-Past-
Kau mungkin tak menyadarinya.. sejak pertama kali
mataku bertemu dan menatap matamu ada sesuatu yang aneh melanda jiwaku,
semuanya berubah dan aku merasakan sebuah dejavu.
Mata itu sepertinya sudah biasa menatap hangat mataku, aku mengenalnya.. sangat mengenalnya, kau masa laluku.
Part 1: First Sight
“apa ini pertemuan pertama kita?”
Tik.. tik.. tik….
Rintikan
hujan perlahan mulai turun dari langit Seoul, angin yang berhembus
kencang membuat sebagian dedaunan pohon yang masih hijau terbang dan
menyapu jalanan. Pertanda badai memang sudah diumumkan melalui stasiun
televisi dalam acara ‘ramalan cuaca’nya. Dan siaran radio malam ini
kembali menyiarkan tentang perkembangan cuaca dan kondisi di Jeolla yg
kabarnya sudah diterjang badai terlebih dahulu. Sejak 1 minggu yang lalu
memang bukanlah awal musim panas yg baik oleh banyaknya badai.
Dalam
kegelapan malam, terdengar suara deru mesin motor yg sepertinya semakin
dekat lalu berhenti disebuah rumah berlantai dua, dari atas motor besar
itu turun seorang namja, dia mematikan mesin motornya dan suara
hembusan angin yg menembus pepohonan kembali mendominasi. Dia melepaskan
helmnya dan meletakkannya di atas jok lalu menengadahkan kepalanya.
Sejenak ia terdiam dan menatap langit hitam diatasnya, tetesan air hujan
turun dan membasahi pipinya. Ia tersenyum tipis lalu melangkah memasuki
rumahnya.
Telepon di rumahnya berdering pertanda ada
banyak voice mail yg tertinggal di dalamnya. Namja itu menekan sebuah
tombol dan mulai terdengar suara seorang wanita paruh baya di sebrang
sana.
“Jinyoung-ah ini eomma.. kau masih di kampus nak? Atau
sengaja tak ingin mengangkat telepon dari eomma? Eomma hanya ingin
mengingatkanmu untuk makan tepat waktu, jangan sampai kau sakit lagi
seperti waktu itu arrasseo? Hubungi eomma jika kau sudah sampai hm?”
….
“hyung!
Aku Chanshik.. kau tau baru saja seorang yeoja dengan wajah malaikat
datang dan terssenyum padaku, aaah… rasanya dunia berhenti untukku,
hyung! Kalau kau sudah pulang hubungi aku ok?”
Namja yg
bernama Jinyoung itu segera menekan tombol lain dan voice mail tak lagi
berbunyi, suasana rumah sangat hening lalu disusul oleh suara hujan
deras dari luar sana, Jinyoung menatap keluar jendela dengan tatapan
kosong terlihat motornya di depan sana yg tersirami hujan. Dalam hati ia
bersyukur itu artinya dia tak perlu repot-repot mencuci motornya esok
pagi.
Jinyoung melangkah dan mencari saklar lampu, sebenarnya ia
sudah terbiasa diam dalam gelap, namun berbeda dengan malam ini rasanya
ia takut dengan kegelapan ni.
Klik..
Ruangan kini terang
benerang, Jinyoung melirik kearah kulkasnya di dekat meja makan lalu
mendekatinya dan membuka, menatap isinya yg sebagian besar hanyalah left
lovers (makanan sisa) dan makanan instan. Jinyoung menutup pintu
kulkasnya dan beralih mengambil segelas air dari dapur. Di luar sana
hujan turun semakin deras dan memberikan kesan dingin.
Disisi
lain masih dari balik derasnya hujan itu seorang gadis berlarian di
pinggir jalan dan melindungi kepalanya dari serangan hujan menggunakan
tasnya meski itu sama sekali tidak membantu, hujan tetap berhasil
membuatnya basah kuyup dari kepala sampai ujung kakinya. namun ia tetap
berlari menembus badai itu, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah
bangunan besar yg diatasnya tertulis ‘International Hospital Cheumdong’
gadis berambut panjang itu menepuk-nepukkan jaketnya yg sudah basah
kuyup itu, tak lama dari pintu masuk keluar seorang wanita paruh baya
dengan jas warna putih polos, matanya membulat begitu melihat gadis itu.
