?? Mereka pulang besok Pabo” kataku singkat, matanya membesar mendengar kalimat itu..
Haha..
Kau memang mudah sekali untuk ditipu Hyejin seperti kakakmu, sebenarnya apa yang ada di dalam kepalamu itu?? Tipuan sesederhana saja kau bisa dengan mudahnya tertipu.
“Kau bohong kan?”
Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulutmu, aku sudah yakin kau akan menanyakan hal itu. Aku tersenyum untuk menahan tawa yang sepertinya tak mampu kubendung lagi.. Menahan tawa memang hal paling sulit untuk kulakukan, dan kenapa kau harus menampakan wajah bodoh seperti itu Hyejin?? Kau membuatku semakin tak mampu menahan tawaku.
“Aa! Kau tersenyum... Kau bohong kan??” Katanya sembari menunjuk wajahku
“Dan kenapa kau mempercayainya?” Tanyaku balik
“Karena kukira kau tak berbohong” jawabnya polos.. Astaga.. Kenapa kau begitu polos?? Membuatku semakin senang bermain denganmu.
“Itu artinya kau bodoh”
“Mwo??”
“Haha”

Sudah pukul 12 siang, entah kemana mereka pergi.. Kenapa sampai jam segini mereka belum pulang ke dorm?? Sengajakah mereka meninggalkan aku sendirian di dorm?? Untunglah ada Hyejin sehingga aku tak begitu menderita karena kelaparan. Bosan.. Kini itu yang menyiksaku, tak ada satupun Hyung yang bisa kusiksa hari ini, dan memang belum kusiksa satupun. Mungkin bagi mereka berada di luar dorm tanpaku adalah surga, tapi bagiku itu adalah neraka.. Jika tau seperti ini lebih baik aku ikut dan menyamar.

“Aku mau pulang” ucap Hyejin memecah keheningan, aku segera mendongkakan kepalaku yang sedari tadi menunduk karena aku tengah membaca sebuah buku.
“Wae?” Tanyaku
“Aku ini mahasiswi.. Dan tugas sudah menungguku.. Arra? Jadi aku mau pulang” jawabnya, jangan kau kira aku melepaskanmu dan membuatku lebih bosan dengan begitu mudah Hyejin.
“Andwae” kataku singkat, matanya kembali membulat, aku melipat kedua tanganku di depan dada dan menatap manik matanya tajam
“Aku akan melakukan Street live hari ini, temani aku!” Perintahku
Pabo!
Tak bisakah kau pikirkan cara lain Kyu??
Hyejin menganggukan kepalanya, heh, dasar gadis bodoh.. Aku beranjak dari ruang tengah menuju kamarku untuk mengambil mantel dan Violin caseku.

Sebenarnya aku tak memiliki mood sama sekali untuk Street live, dan kenapa malah street live yang keluar dari mulutku?? Hyejin sudah menunggu di depan pintu apartemen, ada yang kurang dari penampilannya hari ini, aah.. Ya.. Kemanaa jepitan yang kemarin?

”Yak! Mana jepitan yang kemarin kuberikan?” Tanyaku, Dia menolehkan wajahnya lalu merogoh saku mantelnya dan mengacungkan jepitan itu di depan wajahku
“Ini” katanya singkat, aku menghela nafasku lalu menyambar jepitan itu dan memakainya di rambut hitamnya.
“Begini lebih bagus, aa.. Kau masih pakai gelang pemberian eomma kan?” Tanyaku, Hyejin menarik lengan mantelnya, menunjukkan sebuah gelang perak yang masih melilit pergelangan tangan kanannya.
“Aku tak pernah melepaskannya, ini sudah sama saja seperti titipan Cho Ahjumma” jelasnya, penjelasan yang sukses membuatku tersenyum. Chakkaman kenapa aku harus tersenyum?? Tak ada yang lucu..
“Sudahlah.. Kajja”