“Ji-eun!” pekiknya, yg diteraki malah tersenyum tak bersalah.
---
“ada
apa kau kemari nak? Bukankah eomma sudah bilang sebaiknya kau diam saja
di apartement hm?” wanita tadi memberikan sehelai handuk warna biru
muda, Ji-eun menerimanya dengan seulas senyuman hangat.
“na
bogoshipo eomma-ya.. tak boleh kah anakmu yg cantik ini mengunjungi
eomma?” rajuknya, wanita itu tersenyum lalu mengacak rambut anak semata
wayangnya.
“eomma…. Kalau bisa aku ingin seperti dulu lagi melihat
eomma praktik, bolehkah?” Tanya Ji-eun tiba-tiba, ibunya terdiam
sejenak lalu mengembangkan seulas senyuman hangat diakhiri anggukan.
Kini keduanya sama-sama tersenyum senang.
---
Dulu
ketika Ji-eun masih duduk di kelas 3 SMP dia sering membantu ibunya
menjaga seorang pasien ‘istimewa’nya. Sebenarnya tidak terlalu istimewa,
pasien itu hanya salah satu korban kecelakaan bus pariwisata saat akan
mengunjungi Daegu. Keadaannya bisa dibilang sangat kritis namun justru
itulah yang membuatnya special di mata ibu Soojung, dia mampu melewati
masa kritisnya dalam 2 malam dengan pendarahan parah di kepalanya.
Menurutnya itu merupakan sebuah keajaiban dan menjadikannya special, dan
Ji-eun selalu datang dan menjenguk namja itu meski tak mengenalnya sama
sekali. Meskipun diam-diam dan sering kali berpura-pura menjadi salah
seorang suster jika ada kerabat namja itu datang.
---
Ji-eun’s pov
Aku
membuka folder bertuliskan tanggal 2 hari yang lalu dan munculah
sederet foto-foto seorang namja yang belakangan ini menjadi pembicaraan
orang kampus. Dia seniorku, Jung Jinyoung. Kenapa aku menyimpan banyak
fotonya? Jujur, aku sama sekali tidak tertarik dengan namja ini. Sama
sekali tidak. Tapi sahabatku iya, dia dan teman-teman 1 geng anehnya
itu—mereka menyebut diri mereka fans dan kumpulan mereka adalah
fandom—memaksaku mengumpulkan foto senior –yang katanya—bermulut pedas
ini. Karena dia tau aku memiliki hobi fotografi, dan ya jujur saja aku
suka sensasi ketika memotret namja ini diam-diam. Aku selalu ingat
bagaimana debaran jantungku dan ketika aku menahan nafasku dan menekan
tombol klik untuk mengambil fotonya. Aku suka dan selalu ingat bagaimana
rasanya.
Mendadak tubuhku membeku ketika jariku sibuk
memutar-mutar scroll ke bawah dan akhirnya menemukan sebuah foto yang
sengaja kusembunyikan di folder ini. Foto Jinyoung-ku yang pertama. Di
foto ini dia terlihat biasa saja, namun entah kenapa aku sangat menyukai
foto ini. Di foto ini terlihat dia tengah memarkirkan sepedanya di
parkiran sepeda.
Pagi itu aku sudah benar-benar
terlambat namun entah kenapa langkahku sejenak berhenti ketika melihat
namja yang Bo Eun maksud benar-benar berada di depan mataku. Dia Jung
Jinyoung itu.. tanganku meraih kamera yang tergantung di leherku dan
menaruhnya di depan mataku, tangan kiriku yang berada di dekat lensa
bergerak memutar lensa itu hingga menemukan fokusnya. Aku menahan
nafasku lalu..
Klik!
Jinyoung menengadahkan
kepalanya dan melihat kearahku. Dua mata dingin itu menatapku tajam, dia
melangkah mendekatiku, oke, seharusnya aku kabur disaat seperti ini
namun tidak. Aku tidak mengambil 1 langkah-pun untuk kabur darinya. Aku
masih diam mematung disana.
Tanpa kusadari Jinyoung sudah berdiri di depanku dan memegang kameraku, senyuman sarkatis itu hanya terekam di mataku.
“kau… stalker?” tanyanya, kepalaku terangkat sedikit.
“eh?” responku singkat
“stalker?” ulangnya
“mwo? Anieyo… seutalko anindeyo” jawabku seadaanya
“jeongmallo..
lalu kenapa ada fotoku di kameramu.. bahkan.. aah… ada lebih dari satu,
kau tak mungkin beralasan ‘tak sengaja memotretku’ ahgaesshi” aiiishh..
dia bahkan menemukan foto-foto dari 3 hari yang lalu saat Bo Eun
menemaniku memfotonya.
“aa..aaa… anieyo.. aku bisa jelas…”
Jinyoung
melirik jam tangannya sejenak matanya membulat dan berlari
meninggalkanku begitu saja. Aku masih mematung disana seperti orang
bodoh dan akhirnya aku kembali melihat kameraku, memastikan orang yang
bicara denganku tadi memang benar Jung Jinyoung. Astaga.. untunglah dia
tidak menghapus hasil tangkapan yang berharga – untuk Bo Eun—ini.
---
Lamunanku
terhenti saat ponselku bergetar di atas meja menandakan e-mail masuk
dari Bo Eun, dan… tebakanku tak sia-sia memang e-mail masuk dari Bo Eun
aku membukanya dan lag-lagi yeoja stress itu menagih foto dariku seperti
rentenir. Akhirnya besok aku setuju untuk memberikannya flashdiskku yg
berisi foto-foto Jinyoung itu padanya. Sebenarnya aku bisa saja menolak
untuk membantu Bo Eun, toh dia membayarku dengan harga murah.. lagipula,
dia tak menjanjikan untuk membantuku membuat tugas dan lain sebagainya,
karena memang kami berbeda jurusan.aku mengambil jurusan
fotografi—tentu saja, sedangkan Bo Eun mengambil jurusan music, kami
berkuliah di sebuah kampus seni yang bisa dibilang sangat terkenal di
Seoul. Salah satu kampus bergengsi lah.. namun menurutku nama kampus
bergengsi itu tak pantas, hampir semua mahasiswanya sama saja dengan di
universitas manapun.
Bahkan saat aku akan beranjak
tidur, aku kembali melirik kearah sebuah foto yang tergeletak di atas
meja kecil dekat kasurku, lewat terangnya lampu tidurku aku masih bisa
melihat jelas foto apa itu. Foto seorang namja yang kuambil sekitar 2
tahun yang lalu, namja yang tengah berdiri di balkon rumah sakit tempat
eomma bekerja, saat itu entah kenapa tanganku bergerak dengan sendirinya
dan memotretnya. Dan sampai sekarang aku masih penasaran siapa namja
itu sebenarnya.
---
Pintu kamar itu
terbuka perlahan dari baliknya berdiri seorang gadis SMA dengan seragam
lengkapnya, ditangannya terdapat 1 buket bunga lili putih segar, di
rumah sakit ini dia bukan akan menjenguk teman, kerabat, atau ibunya
yang tengah sakit. Melainkan seorang namja yang bahkan tak ia kenal sama
sekali. Salah satu pasien ibunya, namja yang ia namai..
“yeou—bahasa
korea dari fox/rubah—!! Aku datang lagi” sapanya bersemangat, namun
namja yang ia panggil yeou itu tak bereaksi sama sekali, ia masih diam
di tempat dengan kedua mata yang tertutup. Gadis itu membuka bungkusan
plastik dari buket yang ia bawa lalu menyusun bunga lili tadi kedalam
sebuah vas.
“aku akan mengisikan air dulu, ne?” katanya lalu beranjak menuju sebuah kamar mandi di ujung ruangan itu.