*********

“Oppa” suara cempreng Hyejin membuatku menghentikan permainan biolaku, dan berbalik untuk menatapnya yang tengah duduk di atas bangku besi.
”De?”
“Ano.. aku ingin mendengarmu menyanyi, bi..bisa kan?” Tanyanya sedikit ragu, lagi-lagi aku tersenyum dan berlagak seperti sedang mempertimbangkan permintaannya.
“Andwae!” Jawabku tegas
“Waeyo??” Tanyanya, bisa kulihat kini dia melipaat kedua tangannya di depan dada
“Tidak, selama kau tak memberikan judul lagu apa yang harus kunyanyikan” kataku lagi, senyuman bodoh itu mulai mengembang di wajahnya
“Palli.. Aku tak mau membuang waktuku hanya untuk menunggumu” ucapku lagi, yeoja ini masih saja mengetuk-ngetukan telunjuknya di depan dagu.
“Lagumu saja oppa, aku tak ada inspirasi” katanya, itukah hasil setelah 5 menit berfikir Jinnie?? Haha.. Sudah lama aku tak memanggilnya Jinnie..
“baiklah.. Yang mana?” Tanyaku lagi
“Lagu faforitmu di Super Junior apa? Atau lagu yang paling mudah kau nyanyikan?” Tanyanya balik, aku menghela nafasku lagi.. Banyak tanya!
“Kau maunya lagu apa??? Hampir semua lagu Super Junior bisa kunyanyikan, kau tinggal sebutkan judulnya”
“Kenapa hampir?” Tanyanya, kau membuatku emosi Hyejin, mulutmu itu selalu menanyakan berbagai pertanyaan hari ini..
“Sudahlah, sebutkan judulnya atau kumasukan daun kering ke mulutmu!” Ancamku
“Aiissshh... Ne, aku mau kau nyanyikan lagu Marry You”

Aku menolehkan wajahku, Marry You?? Haha.. Apa ada maksud lain dari permintaanya ini?

“Kenapa kau tertawa? Aku tak sedang melucu” protesnya
“Ne.. Kunyanyikan”

pyongseng gyothe issulge I do
(Untuk seumur hidupku aku akan berada disisimu, I do)
nol saranghanun gol I do
(Mencintaimu, I do)

nungwa bigawado akkyojumyonso I do
(Melindungimu meliwati salju dan hujan, I do)
norul jikhyojulge my love
(Menlindungimu, my love)

“Woow”
Pujian macam apa itu?? Tepukan tangannya begitu keras seperti berusaha membuatku tuli saat ini juga. Apa kau memintaku untuk membunuhmu Lee Hyejin?
“Tapi.. Kenapa pendek sekali??” Tanyanya dia menatapku dengan tatapan seolah berharap aku akan melanjutkan lagu itu. Heh, kau kira aku ini siapa? Kusodorkan tangan kosongku di depan wajahnya
“Apa maksudmu?” Tanyanya tak mengerti, aku tersenyum sebuah senyuman tipis
“Jika ingin lagunya lebih panjang, maka bayar dulu~ kau kira hidup ini gratis??” Ujarku, Hyejin menepis tangan kosongku ini dan memajukan bibirnya
“Kau menyebalkan!!” Sungutnya
“Jinjja??”

Hyejin's pov

“Jika ingin lagunya lebih panjang, maka bayar dulu~ kau kira hidup ini gratis??” Ujarnya dengan senyuman evil yang memuakkan itu. Ingin rasanya segera kutampar wajahnya itu, kutepis tangan kosongnya itu dan menatap ke arah lain
“Kau menyebalkan!!” Omelku
“Jinjja??” Katanya, heh, namja ini benar-benar ingin membuatku meledak!! Seharusnya sejak awal tak perlu kukatakan permintaan bodoh itu.. Tapi.. Aku merindukan suaranya saat bernyanyi.. apa perlu kurekam dia saat bernyanyi dan... Aaah..
“Kau gila?? Kenapa kau tersenyum?” Tanya Kyu, aku menatapnya dengan senyuman jail yang mengembang di wajahku, ooke.. Hyukkie-oppa pasti bisa membantuku untuk urusan ini.