‘My Love, Sunshine, Can you promise me?
Can you always be by my side like this moment?’
Gadis
itu bersenandung riang.. namun sejenak ia diam membeku begitu mendengar
suara pintu yang terbuka diluar sana. Suara seorang wanita paruh baya
terdengar lagi seperti tengah berbincang panjang dengan ibunya. Gadis
itu masih terdiam di kamar mandi membeku dan memasang telinganya
mendengar setiap kata yang bisa didengar olehnya, ketika langit mulai
gelap dan tak terdengar suara lagi.. gadis itu perlahan keluar dari
kamar mandi dan mengawasi daerah di sekitarnya, diluar sangat gelap. Dia
menekan saklar lampu dan kini ruangan itu terisi cahaya terang. Dia
tersenyum lalu menghampiri namja tadi dan meletakan vas bunga yang sudah
terisi air dan bunga lili di dalamnya. Dia tersenyum sembari menatap
keluar jendela. Diluar sana sudah sangat gelap.
“kau
dengar tadi eomma-mu bilang dia merindukan suara tawamu Yeou.. dia
merindukanmu, aku memang belum pernah bertemu denganmu.. mendengar
suaramu.. hajiman, aku yakin kau adalah orang yang menyenangkan,
geuchi?” gadis itu terdiam sejenak, dia segera meraih tasnya dan
mengobrak-abrik isinya, dia menemukan secarik kertas yang dipenuhi
coretan dan agak lusuh. Dia tersenyum lalu meletakannya di atas kasur
Yeou.
“itu lagu buatanku.. mau dengar?....... tak menjawab? Baiklah.. kuanggap itu sebagai jawaban iya”
Through that soft touch
My heart is wrapped by the melody
My heart is beating
My love is heading for you
Through the beautiful stars
My sweet emotion
I can only show you my shy smile
This feeling is a first for me
My Love, Sunshine, Can you promise me?
Can you always be by my side like this moment?
Hold my hand tightly
Let's be together forever, My Love
----
KRRIIIIINNNNGGGGG!!!! KRRIIINNNGGGG!!! KRRR…
Aigoo..
aku merasa seperti seluruh tubuhku benar-benar tak bisa digerakan
sepenuhnya, aku membuka mataku perlahan melihat pada angka berapa jarum
jam weker-ku ini yang selalu setia membangunkanku setiap pagi menunjuk.
“AKU TERLAMBAT!!!”
“Ji-eun sarapan dulu” eomma berteriak dari dalam ruang makan saat aku akan memasang kedua sepatuku
“andwae eomma.. aku sudah sangat terlambat, aku bisa makan di kampus.. aku berangkat. Saranghae eomma”
Aku
bergegas berlari menuju halte bus, sekarang aku benar-benar menyesal
menolak anjuran eomma untuk membeli sepeda. Yah.. penyesalan memang
selalu datang terakhir, selain menyesal karena urusan sepeda sekarang
aku juga menyesal mengambil kuliah tambahan di pagi buta seperti ini.
Jangan tertawa.. jam 7.15 menurutku adalah pagi buta karena biasanya aku
berangkat ke kampus seitar pukul 9 setelah malam harinya bergadang
mengurusi Jung Jinyoung itu.
Beruntung aku tak tertinggal bis
disaat penting seperti ini, aku segera naik ke dalam dan benar dugaanku
tak mendapatkan tempat duduk, bis mulai berjalan dan aku terpaksa
berdiri dan mengatur nafasku. Tak lama kemudian bis kembali berhenti
pintu bis terbuka, kurasa seorang namja baru saja naik. Aku tak begitu
memperhatikan keadaan sekitarku, kini aku sibuk mengatur kameraku agar
tidak terbentur dengan buku dan perlengkapan lainnya, tas kameraku
hilang dan aku malas membeli yang baru. Baiklah itu tak penting. Selesai
mengatur tempat untuk kamera akupun memperhatikan pemandangan Seoul
dari kaca bis, meskipun aku melewati jalan ini setiap hari namun tetap
saja bagiku kota ini indah sekali.
Saat jam istirahat
aku berjanji pada Bo Eun untuk menyerahkan beberapa foto Jinyoung,
semalam aku benar-benar menyortir foto yang sudah kuperbaiki dan yang
belum. Aku lupa memisahkannya dan semalam aku bergadang hanya untuk
menyortir foto namja itu dari computer ke flashdisk ini.
Jam
istirahat yang seharusnya kuhabiskan di kafetaria hari ini menjadi
pengecualian saat yeoja yang selalu menguncir dua rambutnya – Bo eun
menyuruhku menyerahkan foto Jinyoung pada jam istirahat. Oke, aku
menunggunya disini sedangkan dia mungkin tengah melahap makan siangnya
di kafetaria bersama teman-teman fandom¬nya itu. Aku membaringkan
kepalaku diatas meja dan menghadap keluar jendela perpustakaan berharap
bisa mendapatkan sedikit hiburan visual diluar sana namun bukan itu yang
kudapatkan. Ternyata di sebelahku juga ada seorang namja memakai jaket
biru sedang tertidur, chakkaman…
Tiba-tiba seorang yeoja datang
dan menaruh sebuah keranjang penuh berisi coklat, keranjang yang
terlihat sangat mencolok dengan berbagai pita warna pink di
sekelilingnya itu benar-benar menyilaukan mataku. Aku bangkit dari
posisiku dan segera mengeluarkan novel dari dalam tasku lalu pura-pura
membacanya, ketika yeoja itu tengah tersenyum manis sambil menuliskan
sesuatu diatas kertas dengan warna yang senada dengan keranjang
coklatnya tadi.
“semoga kau suka oppa” bisiknya lalu melangkah pergi. Namja yang tertidur di sebelahku itu memang… Jinyoung.
“kau
sangat tenar rupanya… Bo eun memang luar biasa” bisikku pada diri
sendiri. Tiba-tiba Jinyoung terbangun dan menatap keranjang pink di
depannya dengan tatapan tak suka, dia beralih melihatku
“bukan aku.. aku baru saja tiba” kataku membantah apapun yang tengah dia pikirkan.
Jinyoung
melihat secarik kertas yang terletak di sebelah keranjang itu lalu
membacanya sebentar. Dia menaruh kertas itu kembali lalu melangkah pergi
meninggalkan perpustakaan tanpa membawa keranjang itu bersamanya.
“oppa!” panggilku, aku menyampirkan tasku, membawa keranjang itu dan mengejarnya keluar. Dia berbalik dan menatapku datar
“kau tak membawanya..?” tanyaku seraya menyodorkan keranjang tadi
“aku tak suka coklat, untukmu” katanya singkat
“oppa… setidaknya kau harus membawa ini bersamamu” kataku bersikeras, Jinyoung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“kenapa kau begitu berisik nona?” tanyanya
“eh?”
“untukmu”
sepertinya dia tak ingin menghabiskan waktunya denganku, dia kembali
berbalik dan melangkah pergi. Aku menatap keranjang berisi coklat ini
lekat-lekat, yeoja itu pasti menghabiskan banyak waktu untuk membuatnya,
dan namja itu tak menghargai usahanya sama sekali. Tepat saat aku
berniat mengejar Jinyoung, Bo eun meneleponku dan mengajakku bertemu di
kedai es krim depan kampus. Yah setidaknya aku bisa meminta Bo eun
mentraktir semangkuk es krim jika pertemuan disana. ^^
“MWOO? JINYOUNG”
Baiklah
kesalahan apa yang kau pelajari hari ini Ji-eun? Jangan menceritakan
semua pengalamanmu pada 3 yeoja temanmu yang sangat tergila-gila pada
namja bernama Jinyoung itu. Aku tersenyum kaku dan langsung menyodorkan
flash disk pada Bo eun, gadis berkuncir dua itu tersenyum senang lalu
memberikanku amplop yang berisi uang 15000 won. Aku tersenyum senang
lalu memasukan amplop itu kedalam tas.
“hajiman.. jinha Ji-eun kau
bertemu Jinyoung di perpustakaan tadi?” dia Eun bin salah satu teman Bo
eun yg sama tergila-gilanya pada Jinyoung. Dia selalu memakai kacamata
yg sebenarnya tidak minus dan bahkan bukan kacamata baca, itu hanya
kacamata gaya yg ketinggalan jaman.
“apa keranjang coklat yg tadi
kalian makan isinya itu bukanlah bukti yg cukup?” tanyaku, mereka
bertiga mengangguk, satu lagi yang disebelah kirinya Bo eun, dia
Shinyoung. Dia tak terlalu tergila-gila pada Jinyoung, namun dia yang
sering menolongku ketika aku nyaris ketauan lagi oleh Jinyoung, dia juga
yg sering meng-uplaod hasil ‘tangkapan’ku dan mendesain blog kami. Ah..
bukan kami.. aku tak termasuk di dalam kumpulan orang aneh ini.
Baiklah,
kebanyakan teman yeoja-ku termasuk kedalam kelompok aneh Fans Jung
Jinyoung itu, satu-satunya tempat dimana aku bisa tenang dan tak perlu
mendengar pujian-pujian dari namja itu memang disini.. di atap kampus,
aku sering menghabiskan soreku disini. Eomma bekerja pada sebuah rumah
sakit besar dan ternama, beliau biasa pulang diatas jam 11 malam dan aku
rasa percuma saja pulang lebih awal ke rumah. Tak ada yang menungguku
disana. Aku anak semata wayang, dan di kampus ini aku memiliki seorang
kakak sepupu yang mengambil jurusan seni. Shinwoo namanya. Hmm.. kurasa
aku sudah cukup banayk bercerita tentang diriku sendiri.. aku menghela
nafasku dan merasakan lembutnya angin di wajahku. Mataku melihat ke
sekeliling dan tak sengaja melihat Jinyoung di tangga menuju tempat yang
sama denganku, eh?? Mau apa dia kesini?
Aku diam di
tempat, berpura-pura tak menyadari keberadaannya, ketika dia sampai
diatas keliatannya dia kaget melihat ada manusia disini. Dia bermaksud
berbalik namun dia terdiam sejenak dan akhirnya mengambil tempat kosong
disampingku.
Deg..
Deg..
Deg..
Tuhaan.. rasanya
jantungku ingin berhenti berfungsi, tanganku gatal rasanya ingin segera
meraih kameraku dan memfotonya dari jarak sedekat ini,
“coklat yg tadi kau makan semua?” tiba-tiba dia berkata seperti itu, aku terdiam mencerna maksud kalimatnya dan..
“aaaah…
ani.. kuberikan pada temanku, aku tak begitu suka coklat” jawabku,
sedikit aneh dia amsih mengingat kejadian di 9 jam yang lalu itu.
“geurae… apa yang kau lakukan disini? Menunggu mata kuliah?” tanyanya, aku menggeleng
“anieyo, mencari ketenangan..” jawabku santai
“aku mengganggu?” sekilas aku melihatnya menoleh ke arahku
“ani..
kau tak mengganggu sama sekali” bantahku, perlahan mataku meliriknya
perlahan, Jinyoung menatap kedepan dengan seulas senyuman hangat.. entah
kenapa aku mengenalnya.. aku pernah melihatnya di satu tempat entah
dimana.
“maaf… boleh aku memotretmu?”
---
Author’s pov
Malam
kembali datang dan gadis itu masih duduk di samping kasur yeou,
temannya berbagi cerita dan pengalamannya di sekolah tadi. Dia tersenyum
dan menatap lembut wajah yeou-nya yang terkena snar bulan purnama malam
itu.
“yeou..kapan kau bangun?”
Ji-eun masih diam mematung
bahkan mungkin membeku melihat layar desktop komputernya, tak ada yang
special jika orang lain melihatnya disana hanya terdapat foto seorang
namja memakai kemeja warna biru muda tengah tersenyum dan menghadap ke
kamera. Namja itu Jinyoung. Entah apa yang ada di pikiran Ji-eun hingga
menjadikan foto itu sebagai wallpaper desktopnya.
“aku sepertinya
pernah melihat senyuman ini.. dimana ya..” ji-eun memiringkan wajahnya
sejenak, dia menggelengkan kepalanya dan mengganti wallpaper desktopnya
ke foto sebelumnya. Foto yg sama dengan bingkai di sebelah kasurnya,
ji-eun membuka aplikasi Word lalu melanjutkan tugasnya.
Dalam
sebuah pagi yang mendung kedua mata itu akhirnya terbuka secara
perlahan, dari pandangannya yang masih sangat kabur itu dia melirik
sebuah vas berisikan bunga lili putih yang aroma segarnya tertiup angin
dan memenuhi kamarnya.
“jadi yang semalam itu.. mimpiku… apa aku dalam kenyataan atau aku masih bermimpi?” hatinya berbisik
“hyuuung…
kau kenapa bengong terus seperti itu hah?” chanshik kembali membuka
mulutnya ketika jinyoung kembali membisu dan focus menatap layar
televisinya.
“kau mau aku bicara apalagi?” Tanya Jinyoung malas, tangannya meraih remot dan memindahkan channelnya lagi
“hyung, tak biasanya kau diam seperti ini… hyuuung~” namja itu menggunakan kartu asnya.
“aiiisshh.. berhenti melakukan awgyo bodoh itu” jinyoung melemparkan bantal ke wajah Chanshik
“aiish.. hyung tergoda kan? Hahahaha”
“berhenti tertawa itu tak lucu”
“bahkan wajah hyung memerah kyaahaahahaah”
“kau… aiiisss bocah ini…”
“mianhae hyung haha kau sangat lucu”
“geurae.. bagaimana yeoja yg kau sebut bidadari waktu itu? Secantik apa dia memangnya?”
“geu yeoja ga? Hmmm…. Molla hyung, mungkin saat kau melihatnya kau akan menganggapnya biasa saja”
“hmm.. dia first love-mu?”
“aiis anieyo”
Ketika
suara pintu bergeser kembali terdengar mata itu kembali menutup, masih
berpura-pura tertidur. Dari balik pintu itu muncul kepala seorang gadis
dengan seragam SMAnya yg sama seperti kemarin kini di tangannya dia
mengenggam sebuah kotak bekal berisi bekal makan siangnya. Dia perlahan
masuk ke dalam kamar itu.
“hmm.. kau berpura-pura
tertidur yeou-ah” katanya dengan senyuman nakal. “ireona!” perintahnya
dengan suara lantang, namun kedua mata itu masih tetap tertutup, gadis
itu mengeluarkan sebuah bulu angsa lalu menggerak-gerakkan bulu angsa
itu di dekat hidung namja yg dipanggilnya yeou itu.
“hatchi!”
“hahahahha~ sudah kuduga~ kau sudah sadar kan yeou-ah” katanya bangga
“yeou?”
namja itu bertanya “kau siapa? Kenapa memanggilku.. aku……” kalimat itu
terhenti ketika kedua mata namja itu akhirnya menatap wajah dari suara
yang selalu dia dengar beberapa hari yang lalu itu.
“ah, ya.. siapa namamu? Mianhae.. selama ini aku memanggilmu yeou..”
Namja itu tak menghiraukan segala yang dikatakan gadis itu, dia tenggelam dalam apa yang terdapat di depan matanya
“ani..
gwenchana.. kau boleh memanggilku yeou” katanya. Awalnya gadis itu
terlihat bingung namun dia kembali tersenyum lalu menawarkan bekal yang
dibawanya tadi
“oh ya siapa namamu? Maksudku aku harus memanggilmu siapa?”
“teman-temanku menanggilku Liji kau boleh memanggilku liji” sahut gadis itu
Paginya
entah kenapa itu pagi dimana pertama kalinya Jinyoung bangun sepagi dan
seawal itu dia melirik jam di dekat kasurnya, dia tersenyum dan
langsung beranjak ke kamar mandi.
Pagi ini, Ji-eun dan
kameranya kembali mengintai dan memotret semua kegiatan Jinyoung, hari
ini slah satu hari terlancar untuk mendapatkan banyak foto Jinyoung
tanpa ketauan sama sekali. Ji-eun tersenyum ketika melihat semua
hasilnya di kamera kesayangannya itu
“Ji-eun –ah apa yang membuatmu tersenyum sendiri seperti itu?”
“eh?”
Ji-eun mengangkat kepalanya dan tanpa ia sadari di depannya telah duduk
Shinwoo kakak sepupunya “oppa~ haha anieyo” ji-eun mematikan kameranya
“kau masih hobi memotret rupanya?” ujar Shinwoo
“hehe.. ne oppa… fotografi sudah seperti hidupku”
“arrasseo.. apa yang kau foto sampai tersenyum sendiri seperti itu? Oppa boleh tau?”
“anieyo..”
Ji-eun’s pov
Aku
cukup kaget ketika oppa sampai bertanya seperti itu padaku, dalam
lorong di kampus aku kembali melihat hasil fotoku tadi, dan entah kenapa
rasanya aku sangat senang bisa mendapatkan foto sebanyak ini dengan
sangat mudah, tak sengaja aku melihat sesuatu di UKS dan tak lama
kemudian salah satu temanku dari fakutas fotografi juga keluar dari
sana.
“sunwoo-ya, wae geurae?” tanyaku pada sunwoo –temanku itu yang baru saja keluar dari UKS
“aniya, gwenchana.. ohya, tadi Bo eun memintamu membawakannya obat maag”
“eh, maagnya kambuh?” tanyaku panic
“ani.. dia Cuma bilang begitu”
Aku
mengangguk tanda mengerti, sunwoo pergi meninggalkan tempat itu,
perlahan aku melangkah masuk ke dalam UKS, aku tersenyum dan member
salam pada penjaganya(?) dan menanyakan obat maag, dia masuk kedalam
ruangans empit berisi obat-obatan itu dan mataku tiba-tiba tertarik
melihat ke atas kasur di UKS, seorang namja berbaring disana, aku
mendekatinya dan saat aku melihat wajahnya otakku tiba-tiba berputar dan
deretan kejadian di masa lalu yang sudah lama tak pernah kuingat lagi
berputar di balik mataku seperti sebuah film. Semuanya terasa seperti
dejavu.
“ahgaessi”
“ne!”
aku
keluar dari UKS dengan obat maag di tanganku dan fikiran yang kembali
melayang ke masa lalu yang sudah aku lupakan dan buang jauh-jauh. Kenapa
semuanya benar-benar seperti dejavu?
“eomma.eomma… kapan eomma pulang?”
“ji-eun..
mianhae.. eomma sedang mengurus seorang pasien kecelakaan nak, kau
sudah liat beritanya di tivi kan? Eomma harus tinggal di rumah sakit
lebih lama.. shinwoo-oppa ada disana?”
“ada eomma..”
“jadi anak baik ya.. tinggal dengan shinwoo-oppa dulu, ne? saranghae”
“nadoo”
Ottheyo? ._.
Sepertinya
aku comeback bukan dengan FF yang ditunggu-tunggu .____. Mianhaeyo~ FF
yg lain masih dalam tahap di proses –meski pada stuck semua—yah mungkin
sambil menunggu FF yg lain aku akan post FF ini dulu .__. Coba-coba pake
alur maju-mundur dan jadinya sangat abstrak seperti ini hahaha ;w; yah,
castnya itu Lee Ji-eun (IU) sama Jinyoung ._. gatau kenapa rasanya
ingin pake cast ini aja, ada beberapa member B1A4 juga di dalemnya, dan
yah.. dengan di postnya FF ini berarti YMT di cancel == mianhae .__. Aku
ga ada ide apa-apa untuk FF itu, mungkin Silent reader akan bertebaran
disini jadi… yah biarlah~
Mohon RCLnya m(_ _)m
Dan tolong jangan di copas tanpa seizinku ;A;
Ppyong~!
-dean